Double W

Double W
Kau tidak sendiri


__ADS_3

"Apa kau tidak apa apa?" tanya Raga sambil memegang stir mobil.


"Tidak apa apa"ketusnya hanya melihat kearah kaca mobil.


Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang, Raga menyetir dan Marisha duduk disamping Raga, karena kejadian itu Yo tidak ikut, dia mengurus wanita itu.


"Bagaimana tidak, wajahmu memerah karena tamparan"


"Sudahlah tidak usah dibahas"ketusnya sambil memejamkan matanya seraya menahan perihnya tamparan waniya itu.


Raga yang melihat perlakuannya pun merasa emosi.


"Aku sudah bicara dengan baik padamu, kenapa kau seperti itu, dan lagi aku ini atasanmu" Raga menaikkan nada suaranya sambil mempercepat laju mobil, Marisha yang kaget dengan nada suara Ragapun menghela nafas dan membuka mata lalu memperbaiki duduknya melihat kearah depan.


"Aku baik baik saja, tidak usah dibahas lagi, aku sudah terbiasa dengan ini semua"Raga yang melihat Marisha dengan mata yang berkaca kaca bertanya kembali


"Bagaimana tidak kau tadi ditampar itu sangat buruk, kenapa kamu hanya diam saja? Dan terbiasa? Terbiasa apa? "


"Tuan muda aku sudah terbiasa hidup seperti ini, aku selalu sial dan dapat masalah, aku tidak bersahabat dengan kebahagiaan, sahabatku itu adalah kesialan, kesedihan, tidak ada yang peduli dengan ku, aku sendiri tuan SENDIRII, sudahlah aku tidak apa apa, itu hanya tamparan aku sudah terbiasa dengan itu"


Marisha kembali menutup matanya lalu Raga tidak sengaja melihat air mata menetes mengenai wajah kecilnya itu, Raga menepikan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan.


Raga menatap Marisha dengan simpati, sedangkan Marisha tidak mengubris Raga yang sedang menghentikan mobil.


"Kamu tidak sendirian, aku bersamamu"


Marisha kaget dengan ucapan Raga lalu melihat Raga dengan mata berkaca kaca. Kemudian Raga melanjutkan kalimatnya


"Aku peduli padamu, maka dari itu kau ada disini, jadi berhentilah berfikir sendiri! "Raga kembali melajukan mobilnya, Marisha dibuat heran dengan perkataannya itu.


Ada apa dengan manusia kutub ini?


Marisha tidak mengubris kalimat Raga.


*Di rumah


"Marisha naik sebentar kesini!"


Dia memanggil namaku? Aku rasa dia benar benar sakit.


Tok.. Tok.. Tok.. Marisha mengetuk pintuk kamar Raga


"Masuklah"


"Ada apa tuan?"


"Kemarilah!"


ada apa lagi sih?


Marisha pun mendekati Raga yang duduk dibibir ranjang, Marisha hanya berdiri didekat Raga.


"Duduklah!"Marisha semakin heran dengan sikapnya. Ada apa dengan dia, kenapa dia lembut, apa dia naksir kepadaku? Hahahah tidak mungkin.


Marisha hanya berdiri saja, Raga yang geram dengan sikapnya yang keras kepala itupun menarik lengan Marisha untuk duduk disampingnya.


"Duduklah, jangan keras kepala"kemudian Raga membuka kotak p3k. Marisha tahu bahwa Raga ingin mengobatinya.


"Maaf tuan, biar saya sendiri saja"


"Jangan keras kepala! Jangan melawan! Tutup mulutmu itu!"ketus Raga mengakhiri dialog mereka.


Raga mengambil handuk dan air hangat untuk mengompres pipi Marisha karena tamparan tadi, lalu mengolesi krim anti nyeri.


"Terima kasih tuan"


Marisha kembali berdiri dan hendak pergi lalu Raga menarik lengan Marisha yang membuatnya berhenti melangakah. Marisha berbalik badan


"Ada pa tuan?"

__ADS_1


"Siapa wanita itu?"


"Bukan urusan tuan"


"Hey kau, kurasa kau tidaK sadar berada dan berhadapan dengan siapa sekarang"ketus Raga


"Maaf tuan, saya akan keluar"


"Tidak jawab dulu pertanyaanku baru kau nisa keluar!"


Marisha mengehela nafas lalu memberi tahu namanya.


"Claudia"ketusnya singkat


"Apa hubunganmu dengan dia?"


"Aku sudah menjawab pertanyaan tuan tadi, apa aku boleh keluar?"


"Tidak, kau harus menjawab semua pertanyaanku jika aku bertanya kepadamu, iti termasuk tugasmu"


Dasar manusia kutub, tadinya bilang cuman siapa, sekarang apa lagi.


Raga melihat ekspresi Marishapun tersenyum ketus.


Kau tidak bisa kabur dariku makhluk kecil.


"Dia mantan dari mantanku" jawab Marisha pendek


"Apa?"


"Ia tuan, waktu SMA, saat istirahat aku melihat dia berciuman dengan pacarku, sontak semuanya menjadi drama, sudah kukatakan tidak usah khawatir karena aku sudah terbiasa dengan kesialan, permisi tuan saya harus mempersiapkan dokument tuan untuk rapat besok"


Marisha meninggalkan kamar Raga dengan tertunduk. Raga yang melihat itu tidak bisa berkata apa apa.


Kenapa aku menaruh simpati untuk wanita itu? Kenapa juga aku memikirkan masalahnya? Sudah sudah aku akan tidur.


Di pagi hari Raga turun dan sarapan, ia tidak melihat Marisha.


Tanya Raga kepada kepala koki dirumahnya


"Maaf tuan saya tidak melihatnya"


Raga mengambil ponsel dari sakunya untuk menelfon Marisha.


