
*Alam nyata
"Haaaaa.
Teriak Wulan dari balik pintu kamar mandi.
Nafas Wulan sangat berat, ia kaget melihat Marisha tiba tiba langsung ada didepan komputernya.
"Haduuuh Sha, aku kira siapa, ternyata cuman kamu, oiya kamu dari alam mimpi ya? Pantes baru pagi pagi udah ngilang aja.
Wulan heran melihat Marisha yang hanya diam saja, tidak mengubris apapun yang ia bilang.
"Kamu kenapa Sha?
Wulanpun mendekati Marisha, Marisha seperti menahan tangisnya, ini pertama kalinya Wulan melihat Marisha sangat sedih, entah apa yang Wulan pikirkan, tapi ia sangat yakin Marisha sedang berada diambang keterpurukan.
Wulan sangat kaget melihat sahabatnya itu, Marisha sangat berantakan, wajahnya yang kusut, matanya yang memerah. Wulanpun langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kamu kenapa Sha?
Tanya Wulan dengan sangat khawatir.
Marisha tidak menjawab, ia hanya membalas pekukan Wulan dengan sangat erat.
"Sha, kalau kamu mau nangis, nangis aja! Jangan dipendem!
Sekilas tangis Marisha pecah, ia sesegukan, matanya sangat bengkak, Wulan tidak tahu harus berbuat apa, karena melihat Marisha seperti itu, Wulan hanya bisa menenangkannya saja.
Malam itu sangat panjang, Marisha yang susah untuk menutup matanya, hanya air mata yang terus mengalir tanpa absen malam itu.
Sudah pukul 3 pagi, tapi Marisha tak kunjung tidur.
Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau baik baik saja?, apa kau merindukanku seperti aku merindukanmu saat ini?.
Beberapa menit kemudian mata Marishapun tertutup secara perlahan, dan akhirnya Marishapun tertidur.
Sinar matahari yang cerah, menyambut pagi mereka berdua.
__ADS_1
Wulan yang saat itu masih melihat Marisha tertidur dengan mata sembapnya.
Kasihan kamu Sha, dari dulu hanya masalah dan masalah yang terus menghampirimu, dan sekarang apa lagi? Semuanya bertambah rumit, aku belum mengerti dengan situasimu saat ini, apa kamu diceraikan oleh suamimu disana, atau bagaiman? Karena aku melihat kau sangat berantakan.
Tapi tenang aja Sha, aku akan berada disisimu untuk selamanya.
Setelah mandi Wulan membangunkan Marisha untuk sarapan, karena dari semalam Marisha belum memakan apapun.
"Sha.. Sha.., yu bangun, mandi lalu sarapan!
Perlahan Marishapun membuka matanya, ia melihat wajah sahabatnya itu sepertinya sedang khawatir kepadanya, Marisha merasa bersalah atas tindakannya.
"Yu bangun, kok malah liatin aku kayak gitu, emang aku punya utang?
Senyum Wulan kepada Marisha, seraya hendak menghiburnya. Marishapun tersenyum tipis melihat usaha sahabatnya itu.
Marishapun bangun, mandi lalu sarapan. Saat itu ia patuh dan tidak melawan perintah Wulan, karena Marisha merasa ia sudah sangat merepotkan.
Setelah sarapan, Wulanpun kemabli bertanya.
Marisha hanya terdiam sambil merunduk, Wulan mengerti jika Marisha belum ingin membahasnya sekarang. Marisha yang melihat ekspresi sahabatnya itu langsung simpatik, dan kasihan melihat kekhawatiran Wulan. Marisha pun menceritakan semuanya sambil menangis, Wulan saat sedih dengan semua yang Marisha katakan, Wulan mengira, Marisha akan menemukan ending cerita yang bahagia untuk mengubah hidul Marisha, tapi apalah daya, semuanya berbanding terbalik dengan keinginan Wulan.
Andai saja, semua lelucon ini tidak terjadi, pasti Marisha tidak akan sesedih ini.
Terlihat dari raut wajah Wulan yang sangat marah, tapi ia bingung harus marah kesiapa.
"Jadi semuanya sudah berakhir Sha?
Marisha hanya mengangguk.
"Jadi kamu gak akan ngilang lagi?
Marisha kembali mengangguk.
Wulan tersenyum legah, ia berfikir semuanya sudah berakhir, dan mereka berdua akan membuka lembaran baru.
"Kalau gitu, kita akan buka lembaran baru Sha!
__ADS_1
"Apa aku bisa? Saat sumua ini sudah terjadi. Saat aku sangat mencintai suamiku, saat aku sudah nyaman bersama mereka?, saat itu, aku berfikir, aku bisa merasakan kebahagiaan, tapi ternyata tidak.
Wulan sangat sedih melihat sahabatnya itu, ia memeluk Marisha dan menenangkannya.
"Sayang, anggap saja itu adalah sebuah mimpimu yang terindah, kita akan membuka lembaran baru, kita tidak bisa berbuat apa apakan? Dan lagi, kisah cerita kita masig panjang, belum berakhir kok.
Wulanpun tersenyum menyakinkan sahabatnya itu.
Benar juga kata Wulan, mereka semua adalah Fantasi, mereka semua hanya mimpi. Tapi bagiku, mereka adalah sosok orang yang aku sayangi hingga akhir hayatku. Entah bagaimana kisahku selanjutnya. Demi Wulan aku harus kuat, dan menjadi wanita yang lebih ceria dari sebelumnyya.
Marishapun mengangguk dan tersenyum kepada Wulan, Wulan yang melihat ekspresi Marishapu ikut tersenyum.
"Apa itu cincin pernikahanmu Sha?
Marisha langsung melihat kearah jari manisnya, ia melihat sebuah cincin yang pernah diberikan oleh Raga, sewaktu ia bersama. Marisha hanya mengangguk kepada Wulan, dan hendak menahan tangisnya.
Mungkin cincin ini adalah lambang kisah kita, mungkin cincin ini adalag kenanganmu yang paling termanis, terima kasih telah menyayangiku dengan sangat tulus, kau adalah cinta pertamaku. Aku sangat mencintaimu, aku berharap aku bisa bertemu denganmu walau itu hanya mimpi belaka.
Saat kejadian itu, Marisha tidak pernah bermimpi tentang alam itu, apa lagi kembali ke alam itu.
Semuanya benar benar kembali pada tempatnya.
Seperti tidak terjadi apa apa.
Sudah 2 tahun berlalu, namun Marisha masih saja mengingat dan merindukan suaminya itu, tapi ia berusaha untuk tidak berharap karena menurut Marisha semua itu hanya kemustahilan.
Saat ini Marisha dan Wulan sudah menjadi dokter disalah satu rumah sakit kota C.
Karena kegigihan dan kecerdasannya, mereka berdua sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1