
Pradjna keluar dari kamarnya dan mendapati Hana tengah berkutat di dapur. Ia bangun dengan perut lapar.
"Hai Pra, bangun juga kamu akhirnya" sapa Hana riang, "Pas banget sudah matang ini, ayo kita makan" ajak Hana sembari menata pancake juga sandwich tak lupa salad di meja makan. Hana menarik kursi di depan Pradjna, duduk di hadapannya, mulai menyendok salad.
"Maaf aku tidak membantu menyiapkan makan tadi" kata Pradjna.
"Gapapa Pra, aku tau kau lelah, besok kita bisa masak bersama atau kau mau ambil alih dapur, masakan mu kan enak, Bibi yang bilang padaku" ucap Hana sambil mengunyah makanannya.
Pradjna tertawa, aku cuma asisten chef di resto Bibi mu, bukan chefnya, Hana" Pradjna menambahkan.
"Tetap saja kau mengetahui tips nya, kalau tidak mana mungkin kamu bisa jadi asisten" Hana menyahut.
"Ku antar ke kampusmu besok pagi ya, kau tidur seperti orang pingsan, hari sudah sore lagi ini" kata Hana.
"Maaf, aku lelah sekali" jawab Pradjna, melangkah ke bak cuci piring, mencuci piring kotornya.
"Beristirahatlah kembali jika kau masih lelah atau kau mau melihat tv bersama ku?" tawar Hana, Pradjna mengiyakan.
__ADS_1
"Aku akan mandi dulu lalu bergabung dengan mu" sahut Pradjna cepat lalu bergegas mandi.
Mereka menghabiskan malam itu dengan mengakrabkan diri, menceritakan hal-hal tentang diri mereka masing-masing. Sesekali tertawa lepas bersama saat salah satu menceritakan hal yang lucu.
Ibu Gunadi menelpon saat mereka tengah ngobrol, panggilan video berlangsung beberapa saat. Helaan nafas lega keluarga Gunadi mengetahui Pradjna bisa cepat akrab dengan Hana. "Jaga dirimu baik-baik,Nak. Ingat kamu harus berjuang untuk kalian berdua" pesan Ibu Gunadi padanya, wanita yang tidak ada pertalian darah dengannya namun sangat sayang juga perhatian padanya.
"Iya Ibu, Pra janji tidak akan mengecewakan Ibu lagi" janji Pradjna.
"Besok setelah dari kampus, aku antar kau ke klinik, kita harus cek kandungan mu. Semoga dia baik-baik saja di dalam sana. Bekerja sama lah dengan ibu dan tante mu ini ya, Baby" ucap Hana lembut.
Pradjna menjadi makin terharu. Ia seolah mempunyai keluarga yang sebenarnya dan utuh. "Terima kasih untuk kebaikan mu, Tuhan. Aku masih kau sayangi dengan kebaikan mu lewat orang-orang ini, walaupun aku penuh dengan dosa" ucap Pradjna bersyukur di dalam hatinya.
Tak lupa memberi tahu rute bus yang akan menjadi transportasinya selama di sini.
Hana mengantar Pradjna ke klinik yang tak jauh dari kampusnya, Hana sudah mendaftar sebelumnya hingga mereka tidak menunggu terlalu lama.
Dokter menyampaikan kondisinya baik-baik saja, berpesan untuk tidak terlalu lelah, menjaga asupan makanan yang sehat juga cukup beristirahat. Pradjna dan Hana bersyukur, semoga bayi itu tidak rewel selama di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Apa kau lelah, Pra? Jika tidak kita akan mampir belanja lebih dulu, stok makanan tinggal sedikit" Hana menanyainya.
"Tentu, kita bisa belanja, aku tidak lelah kok. Bahkan masih kuat untuk mampir ke beberapa tempat lagi" jawab Pradjna meyakinkan.
Hana tertawa mendengar jawaban itu.
"Oh ya, kamu serius mau sambil bekerja, Pra?" tanya Hana lagi.
"Apa sudah ada pekerjaan untuk ku?" Pradjna balik bertanya, matanya menatap Hana dengan penuh harap.
"Kantor ku magang membutuhkan staff part time, jika kau mau aku bisa merekomendasikan mu. Aku yakin nilai mu bisa menjadi bahan pertimbangan Mr. Alan" kata Hana lagi.
Mata Hana menghangat, "Terima kasih Hana, kau benar-benar sungguh baik mau membantuku" Pradjna menangis haru.
Hana melihat sebentar ke arahnya lantas tersenyum memeluknya.
"Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk mu, teman" lanjut Hana
__ADS_1
"Sudah, hapus dulu air mata mu, kita sudah sampai, mari kita belanja" lanjut Hana sambil melepas seat belt nya.
Mereka berbelanja kebutuhan dapur juga beberapa kebutuhan yang lainnya. Hana menjelaskan apa saja yang Pradjna tanyakan. Mereka seperti dua orang teman yang sudah kenal lama.