
Aris baru saja menutup pintu ruangan Pradjna, saat ponselnya berdering. Pradjna mengernyitkan dahinya karena ID caller yang meneleponnya tidak ada.
"Hallo!" Pradjna memutuskan menerima panggilan telephone itu.
"Suruh Aris pulang sekarang juga, jika tidak kamu tidak akan melihat lagi anak kecil yang katanya anakmu ini" ancam suara yang tidak asing di telinga Pradjna
"Maaf Bu Intan, bisa langsung meminta kepada Aris bukan, kenapa harus lewat Saya" jawab Pradjna enteng.
"Apa kau pikir aku main-main, hah!" sentak Intan dari seberang.
"Mamaaaa...help me, she's so scared of me mama!" suara teriakan Arya yang ketakutan dibalut tangis itu membuat Pradjna bagai membatu ditempatnya.
"Jangan pernah menyentuh apalagi menyakiti putraku...!!!!" bentak Pradjna kemudian, amarahnya meledak begitu saja begitu mendengar suara Arya tadi.
"Kita impas bukan, kembalikan Aris, ku kembalikan bayi cengeng mu ini" kata Intan Rahardjo sambil tertawa terbahak lalu sambungan telephone diputus begitu saja.
Pradjna seketika menegang lalu tubuhnya jatuh meluruh begitu saja. Arya-nya, bagaimana bisa ia kecolongan seperti ini, ya Tuhan. Pradjna langsung bangkit kemudian mengecheck laptopnya, ia memutar mundur rekaman selama ia makan siang tadi.
Ia melihat Arya masih bermain dengan kelincinya, lalu Arya meminta minum, Bi May masuk ke dalam rumah, lalu 2 orang memasuki halaman rumahnya dan langsung menggendong Arya begitu saja. Anak itu terlihat meronta sebentar lalu diam dalam gendongan pria bertubuh besar itu.
Air mata Pradjna membanjir, ia langsung berlari keluar ruangannya, menuju ruangan Aris. Orang yang dicarinya baru saja membuka pintunya membuatnya langsung menabrak Aris.
"Hei...kamu kenapa, kok nangis?!?!" tanya Aris sambil memegang lengan Pradjna sementara tangan kanannya mengusap air mata Pradjna.
"Arya, Kak...mama mu menculik Arya, tolong kak!" ucap Pradjna masih dengan tangisnya
"Apa, Arya diculik mama, kamu serius Pra?!" tanya Aris penuh kekagetan.
Pradjna mengangguk lalu menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Mereja menuju ruangan Pradjna lalu memutar ulang rekaman CCTV di laptop Pradjna. Tangan Aris mengepal, rahangnya mengeras, ia terlihat sangat geram.
"Keterlaluan...!!" teriaknya marah sambil menghantam tembok di sampingnya.
"Kita harus bawa Arya pulang, kalo sampai anak ku dibuatnya lecet sedikit saja, akan ku bunuh dia" ucap Aris lagi, ia benar-benar dibakar amarah. Aris menggandeng Pradjna keluar ruangan, semua harus selesai hari ini juga, tekad Aris dalam hatinya.
Aris menuju ke rumah Mamanya, Pradjna duduk di sampingnya, mereka berdua sama cemasnya.
"Pra, telp Hana, aktifkan GPS-mu juga. Bilang ke Hana kita butuh bantuannya sewaktu-waktu, suruh dia stand by, hubungi juga orang-orang Dave, minta mereka bersiap. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa diperbuat orang gila itu" Aris memberikan instruksi dengan cepat.
Pradjna membuka ponselnya, menelpon Hana lalu memberikan arahan persis seperti yang dikatakan Aris.
"Lakukan semua sekarang, Hana! Panggil polisi bila perlu, kalau dalam satu jam kami tidak ada kabar, bergeraklah!" seru Aris sedikit kencang pada ponsel Pradjna sementara matanya fokus pada jalanan di depannya.
Ia melajukan mobilnya dalam kecepatan penuh, sampai beberapa pengendara motor yang melintas di dekatnya merutuk bersumpah serapah. Aris berkejaran dengan waktu, serasa mengejar bom yang akan meledak.
Kurang dari 15 menit mereka tiba di rumah yang megah itu. Beberapa pria dengan postur tubuh tinggi besar terlihat berjaga di dalam area rumah besar itu.
