ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 21


__ADS_3

"Masuk!" jawab Pradjna saat pintunya diketuk.


"Maaf, Ibu. Ada Pak Haris di luar, beliau ingin bertemu" kata Lia, asistennya.


Pradjna mendongak, lalu mengangguk mengiyakan.


"Selamat pagi, ibu Pradjna" sapa Aris begitu memasuki ruangan Pradjna.


Pradjna mengangguk mempersilakan Aris duduk di soffa.


"Selamat pagi juga Bapak Haris, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pradjna formal.


Aris berdeham lalu melanjutkan, "Tidak etis sebetulnya, tetapi memang saya membutuhkan bantuan" kata Aris.


"Bisakah Anda memberikan saya pekerjaan?. Apapun akan saya terima, karena saya juga tidak bisa menunjukkan ijazah, hanya tenaga yang saya punya saat ini" ucap Aris lagi.


Pradjna memandangi Aris dengan heran, lalu tertawa setelahnya.


"Pekerjaan?!?!" tanyanya memastikan.


"Ayolah, ini masih terlalu pagi untuk bercanda Haris Rahardjo" kata Pradjna masih sambil tertawa.


"Aku serius Pradjna Paramitha Wijaya" jawab Aris.


"Aku memutuskan keluar dari rumah semalam, juga mengundurkan diri dari perusahaan dan aku tidak membawa apapun kecuali bag pack ini dan 3 lembar seratus ribuan" jelas Aris yang membuat Pradjna menghentikan tawanya seketika.


"Aku di paksa menikahi Wina, aku menolak, aku hanya akan menikah dengan mu tidak dengan orang lain, lebih baik aku sendiri daripada menyakiti perasaan lain lagi" ucap Aris mantap.


Pradjna tercekat mendengar pengakuan Aris tersebut. Lelaki itu melakukannya lagi. Ia menentang sekaligus menantang Mamanya untuk dirinya. Sekali lagi.

__ADS_1


"Hm...baiklah, kita akan cek dulu apakah ada posisi yang pas untukmu, aku tidak berjanji tetapi di usahakan" kata Pradjna setelah beberapa saat terdiam.


"Hana, tolong ke ruangan ku sebentar" Pradjna memanggil Hana lewat telepon.


Hana memasuki ruangan Pradjna bersama dengan Dave. Dave langsung mendekati Pradjna memeluk serta mengecup kedua pipi Pradjna. Aris dan Hana menegang melihat pemandangan itu. Bahkan tangan Aris terkepal seketika. Pradjna bersikap biasa saja, ia membahas beberapa hal dengan Dave di mejanya, lalu mengucapkan sampai bertemu di rumah. Dave sempat memandang pada Aris beberapa saat sebelum keluar dari ruangan itu, Aris pun memandangnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Well, Ibu Hana, tolong di check apakah kita punya pekerjaan yang bisa dihandle Bapak Haris? Beliau kemari untuk meminta bantuan pekerjaan pada kita" kata Pradjna setelah Dave menghilang di balik pintu. Hana menatap Pradjna dan Aris dengan wajah bingung. Pandangan matanya bertanya pada Pradjna.


"Pak Haris baru saja resign dari kantornya dan sekarang beliau meminta bergabung dengan kita" jawab Pradjna sekenanya. Ia menyeruput kopinya, mempersilakan Aris untuk minum juga.


"Sebelumnya pak Haris sebagai CEO, kalau bergabung dengan kita, brati cuma Ibu Pradjna yang bisa memberikan posisi apa yang pantas" jawab Hana.


"Saya berharap posisi saya aman" lanjut Hana lagi dengan sedikit tawa.


"Semoga ini bukan prank ya Pak Haris, pagi yang penuh kejutan hari ini" Hana benar-benar tertawa kemudian.


Hana berdiri menuju meja Pradjna, mengetikkan jarinya di salah satu laptop Pradjna yang terbuka.


Pradjna memandang Aris dengan tanya, menunggu persetujuannya. Aris mengangguk cepat.


"Baiklah, setelah ini Bapak bisa langsung bertemu dengan bagian HRD untuk detail job desk dan lainnya" jelas Hana.


"Ada yang lain lagi?" tanya Hana pada Pradjna.


"Sepertinya sudah cukup, terima kasih, kau bisa kembali ke ruanganmu lagi" jawab Pradjna. Hana lantas berlalu dari ruangan itu.


Pradjna berdiri menuju mejanya, ia menarik laci meja lalu mengeluarkan sebuah kunci.


"Aris!" panggilnya.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah lama, tetapi mungkin baru kali ini waktu yang tepat", Pradjna mengangsurkan sebuah kunci kepada Aris.


"Apa ini?" tanya Aris.


"Kunci apartment yang dulu kau berikan pada ku. Penyewa terakhir sudah pindah sebulan yang lalu. Lebih baik kau tinggal di sana" jawab Pradjna.


"Tadi kau bilang sudah meninggalkan semua kan? Jangan sampai kau masuk angin karena tidak ada tempat tinggal" lanjut Pradjna lagi sambil tangannya terjulur memegang anak kunci. Aris melangkah mendekati Pradjna berdiri tepat di hadapan wanita itu.


"Apa pria itu tadi suami mu?" tanya Aris tajam.


Pradjna memandang lekat Aris "Apa hal itu memberatkan mu?" Pradjna balik bertanya.


Aris menarik Pradjna ke dalam peluknya, memandang dua mata bulat itu, mencari jawaban dari pertanyaannya barusan.


Pradjna menahan tangannya di dada Aris, sejujurnya ia ingin memeluk lelaki itu, Hana benar, rasanya belum padam, sedikit percikkan akan kembali membakarnya dan ia mulai terasa panas, ia mulai terbakar, tidak...ia mulai membakar dirinya sendiri lebih tepatnya.


"Rupanya kau sudah berbahagia" nada kecewa terlontar dari mulut Aris, raut wajahnya antara terluka juga marah.


"Aku akan tetap di sini, memastikan kamu baik-baik saja, jika aku tahu ia membuatmu menangis, jangan memintaku berhenti saat aku memberinya pelajaran" lanjut Aris.


Lalu ia menunduk, mengecup sekilas bibir Pradjna.


Pradjna seperti tersengat listrik saat tiba-tiba Aris mengecupnya. Rasanya masih sama seperti dulu, matanya bahkan sempat mengabur dan rasa menggelitik di perut bagian bawahnya membuat jantungnya berdetak 3 kali lebih kencang dan rona merah di wajahnya muncul. Ia merasa malu sekali.


Aris lalu melepas pelukannya, mengusap wajahnya kasar, lalu memandang Pradjna.


"Maaf, lebih baik aku segera bekerja, daripada aku tidak bisa mengendalikan diriku" kata Aris lalu melangkah menuju ke pintu.


"Terima kasih untuk bantuannya, aku akan bekerja sebaik mungkin" lanjut Aris di depan pintu tanpa membalikkan badannya.

__ADS_1


Pradjna masih berdiri di tempatnya, mengumpulkan lagi kesadarannya. Ia juga terhanyut tadi walau hanya sekilas bibir Aris menyapa bibirnya.


Wajahnya seketika merona lagi.


__ADS_2