
Mata Marisha terpelongo, tidak menyangka bahwa selama ini dia adalah Tuan Gllen.
"Maaf tuan saya lancang"
Marisha tetap menempelkan tangannya karena telah berani berkata seperti itu tadi.
"Hahahah, ternyata kamu cukup berani"
Raga turun dari duduknya dan pas berhadapan dekat dengan Marsiha, Marisha pun spontan mundur beberapa langkah, namun sebelum langkah selanjutnya selesai Raga menarik punggung Risha sehingga Risha berada dipelukan Raga, sontak Marisha langsung memegang lengan Raga dan bermaksud untuk melepaskan gennggamannya.
"Tuan muda, saya mohon lepaskan" Marisha tidak tunduk malah ia menatap tajam kepada Raga.
Raga menciptakan ekspresi kaget namun bercampur senyum karena melihat respon Marisha yang tidak pernah ia bayangkan, Raga mengira, Marisha akan tenang dan terpaku oleh pelukannya itu, karena perempuan semua memimpikan itu.
Sekertaris Yo tertawa kecil melihat Tuannya itu memberi hukuman kepada Marisha.
"Apa aku harus melepaskan mu? Setelah kau membuat masalah kepadaku?" Raga lebih mengencangkan eratan dipinggang Risha dan mereka pun bersitatap, Mariaha menjauhkan pandangannya walau badannya sangat dekat dengan tubuh Raga.
"Maaf Tuan tapi ini tidak sopan"
Raga tertawa kecil,
"Apa kau lihat Yo, dia bilang tidak sopan"
Sambil terus menatap mata Risha yang berusaha melepas pelukannya, namun Raga terbilang sangat tinggi denagn badan kekarnya itu.
Yo tidak berkata apa apa, dia hanya tunduk, karena tahu Raga hanya menggodanya saja.
"Apa kau bisa menggantinya?"tanya Raga kepada Risha yang masih berada digenggamannya.
Risha sangat kaget,
Aku kira dia sangat susah untuk disentuh, tapi ini sebaliknya, dasar kenapa orang kaya berlaku senonoh sih,
"Baik tuan, saya minta maaf, saya akan mengganti kemeja anda"
"Dengan apa?" Raga tetap menatapnya dengan sinis, Marisha tahu ini bukan godaan tapi ancaman.
Ya tuhan aku begitu dekat dengannya, dasar dia pikir aku nyaman apa, aaaaaa aku ingin menampolnya.
"Saya akan membeli yang baru Tuan"
Dengan penuh keyakinan Marisha berharap bisa lepas dari Raga.
"Aku tidak mau, saya mau dengan tububmu"
"Apaaaa, dasaar kau, kamu pikir saya apa, haa?" Sontak Marisha membesarkan suaranya karena kaget. Namun Raga tidak gaket dengan tingkah yang beraninya itu malahan dia lebih suka.
Sekertaris Yo sangat kaget namun dia tidak bisa bertindak karena perempuan itu masih digenggaman Raga.
Dasar wanita itu, berani beraninya dia membentak Tuan muda.
Raga tertawa melohat tingkah lakunya.
"Waw aku tidak salah memilih mu"
Raga semakin yakin, namun Marisha?
"Tuan saya mohon lepaskan tubuh saya, atau saya.. " kalimatnya terputus karena kalimat Raga.
"Atau... Atau... Atau apa?"Raga menantang Risha ternyata.
Marisha tahu orang yang berada didepannya ini sangat berbahaya namun tidak pernah berfikir akan seperti ini.
"Tuan saya mohon"Marisha tiba tiba melemah mungkin karena sudah tidak tahan dengan sikap Raga.
Raga melemahkan pegangannya, melihat Marisha yang hampir pingsan itu.
Yo sontak bergerak ingin bertindak tapi Raga menatap Yo, itu tandanya Yo hanya perlu berdiri disitu, tanpa berbuat apa apa.
Raga langsung menggendong Marisha ke sofa ruangannya.
Ia melihat wajah Marisha, Kasihan, dia mungkin lelah dengan hidupnya yang menyedihkan.