Terlfon tersambung


"Kau dimana?"ketus Raga


Apaan sih, gak pake teriak juga kali. Mariaha spontan langsung menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan Raga.


"Maaf tuan, saya keluar untuk lari pagi, saya akan pulang sekarang tuan"


"Cepat kembali, 5 menit kau belum kemabli, mati kau"ancaman Raga dan langsung mematikan telfonnya, telfon pun terputus.


"Apaan lagi pake marah segala, orang aku cuman olahraga pagi, lagian aku dikawasan rumahnya saja" cetus Marisha sambil lari dengan cepat.


Marisha sampai dipintu utama, nafasnya tak beraturan, pengawal pun dibuat heran karena tingkah Marisha.


"Nona apa nona tidak apa apa? Siapa yang mengejar nona?" tanyanya khawatir


Apa lagini nona nona, emang nama aku nona?,


"Tidak saya baik baik saja, dan namaku bukan nona, namaku Marisha!" Marisha berlari kembali untuk menemui Raga, namun Raga tak terlihat, bagaimana tidak Marisha tidak mengetahui keberadaan Raga dirumah besar ini, Marisha memalinglan wajak nya kekiri kekanan namun tidak menemukan Raga.


Marisha melihat 1 ART kemudian bertanya.


"Permisi, apa anda melihat Tuan muda?"


"Tuan muda ada dimeja makan nona"

__ADS_1


"Kalau boleh tahu meja makan ada dimana ya, soalnya bangunan ini sangat luas"


"Mari saya antar nona"


Marisha pun mengikuti langkahnya kemudian ia melihat punggung Raga yang lebar itu yang sedang duduk dimeja makan


"Kau sudah sampai, kau terlambat 2 detik, sekarang kau harus dihukum"


"Hey aku terlambat hanya dua detik, apa itu pantas dihukum? Lagian tadi saya hanya berolahraga saja"Marisha memasang ekspresi kesal kepada Raga, Raga yang melihat ekspresi Marishapun langsung berdiri menatap Marisha agak sedikit tertunduk karena Marisha sangat pendek, Marisha melihat kearah mata Raga yang geram itu, Marisha pun tidak mau kalah, mereka beradu tatap yang tajam, Raga semakin heran dengan sikap Marisha, berani beraninya dia mematapku seperti itu. Semakin lama Raga mendekatkan wajahnya ke wajah Marisha yang menatapnya itu, ada apa dengan manusia kutub ini, Marisha sontak langsung mundur dan menyelamatkan dirinya.


"Hey kau... Jangan dekat dekat denganku, kau tahu itu"Kepala koki kaget dibuatnya dengan ucapan Marisha yang lancang itu.


Ada apa dengan mereka berdua, dan lagi wanita itu mempenyunyai berapa nyawa?


Raga yang heran dengan ucapan Marisha barusan.


"Kenapa jika aku dekat dekat denganmu? Apa yang akan terjadi jika aku mendekatimu?"Raga maju secara perlahan dan Marisha pun mundu sekit demi sedikit, kepala koki melihat mereka berduapun tertawa dalam hati. Ini pertama kalinya aku melihat tuan muda seperti anak anak, hahahaha


Marisha merasa dirinya terancam, kemudian ia mendorong Raga dan berlari menuju kamarnya.


Ragapun tersenyum lirih melihat tingkah Marisha.


Raga menyusul Marisha kekamarnya langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu. Raga mendapati Marisha yang sedang duduk didepan meja riasnya. Marisha kaget melihat Raga menyusulnya kekamar, spontan ia berdiri dan berjaga jaga.


"Kenapa? Kau takut?"Raga tersenyum ketus melihat ekspresi Marisha.


"Tidak, kenapa kau masuk dikamarku? Aku akan siap siap untuk kekantor, lagian apa anda tidak kekantor?"


"Kau tidak usah kekanto! Kau jarus temani aku dirumah, dan kau harus ingat ini adalah rumahmu, jadi terserah aku mau masuk atau tidak"


"Kenapa tidak kekantor?"


Marisha semakin takut karena Raga semakin dekat, Marisha mundur dan badan mungilnya terbentur dimeja rias, Raga melihat ekspresi Marisha menahan sakit spontan menarik Mariaha.


"Apa sakit? Siapa suruh kau mundur?"


"Jika aku tidak mundur kau akan memukulku"


Raga kaget dengan ucapan Marisha


"Aku tidak akan memukulmu, kenapa kau berfikir begitu"


Raga menyentuh kepala Marisha kwahatir karena Marisha berfikir buruk padanya.


Marisha heran dengan kelembutan Raga.


"Tuan kenapa ka.. " sebelum selesai dengan kalimatnya Ragapun langsung mencium bibir kecil Marisha sehingga Marisha kaget dan memukul bahu Rag hendak menyelematkan diri namun badan Raga jauh lebih besar dan tinggi dari Marisha, Ciuman Raga semakin dalam kemudian menggendong Marisha, Marisha semakin kaget ia semakin melawan Raga namun ia tak berdaya, Raga kemudian melepaskan ciumannya


"Apa kau tid bisa diam?"


Wajah Marisha memerah karena malu dan menjauhkan wajahnya dari wajah Raga, Raga tersenyum melihat ekspresi Marisha dan kembali mencium Marisha.


Itu adalah ciuman pertama Marisha, sehingga dia tidak terbiasa, nafas marisa terpenggal karena sesak,


Uhuk uhuk...


"Bernafas Bodoh"


Marisha ingin menangis Raga melihat ekspresi itu kemudian menurunkan Marisha dari gendonganya. Kemudian Raga keluar dari kamar meninggalkan Marisha sendiri dan menutup pintu dengan keras.


Berani beraninya dia menolakku


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2