Double W

Double W
Pasrah


__ADS_3

Marisha berjalan dengan putus asa ke ruangannya kembali, terlihat raut wajah tanpa semangat. Ya jelas ini adalah takdirku, aku harus terbiasa dengan semuanya, seharusnya aku tidak perlu untuk mengeluh karena memang beginilah aku menjalani hidupku. Marisha hanya berjalan dengan lamuna lamunannya itu.


Seseorang memanggilnya namun Marisha tetap berjalan seakan ia ingin mati saja.


Anak itu kenapa? Dasar anak itu melamun aja terus. "Risha... "Rose berlari menyusul Marisha tepat didepannya itu.


Menepuk pundakn Marisha, Marisha tidak kaget karena keputus asaannya itu, kemudian Marisha teriak dengan kencang.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa"


"Hey Risha apa apaan sih?, sudah gila ya?"Memegang tangan Risha dan khawatir melihat ekspresinya.


Mata Marisha memerah jika orang melihat Marisha sepeeti itu mungkin mereka berfikir untuk menyelakai dirinya sendiri.


Rose pun kaget dengan wajah letihnya Marisha.


"Haa Risha kamu kenapa, kumohon ceritalah! Kamu baik baik saja kan, ok ini jam makan siang, ayo kita keluar untuk makan, kita makan didepan aja ya! " Rose menarik tangan Risha dan menggandengnya agar Marisha berjalan mengikutinya.


"Untumg saja tidak ada orang saat kamu teriak tadi, Marisha kamu kenapa sih? " Rose tetap melewati zebracros dan pengendara melihat mereka berjalan menunggu lampu hijau, itu tandanya pejalan kaki boleh lewat.


Marisha tetap diam, bibirnya tambah cemberut, dan menahan tangis.


Tidak aku harus kuat, batin Marisha menyemangati,


"Iyaa aku harus semangat, ok marisha kamu harus semangat! "Menyemangati diri sendiri dengan nada yang besar, orang orang disekitarny melihat Marisha dan Rose dengan heran, namun hendak menahan tawa.


"Marisha kamu kenapa sih, kurasa kau benar benar gila, tapi baguslah kamu semangat"


Sambil memukul kepala Risha.


"Aduh sakit tahu"mengelu ngelus kepalanya itu.


Merekapun sampai di depan caffe tempatnya akan makan itu. Kemudian Rose menunjuk meja dekat kaca itu.


"Kita duduk disana aja ya! " menarik lengan Marisha?, Marisha hanya memgikutinya saja.


Merekapun duduk berhadapan, kemudian Rose memesan dan memanggil pelayan caffe.


Marisha menganglat tangan seraya memanggil.


"Iya mbak mau pesan apa?" pelayan itu bersiap siap untuk menulis pesan


"Marisha mau makan apa?"Marisha pun hanya melihat Rose dengam datar, samapai membuat Rose rakut.


"Hey kau jangam membuatku takut tahu! Aaa sudah lah kamu ikut aku aja ya, ok mas saya mau pesar pasta dua dan es jeruk dua"


"Ok mbak harap menunggu"


Pelayan itupun pergi meninggalkan mereka


"Sya jangan gini dong, gak seru tau"


Rose memegang tangan Marisha"Kamu gak percaya sama akuya, ia sih memang mungkin hanya aku yang anggap kamu sahabat" Rose memasang raut wajah kecewa sehingga Marisha tersenruh melihatnya.


"Bukan begitu Rose, aku hanya tidak mau membebani dan merepotkanmu"


"He apa dengan sikapmu seperti ini, tidak membebaniku?"


Ketusnya.


Marisha menghela nafas dan meminta maaf, ia berfikir sejenak untuk memberi tahu Rose, dan mungkin lebih baik jika dia memberi tahu Rose yang hampir mati penasaran.