Entah kenap fikiran Raga sampai ke arah situ.
"Yo panggil Dr. Hanan kemari sekarang!"
Sambil duduk dipinggir sofa dan menyilangkan rambut Marisha agar tersangkut dibibir telinganya.
Yo pun mengabari Dr. Hanan bahwa ia dipanggil keruangan Tuan muda.
"Sudah Tuan" jelasnya kepada Raga
"Baik keluarlah dulu!"
"Baik Tuan"
"Yo" Raga memanggil Sekertaris itu kembali
"Iya tuan muda"Yo berbalik bada kemabali menghadap Raga.
__ADS_1
"Semuanya sudah kelar?"tanyanya kepada Yo, Yo pun memgerti akan pertanyaan Tuannya itu.
"Sudah Tuan, dia sudah menandatangani kerja sama itu, dan soal Tuan Aska, saya juga susah mengurusnya" jelasnya kepada Raga
"Baik, pergilah membeli pakaian untuk wanita ini" Yo pun mengikuti perintah Raga, tanpa banyak bertanya ia mengerti.
Setelah beberapa menit kemudian Dr. Hanan sudah sampai di ruangan Raga.
Tok.. Tok.. Tok...
"Masuk! " itu suara Raga
"Ada apa Raga? Kau sakit?"tanya Dr. Hanan
"Wah siapa wanita imut ini? Manisnyaaa" Dibuat kagetnya karena wanita yang asing ini berada di ruangan sang Raja. "Apakah ini wanita yang.. "Kalimatnya putus lagi lagi karena kalimat Raga.
"Aku memanggilmu bukan untuk mencari informasi, aku tidak sakit" jelasnya sambil mengalihkan pandangan Raga ke Marisha dari Hanan.
"Teruuusss?" Dr. Hanan meletakkan tas dokternya, sambil ikut berlutut didekat Raga
"Raga aku masih penasaran dengan wanita beruntung ini"sambil memegang dagunya untuk berfikir.
"Cepatlah periksa wanita ini, dan pergi" ketusnya menggila.
"Aku tidak akan periksa wanita ini sebelum kamu menjelaskan siapa dia"ancaman Dr. Hanan lalu tertawa kecil.
"Kau... Beraninya kau" menatap kejam ke arah Dr. Hanan.
"Baiklah baiklah maafkan aku, aku hanya bercanda, hahaha"kemudian Dr. Hanan memeriksa Marisha.
"Dia hanya lelah, mungkin karena banyak fikiran, sepertinya dia banyak masalah, wanita ini harus instirahat, mungkin 2 har cukup agar stamina ditubuhnya kembali lagi dengan normal" jelasnya yang sangat jelas.
"Baik terima kasih, sekarang keluarlah!" perintahnya ketus.
"Hey kau, lagi lagi begitu mengusirku saat tugasku selesai"menatap datar namun dengan ekpresi hampah.
"Sudahlah kan memang seperti itu tugasmu, lagian ini juga bukan urusanmu, cepatlah kembali dengan hati hati!" perintahnya mengakhiri percakapan.
"Baik baik aku akan pergi"
Dr. Hanan merapikan tasnya kembali, kemudian hilang dari balik pintu.
Pandangan Raga tertuju kepada Marisha.
Entah apa yang Raga pikirkan.
Wanita ini benar benar polos dan luguh, semua orang pasti tidak akan percaya jika dia ahli bela diri, bagaimana pun aku harus mengetes kemapuannya.
"Aduuuhh"Marisha sadar dan memegang kepalanya, dengan spontan Raga tiba tiba berdiri dari berlututnya.
Lagi lagi dia, dia dia dan dia,, aaaiiisssh kenapa aku ini, apakah novelku menjadi kenyataan, seorang wanita susah bertemu dengan pria tampan dan hidup bahagia, ahahahah hayalan, walau itu adalah salah satu trikku untuk hidul lebih bahagia, aku menulis novel dan berkhayal aku hidup seperti itu, begitulah aku menyemangati hidupku sendiri, seakan akan aku mengubah takdirku.