"Kuatkan hatimu, Pra. Kita menghadapi orang sakit" bisik Aris di telinga Pradjna, yang langsung dijawab anggukan Pradjna.
Ruang tamu yang luas dengan gaya Eropa dan segala macam ornamennya itu terlihat lengang. Rumah yang indah tetapi auranya menyeramkan, batin Pradjna. Ia sama sekali tidak merasakan kehangatan rumah ini.
Aris membuka sebuah ruangan dengan pintu yang cukup besar di lantai dua rumah ini, enam orang dengan perawakan besar mencoba menghalanginya dan mereka seketika mundur saat Aris menyorongkan pistol ke arah mereka.
"Biarkan aku masuk, ini masalah keluarga, kalau kalian nekat ikut campur ku pastikan polisi yang sedang dalam perjalanan ke sini akan ku minta untuk menangkap kalian semua!" suara Aris dalam dan tegas, dia tidak menerima bantahan sama sekali.
"Ingat jangan pernah Masuk apapun yang kalian dengar, paham!!" seru Aris sekali lagi.
Pradjna menegang ditempatnya, ia belum pernah melihat Aris semarah ini, baru kali ini ia melihat sisi seram Aris. Keringat dingin mulai membasahi punggung juga pelipisnya, tetapi ia tidak boleh kalah, ada Arya yang menunggunya, Arya harus selamat.
__ADS_1
Aris melangkah masuk ke ruangan tersebut, Pradjna ikut menegakkan badannya, tanpa ia sadari tangannya menggenggam erat jemari Aris yang menaut jarinya dari awal mereka memasuki rumah ini.
Sepertinya ini ruang kerja pribadi, masih dengan sentuhan Eropa yang sangat kental. Aris menarik sebuah kepala patung di samping lampu sudut di pojokan ruang kerja tersebut, lalu tiba-tiba sebuah dinding bergeser di belakang kursi besar utama ruangan itu. Pradjna hampir ternganga, ia tidak menyangka ada ruangan lain di dalam ruangan ini.
"Siapkan dirimu untuk apapun yang akan terjadi" bisik Aris lirih tepat di telinganya, Pradjna mengangguk sedikit gugup juga takut.
"Oh...akhirnya kamu datang juga, Sayang" sapa Intan Rahardjo dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.
"Kau merusak kebahagiaanku dengan membawa ****** itu bersamamu" ucap wanita paruh baya itu sinis sambil memandang Pradjna.
"Mama...!" seru sebuah suara di belakang mereka.
Pradjna otomatis berbalik demi mendengar suara itu, "Aryaaa...!!!" serunya. Di belakangnya ada sebuah monitor, di situ ia melihat Arya tengah duduk sendiri di sebuah ruangan, tangannya bebas akan tetapi kakinya terikat, air mata Pradjna menetes melihat kondisi Arya.
Ia langsung memutar badannya kembali mengahadap ke arah Intan Rahardjo. Matanya memanas antara marah dan sedih.
"Lepaskan putraku!" kata Pradjna. Intan hanya menanggapi dengan cibiran sinisnya.
"Untuk apa? kau sendiri tidak mau melepaskan anakku" jawab Intan sambil menghisap rokoknya.
Aris terlihat sudah sangat muak dengan wanita yang juga ibu kandungnya itu.
"Kalau sampai kau membuatnya terluka, aku bersumpah akan membalas mu lebih dari yang kau lakukan padanya, karena ia putra ku!" kata Aris pelan penuh kemarahan juga.
Mata Intan sedikit membelalak sesaat lalu normal kembali, "Putramu katamu? Kau yakin? ****** sepertinya mana mungkin Hanya tidur dengan mu" jawab Intan masih dengan nada sinisnya.
"Lebih ****** mana aku atau dirimu yang coba meniduri anakmu sendiri?" sahut Pradjna keras.
"Coba kau ingat berapa kali kau berusaha memisahkan kami dan berapa kali juga kau gagal?" lanjutnya.
__ADS_1
"Apa urat malu mu sudah putus, apa kau tidak bisa membayar ****** di luar sana sampai kau menggerayangi anakmu sendiri, N-E-N-E-K ?!?!" ucap Pradjna pedas. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi, ia akan membiarkan dirinya meledak, ia sudah siap berperang sekarang.