"Ok aku akan kasi tahu kamu, tapi kamu jangan kaget! "


"Iya iya aku janji gak bakalan kaget"


"Begini Rose tadi aku dipanggil sama kak Mega terus disuruh ke ruangan Sekertaris yo" kalimatnya terpotong karena Rose kaget.


"Apaaa kamu dipanggil kesana? " Rose sangat kaget.


Apa kamu akan dapat masalah Mariaha?


"Rose jangan kaget, aku kan bilng tadi"


"Ok maaf maaf, ya kali aku gak kaget orang itu sekertaris Yo, lanjutin sekarang! "


"Apanya? "


"Ya penjelasan kamu tadi"


"Terus aku diajak ke ruangan Tuan Gllen"


"Apaaa kamu ke ruangannya, kamu benar benar dalam masalah, kenapa bisa kayak gini? "


"Aaa kamu tuh, ini nih yang aku gak suka, kamu jadi khawatir kan" Marisha memegang kepalanya dan menenggelamkan kepalanya dalam dalam.

__ADS_1


"Ya kali aku gak khawatir kan kamu sobat aku Sya, ok sekarang lanjut, kamh buat apa disana?, kamu gak diapa apain kan? " penasarannya memuncak.


Marisha pun menjelaskan kejadian tadi pagi, tanpa terputus akhirnya selesai juga ia menjelaskan kepada Rose.


Rose menghela nafas, melihat sahabatnya itu dalam masalah.


"Marisha aku pikir Tuan muda tahu kamu pintar bela diri, kan dia maha bisa untuk mengetahui sesuatu"


"Tapi kenapa? , Why Me? Kenapa harus aku?"


"Kan kamu sudah tumpahin kopi ke jaznya, jelas dong, diakan manusia angkuh gak bakalan kamu dilepasin, siapa suruh kamu ceroboh banget"


"Dasar kamu, aku pusong malah nambah pusing"


"Hehehehe maaf Sha" Rosepun memegang tangan Mariaha lalu minta maaf.


Pantas aja Marisha kayak orang mau mati, orang yang Marisha hadapi malaikat pencabut nyawa, kasihannya kamu Sya.


Pesanan pun datang, mereka makan tidak banyak bicara karena jam masuk bekerja hampir habis, mereka menyelesaikan makanannya lalu membayarnya.


Mereka kembali bekerja walau Mariaha tidak bersemangat seperti biasanya.


Depan perusahaan Gllen Group


Marisha menunggu taxi namun hingga sore hampir berganti malam ia tidak menemukan taxi kosong, memang sangat susah mendapatkan taxi jika sudah jam pulang kerja, karen semua taxi rata rata diisi oleh keryawan karyawan yang bekerja.


Kemudian Marisha melihat mobil mewah berhenti didepannya, Marisha heran, dan menundukkan wajahnya kearah dalam mobil, serasa ingin mencari tahu siapa pengendarany.


Pengawal keluar dan menghampiri Marisha, Mariaha heran bukan kepalang melihat pengawal itu kearahnya.


"Nona Marisha, silahkan ikut saya! "


Mengulurlan tangan seraya memberi jalan.


"Maaf anda siapaya?, dan kenapa saya harus ikut anda? " Marisha adalah orang yang tidak gampang percaya kepada orang asing.


"Saya dari Tuan muda untuk menjeput anda ke Istana Tuan muda, mungkin nona bisa berbicara pada tuan muda saat sudah menemuinya, silahkan ikuti saya nona! "


Marisha tetap tidak mau, apa lagi itu tentang Raga.


Mau apa lagi manusia kutub itu? Aaiis aku tidak habis fikir.


"Nona jika nona ingin aman maka ikutlah dengan saya"


Ada apa dengan wanita ini, mungkin dia bosan hidup, jika wanita ini ingin mengakhiri hidupnya pilihannya tepat untuk melawan tuan muda*.


