ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 28


__ADS_3

Pardjna seperti merasa ada yang memanggil namanya, suara anak kecil yang terisak, memanggilnya mama berulang kali. Ia seperti enggan bangun, badannya merasa sangat lelah tetapi suara itu memaksanya untuk membuka matanya.


Kepalanya terasa sangat berat, tetapi ia masih bisa mendengar hembusan nafas lega juga ucapan syukur beberapa suara yang ia kenal, matanya terasa silau oleh sinar lampu di atasnya, lalu semua terlihat jelas.


Arya duduk disamping bantalnya, wajahnya basah berlinang air mata, Aris duduk disisinya sambil tangan kirinya memeluk Arya dan tangan kanannya menggenggam jemarinya. Hana juga Dave duduk berdampingan di sisi tempat tidurnya yang lain.

__ADS_1


"Mama, ini Alya, Mama uda wake up onty Nana, uncle" kata Arya sambil mencium kening juga pipi Pradjna. Sementara Aris mencium punggung tangan Pradjna lantas meletakkan tangan Pradjna di pipinya lalu menciumnya kembali beberapa kali.


Hati Pradjna mencelos rasanya, dia pasti pingsan tadi. Dadanya masih terasa bergemuruh tetapi ia sudah bisa mengendalikannya, ia mengelus pipi Arya, mengelap air mata juga ingus bocah cilik itu. Lalu tersenyum pada anak itu, "Mama uda bangun Sayang, Mama gapapa kok, ade' udahan ya nangisnya, nanti habis lho air matanya" kata Pradjna pada Arya yang dijawab dengan anggukan tetapi belum bisa menghentikan tangis anak itu. Pradjna kembali tersenyum lalu mencium tangan kecil itu lalu menepuknya beberapa kali.


"Arya ikut onty Nana yuk, Sayang. Kita bikinin Mama coklat panas yang enak, okay" ajak Hana sambil mengangkat Arya dari samping Pradjna. Lalu mengedip ke arah Dave, mengajak mereka keluar, memberi ruang untuk Aris juga Pradjna.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Sayang, ku mohon jangan menangis lagi, aku merasa semakin berdosa melihat mu menangis seperti ini" Aris kembali menundukkan kepalanya, meremas rambutnya dengan frustasi.


Lalu menegakkan duduknya merengkuh Pradjna ke dalam peluknya, Pradjna meluruh menyambut peluk itu, ia masih menangis tetapi lirih.


"Aku merindukann mu, sangat" ucap Pradjna lirih. Aris makin mengeratkan pelukannya, "Dulu aku hampir gila saat kehilangan mu, sekarang pun sepertinya aku juga gila setelah menemukan mu kembali. Tolong jangan pergi lagi kali ini" kata Aris.

__ADS_1


Pradjna tidak menyahut, airmatanya yang menjawab semua itu. Mereka masih saling berpelukan saat Hana juga Arya kembali ke kamar dengan beberapa cangkir coklat hangat yang masih mengepulkan panasnya.


"Mama Pla-Papa Alis, Alya sama onty Nana bawa coklat panas" sapa Arya sudah dengan suara yang riang kembali. Pradjna juga Aris menengok ke suara gemes itu, lalu tersenyum bersamaan. Aris mengangsurkan tissue pada Pradjna, menghapus wajah yang basah oleh air mata itu lalu beranjak berdiri menghampiri Arya lalu menggendongnya mendekat pada Pradjna. Arya langsung menghambur ke pelukkan Pradjna, membisikkan sesuatu lalu terkikik kecil dengan Pradjna. Pradjna menoleh saat Aris menyorongkan secangkir coklat padanya. Lalu mengambil cangkir yang lain untuknya sendiri, menyeruput pelan isinya sambil matanya tak lepas menatap kedua anak beranak itu. Mereka berdua adalah dunianya sekarang ini, tidak akan ada lagi yang akan bisa memisahkan mereka mulai sekarang dan selamanya.


__ADS_2