Tiba tiba lamunan dan fikiran Marisha pudar karena kalimat Raga.
"Minumlah!" kata Raga sambil memberi segelas air putih
Marisha tidak mengatakan apa apa, dia hanya meminumnya"makasih" hanya itu kalimat terukir dari mulutnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu, saya akan membelikan kemeja yang sama persis dengan kemeja tuan" Marisha berdiri hendak meninggalkan ruangan namun kepalanya berat entah ada apa dengan dia.
Aduh aku kenapa, aaa dramatis banget, kepalaku terasa pusing, Marisha kembali berfikir untuk kedua kalinya, apakah karya novelku jadi kenyataan?, aaa tidak jangan mengada ngada Sha, Marisha mengingatkan sendiri dirinya.
"Jangan sok kuat kamu! Aku beri izin kamu untuk beristirahat sejenak diruangan ku"
Raga hanya duduk dengan anggun disofanya itu. "Lagian kamu bisa mengganti pakainku itu, itu namanya bukan kemeja tas jaz, apa kamu tidak tahu? Dasar" ketus sambil tertawa semiring.
Memang jaz itu sangat mahal, aku pasti tidak bisa menggantinya, walaupun bisa, aku mungkin memerlukan beberapa bulan untuk ganjiku selama ini.
"Ia saya tahu itu jaz"
Raga hanya tertawa melihat pembelaan untuk harga diri yang dilakukan oleh Marisha.
Sekertaris Yo pun datang dan mengetuk pintu ruangan.
"Masuk! " Raga tahu itu adalah Yo tapi dia tetap melihat lihat dan fokus pada yang ia pegang.
"Tuan saya sudah menyiapkannya"
Siap kan apa? Jangan jangan, tidak aku harus fokus
Melihat Raga hanya dia Yo mengerti Maksudnya, Mariaha terpaku melihat kepekaan yang dimiliki Sekertaris Yo itu.
Dasar manusia kutub, cercanya Mariaha dalam hati.
"Masuklah!"perintah Yo, dan beberapa orang masuk ke ruangan sambil memegang pakaian serbah hitam itu.
Marisha hanya terpaku melihat pakain serbah hitam itu, hanya sedikit berwarna putih tulang.
Pakaian untuk siapa itu?
"Coba kau kenakan itu! Aku ingin melihatmu menggunakn seragam itu" ketusnya
__ADS_1
"Kenapa saya harus pakai ini? " Jelas Marisha heran untuk apa dia memakai seragam itu.
"Baiklah mungkin terlalu cepat, dan pasti kamu kaget"
"Jelas saya kaget"ketus nya sampai memotong pembicaraan Raga.
"Kau... Sudah aku akan melupakan kejadian ini" ujarnya ketus.
Apa tuan muda melupakan tentang kejadian ini, kurasa tuan muda mempunyai rencana lain untuk wanita gila ini.
Sambil menatap tajam ke arah Marisha.
Apa lu lihat lihat, awas lu naksir gw entar, ketus Marisha membalas tatapan Sekertaris Yo dengan berani.
Serasa mereka berdua berperang di alam lain.
"Kamu akan menjadi pengawal saya"perintahnya ketus.
"Siapa? Siapa yang akan jadi pengawalmu? Aku, saya... Maaf saya tidak mau"dengan ketus iya menolak perintah Sang Raja.
Kau benar benar berani nona, sebenarnya kau memiliki berapa nyawa? Fikir Yo tentang Marisha.
"Kau lumayan menarik juga ya, dengarya nona pengganggu jika kau tidak mau mendengar perkataanku kau harus membayar kerugian waktu itu sekarang juga, totalnya menjadi 45 jt, karena membantahku total nya menjadi 50 jt. Bayarlah cepat, lalu pergi dari sini jangan berharap kau hidup dengan tentram"ancamannya yang membuat Mariaha termangu,
Aaaa apa 50jt? Ya kali aku mempunyai uang sebanyak itu sekarang, dan lagi tambah 5 jt untuk melawan perintahnya.