"Maaf nona saya harap nona ikut dengan saya, saya juga tidak bermaksud mengancam nona, ini perintah tian muda" pengawal itu berlari kecil untuk membuka pintu seraya mempersilahkan Mariaha untuk masuk. Selesai marisha berfikir panjang ia pun mengalah dan masuk ke dalam mobil.


Bagus nona, lebih baik nona mengalah. Jika seperti ini tugas saya akan lebih muda.


Di dalam mobil mereka tidak pernah berbicara, mariaha pun tidak pernah bertanya, karena sudah jelas dia akan bertemu Raga.


Mobil memasuki kawasan megah dari ujung terlihat bangunan besar dan megah, apa itu rumah manusia kutub itu? Dia tinggal seorang diri dibangunan besar itu? Orang kaya memang gila.


Tidak ada bangunan lain selain bangunan megah itu, memang ini area khusu Tuan Gllen.


Karena keheranan dan penasaran menyelimuti fikiran Marisha, dia pun bertanya kepada pengawal itu.


"Maaf tuan apa itu rumah tuan Gllen?"


"Iya nona, sebut saja itu istana Tuan muda, dan nona tidak usah memanggil saya tuan, panggil saja Han! " jawabnya datar tanpa ekspresi.


"Apa tuan muda sendiri di istana itu? "


Pertanyaan keduapun muncul


"Ia nona, hanya beberapa pengurus rumah, kebun, pengawal, supir ada di dalam istana itu"jelasnya tetap datar.


Beberapa itu artinya berapa ya? Kan bangunan itu sangat besar pasti belasan, atau puluhan orang bekerja disana.


Namun Marisha tidak ingin bertanya lagi.


Mobil memasumemasuki gerbang utama dan memasuki kawasan istana.


Marisha memutar bola matanya seraya memperhatokan benda benda yang harganya memuncak itu, Waaaaaah....


"Nona silahkan ikuti saya! "


Marisha pun mengikuti langkahnya, Marisha melihat kesana kemari, Banginan ini benar benar tidak bisa disebut rumah, ini istana, bulannya manusia kutub tinggal di istana es ya, hahahahaha, ketusnya dalam hati.


Sesampainya di ruangan kedua, Raga pun berdiri didekat jendela kaca besar itu, sambil memegang gelas berisi wine denagn sifat anggun dan angkuhnya itu.


"Tuan" pengawal itu memanggil Raga kemudian keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua.


Waaah dia memang tampan, tinggi, keren, tapi saat orang mengetahui kelicikannya mungkin orang itu tidak akan kagum padanya, dasdasar manusia kutub.

__ADS_1


"Kamu sudah datang, ok tanpa basa basi alu akan bilang, mulai sekarang kamu tinggal disini, kamarmu ada di lantai tiga, oh iyya dan kamu sudah tidak perlu bekerja di Caffe itu dan kamu tidak perlu bekerja di perusahaanku sebagai marketing, kamu sudah menjadi pengawalku pribadiku sekarang" ketusnya dengan jelas.


"Apa tuan saya tknggal disini?" mariaha kaget bukan kepalang mendengar ucapan Raga.


"Ia" ketusnya singkat tanpa memikirkan pendapat Marisha.


"Maaf tuan, apa tuan tidak merasa tian sudah mengatur hidup saya, ok saya akan menjadi pengawal tuan, walau saya tidak tahu bagaimana bisa melindungi tian, tapi jika harus tinggal disini maaf tuan saya tidak bisa"


Mariaha menjelaskan dengan nada yang agak tinggi namun setelah melihat Raga meletakkan gelasnya itu ke atas meja lalu mendekati Marisha, diapun membisu dan tunduk menenggelamkan kepalanya.


"Maaf tuan saya lancang, tapi saya mohon izonkan saya kembali ke apertemen saya"


Marisha mengeluarkan nada yang sopan tapi bisa dibilang itu nada yang takut.


Ragapun tersenyum sinis melihat kekhawatiran di wajah Marsiha.


"Apertemen kamu itu adalah milikku, dan kamu tidak diisinkan untuk tinggal di sana"


Mariaha melototkan matanya seraya kaget, kurasa jika aku melawannya bukan hanya tempat tinggal yang meninggalkan aku tapi pekerjaan juga tidak biasa mendelatiku, ia manusia kutub ini sanagt kaya, mungkin bisa dibilng beberapa kota dinegara ini berada digenggamannya karena perusahaannya da dimana, aku hanya bisa pasrah dengan hidupku, aku tidak perlu melawan jika ingin tetap hidup, karena beginilah roda kehidupanku yang tidak pernah bergerak.


"Sudah berfikirnya? Sekarang kamu kekamarmu, oh iya ganti pakaianmu dan ikut aku ke acara makan malam di kota xxx"


Aaaa ikut ke acara makan malam?, oh iyya aku harus berada di dekatnya terus karena aku adalah pengawal pribadinya.


" Yo masuklah" sekertaris yo pun masuk ke dalam ruangan.


"Bawa dia ke kamarnya, oh iya kamu jangan berpakaian hitam putih ya, Yo aku serahkan padamu"


Raga pun membalikkan badannya kembali ke arah jendela yang besar itu.


Marisha dan Yo pun samp di kamar Marisha, Yo mempersilahkan Marisha masuk.


Marisha melihat kamar yang mungkin melebihi luas apertemennya itu, Marisha tidak percaya apa dia benar benar akan tinggal disini.


Yo pun menunju ke ruangan pakaian dan menunjukkan kapar mandi yang luasnya mungkin seperti dua kali lipat dati kamarnya itu. Di dalam kamar ini, ada ruang ganti baju, ruangan khusus pakaian, kamar mandi, sofa layaknya ruang tamu, dan lagi Marisha melihat balkon dan Marisha menuju ke balkon disusuli sekertaris Yo.


"Waaaaahhh keren, disini sangat indah"


Mata Marisha membelalak melihat pemandangan di arah bawa sana, melihat perkebunan teh, stoberi dan masih banyak lagi di bawah sana.


Yo pun tersenyum melihat ekspresi Marisha.


"Apa nona suka? "


"Iya pemandangannya sangat indah" Marisha tetap tersenyum


"Baguslah jika nona suka, saya ikut senang juga"


Tiba tiba Marisha berbalik badan melihat sekertaris Yo dengan tatapan sayup bertanya kepada Yo.


"Sekertaris Yo, apa saya akan mati? "


Yo kaget mendengar pertanyaan Marisha, Yo berfikir mungkin Marisha terlalu takut hingga berfikir begitu.


"Tidak nona, jika nona mendengar tuan muda, semua baik baik saja, nona termasuk manita yang beruntung bisa memasuki istana ini"


Apa wanita beruntung, pala lo beruntung, aku yang tersiksa ini kamu bilang beruntung.


"Nona bisa melihat lihat kamar nona, sebentar saya akan menemui nona untuk siap siap menemani tuan muda ke acara makan malam.


Tanpa berfikir dan berdebat Marisha pun tersenyum kepada Yo.


"Terima kasih sekertaris Yo, kurasa kamu juga sangat berat bekerja disini, jadi aku rasa aku tidak boleh menyusahkan pekerjaanmu"


Yo pun keluar dari kamar Marisha, Yo hanya tersenyum ketus mendengar perkataan Marisha.


Marisha kembali melihat lihat isi kamarnya, marisha membuka ruangan pakaian dan Marisha pun kaget bukan kepalang.


"Waaaaahhh inisih gila, jadi ini baju milik aku semua? "


Mariah melihat pakain hitam putih dibagian sisi sebelah kanan,


"Dasar ini adalah seragamku" Mariaha meliahat seragamnya itu dengan ketus.


Marisha pun melihat baju mandi dan berfikir untuk mandi terlebih dahulu.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2