Memang bagi Arga 50 jt sangat lah kecil, namun dimata Marisha?
"Tuan saya tidak punya ua.. "
Kalimatnya terpotong lagi lagi karena kalimat Raga.
"Kenapa langsung saja, tidak punya uang? Makanya jangan sok belagu"
Marisha sangat membenci pria didepannya ini, rasanya dia ingin menyekiknya dengan keras.
Marisha mulai berfikir dengan jerni dan berbicara secara perlahan dan sopan.
"Maaf kan saya tuan muda Gllen, saya salah, kalau boleh saya tahu kenapa saya harus menjadi pengawal pribadi tuan, saya tidak tahu apa apa"
"Dasar, kamu bertingkah sopan jika seseorang sudah berkata kasar?" ketusnya Raja dingin itu.
Kalau kamu tahu itu kasar kenapa malah melontarkan pada wanita, dasar manusia kutub.
"Maafkan saya tuan, saya salah"
"Aku memilihmu karena ada alasannya, tidak usah banyak bertanya pakai pakaian itu cepat aku ingin melihatnya" perintah Raga ketus
Dasar apa yang kamu mau lihat
"Tapi saya ti... "
"Hey aku menyuruhmu ganti pakaian bukan mengoceh sana sini" ketusnya dan membentak Marisha.
"Baik tuan"
Marisha pun masuk ke kamar mandi ruangan itu, dan Marisha meliaht menggerakkan bola matanya"waaaahh keren ini kamar mandi tapi seluar kamarku di rumah, sudahlah aku harus buru buru ganti pakaian nanti manusia kutub itu mengamuk"
Di ruang tamu ruangan Raga, Raga menyuruh Yo untuk menyiapkan mobil.
"Yo siapkan mobil, siap kamar untuknya" suara Raga datar
"Baik tuan" Yo dan orang itu pun keluar dari ruangnya.
Lama menunggu akhirnya Mariaha keluar dari kamar mandi, lekukan tubuh Marisha terlihat jelas karena ketatnya pakain itu, namun itu membuat Raga tidak bergeming dari Risha, walau itu hanya pakaian biasa baju pengawal pribadi, namun terlihat berbeda terhadap Marisha
"Biasah saja" ketus Raga
Siapa juga yang menyuruhmu untuk mengomentari baik buruknya? Dasar manusia kutub, Aiis kurasa hidupku akan lebih sengsara mulai sekarang, Risha apa kau tidak akan pernah bahagia?
"Tuan apa aku akan dapat masalah?"
Pertanyaan polosnya pun keluar darj mulutnya.
"Apa maksudmu akan dapat masalah, apa kau merasa terancam jika bersama ku?"Raga emosi dengan pertanyaan Marisha.
"Yaa, karena kau memiliki banyak musuh, dan sekarang kau memilih saya menjadi pengawal pribadimu, lihatlah aku, aku yang imut ini, kecil dan luguh ini, mana bisa aku menjagamu? Ini tidak masuk akal tuan"
Jelasnya dengan gaya yang memukau, memuji dirinya imut membuat Raga tertawa kecut tidak percaya dengan kepedeannya.
"Kau akan mati, ya mati tapi digenggamanku"senyum sinis pun muncul"aku bilang kau mengganti rugi dengan tubuhmukan?, jadi kau harus menjagaku dengan tubuhmu itu! " dengan angkuhnya Raga berkata tanpa melihat Marisha yang semakin tidak mengerti.
Marisha terpelogi dengan kalimat Raga barusan, "Tuan muda... " Marisha tidak bisa mengatakan apa apa lagi, ia hanya bisa memerima karena ini termasuk ganti rugi untuk jaznya walau menurutnya itu tidak masuk akal.
Apa aku sudah putus asa dengan hidupku?, jika aku berada digennggaman manusia kutib ini, kurasa aku tidak akan hidup lebih nyaman tapi lebih parah, sudah kuduga manusia kutub ini tidak akan melepaskanku dengan muda.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung