
CHAPTER 35
Pradjna terbangun dengan kepala
sedikit berat, ia melihat ke samping ranjangnya, Arya masih terlihat pulas.
Yah, tentu saja, efek obat penenang yang disuntikkan lewat jarum infusnya
membuat anak itu tertidur. Semenjak peristiwa kemarin itu, bocah itu selalu
ketakutan bila mendengar suara yang keras juga bila bertemu dengan orang yang
beum pernah ia temui sebelumnya. Traumanya sangat mendalam, padahal sebelumnya
Arya adalah balita yang ramah dan gampang bergaul dengan orang baru. Pradjna
mengehla nafasnya perlahan, “Maafkan
Mama, sayang. Kamu ikut terkena imbas hubungan ini” batin Pradjna penuh
penyesalan. Ia benar-benar merasa bersalah pada putranya itu.
Ponselnya bergetar saat
Pradjna akan kembali memejamkan matanya. Ia melihat nama Aris yang terpampang
di layar ponselnya. Pradjna berdiri melangkah ke dekat jendela agar suaranya
tidak mengganggu Arya.
“Ya hallo,Kak” sapanya saat ia menggeser tombol hijau berlambang
gagang telepon itu ke atas.
“Bagaimana kondisimu dan Arya?” tanya Aris langsung.
“Aku baik, hanya sedikit lelah dan memar dibeberapa tempat” jawab
Pradjna.
“Hanya Arya yang aku cemaskan, ia trauma” lanjut Pradjna.
“Aku sudah membuat janji untuk konsul dengan psikolog anak, nanti
sore kita akan bertemu dengannya” kata Aris.
“Baiklah, lalu bagaimana dengan kondisimu sendiri juga Mama, Kak?”
Pradjna ganti bertanya.
“Aku tidak perlu kau cemaskan, Mama – ia sudah melewati masa
kritisnya. Hanya tinggal menunggunya sadar dari biusnya lalu menyembuhkan
lukanya” jelas Aris.
“Istirahatlah kembali, nanti aku ke situ, jaga dirimu ya” kata Aris
lalu memutus sambungan telepon setelah saling berpamitan.
Pradjna meletakkan ponselnya
lalu kembali ke ranjangnya. Ia baru akan memejamkan matanya saat Arya
memanggilnya, Pradjna urung tidur, ia berpindah ke ranjang Arya, lalu mengusap
punggung bocah itu dengan lembut. Pradjna memutuskan tidur di ranjang Arya, ia
menempatkan dirinya disisi ranjang yang tidak menghalangi selang infus yang
tertancap di tangan kiri anaknya itu.
Yah, mereka memang memutuskan
tidak ke rumah sakit, tetapi mengalihkan perawatan ke rumah pribadi mereka
dengan ditangani dokter keluarga dari pihak Aris. Pradjna yang mengusulkan hal
itu, mengingat nama juga reputasi kedua belah pihak. Mereka pasti akan menjadi
bahan berita yang tak akan ada habisnya. Terlebih lagi ini adalah aib yang
sangat besar dan sangat memalukan.
__ADS_1
Inilah hidup, tidak pernah ada
yang tahu akan seperti apa alur juga akhirnya. Seperti kebanyakan orang Pradjna
juga berharap semua berjalan di jalurnya tetapi kenyataannya ia malah
menghadapi tragedi seperti ini. Ia menghembuskan nafasnya lalu mulai memejamkan
matanya kembali, tidak peduli dengan jam dindingnya yang sudah menunjukkan
pukul 7.00 pagi, ia masih merasakan lelah yang teramat sangat.
“Mama, wake up!” suara Arya
membangunkan Pradjna, ia menguap lalu melihat Arya sudah bangun dan duduk
menghadapnya.
“Arya sudah bangun, Sayang.
Mau susu? Mama buatin dulu ya” kata Pradjna sambil mencium kening Arya.
“No, Mama. Don’t leave me
alone, please. I’m so scared” pinta Arya.
“Okay, biar Mama minta tolong
Bi May buatin susu Arya, ya” ucap Pradjna lantas menekan tombol merah kecil di
bawah nakas di samping ranjang Arya. Bocah cilik mengangguk patuh. Tak berapa
lama pintu kamar itu diketuk, Bi May muncul dari baliknya.
“Ada apa mba Pra?” tanya
wanita berumur sekitar 40 tahunan itu.
“Tolong buatkan susu untuk
Arya juga coklat panas ya, Bi!” pinta Pradjna. Wanita itu mengangguk mengerti
lalu beranjak kembali ke dapur setelah menutup kembali pintu kamar Pradjna.
Hana membuka pintu kamar
Pradjna, piring berisi sandwich juga apel yang sudah dikupas.
“Morning, jagoannya Aunty,
feel better,ha...?” sapa Hana riang pada Arya. Anak itu hanya diam menatap
Hana.
“Aunty bawain susu Arya nih,
diminum ya, Sayang!” Hana masih berusaha untuk memancing Arya, anak itu
bereaksi, mengangguk pelan lalu menyentuh lengan Pradjna - menunjuk cangkir
susunya. Pradjna menerima cangkir susu Arya dari tangan Hana, lalu menyerahkannya
pada Arya. Bocah itu mulai menelan susunya, seteguk demi seteguk hingga hanya
tersisa sedikit lalu menyerahkan cangkirnya kembali pada Pradjna.
“Enak, Sayang?” tanya Hana.
“Arya mau apel atau sandwich?
Ini aunty yang buat, which one you wanna eat?” tanya Hana lagi, tangannya
mengulurkan dua piring berukuran sedang itu kepada Arya. Anak itu memandang
piring itu lalu menggeleng.
“Kok ga’ mau sih, Sayang” ucap
Hana kecewa sambil bibirnya mencebik pura-pura cemberut, ekor matanya melirik
Arya yang terlihat tidak enak hati. Tak berapa lama jari kecil itu menunjuk ke
arah piring yang berisi sandwich, Hana tersenyum senang menyerahkan piring itu.
__ADS_1
“Habiskan ya, Sayang! Biar
Arya cepat tumbuh besar” ucap Hana riang. Mendadak Arya berhenti mengunyah
sandwich-nya, memandang Hana lekat.
“Hey, something wrong with
you, Boy – ga’ enak sandwichnya?” tanya Hana.
“Arya ga’ mau besal, Nty Nana.
Orang besal jahatin Alya” jawab anak itu polos, air mata terlihat menggenang di
pelupuknya. Pradjna memandang Hana sedikit frustasi. Hana mendekat ke Arya,
duduk di samping kiri bocah itu, merangkul pundak kecil itu.
“Look at me, Baby. Aunty Nana
juga uda besar dan Aunty ga’ jahatin Arya, Aunty sayang banget sama Arya juga
Mama Pradjna. We’ll get through this together, don’t be afraid!” kata Hana
dengan penuh semangat.
“Nah...karena Arya sudah
sarapan, sebentar lagi Dr. Amel mau check kondisi Arya ya. Ga’ perlu takut ada
Mama juga aunty Nana di sini nemenin Arya. Kalau Arya uda baikan nanti jarum
sama selang ini bisa dilepas, Arya bebas main lagi, okay. Promise me, Arya ga’
akan berontak seperti tadi malam ya!” lanjut Hana sambil mengaitkan jari
kelingkingnya ke kelingking Arya yang mungil itu.
Arya mengalihkan pandangannya,
ia menatap Pradjna juga Hana bergantian lalu mengiyakan dengan menggangguk
pelan.
“Good boy!” kata Hana sambil
mencium kening Arya lalu mengacak rambut bocah itu pelan.
Tak berapa lama pintu di ketuk
lalu Dr. Amel muncul dari balik pintu itu sambil tersenyum, wajahnya lembut
dengan hijab warna pastel membuatnya makin terlihat ramah. Ia melambai pada
Arya mengucap hallo. Arya langsung menempel pada Hana yang duduk tepat di
sampingya sementara tangan kanannya menggapai meraih lengan Pradjna. Hana
mengusap punggung Arya, menenangkan anak itu, Pradjna merangkul anaknya itu,
meyakinkan bahwa mereka aman dan akan baik-baik saja.
Setelah meminta izin dan
membuka obrolan dengan Arya yang lebih banyak didominasi jawaban dari Hana
ataupun Pradjna, Dr. Amel memulai pemeriksaannya, ia dibantu seorang suster
memeriksa suhu tubuh anak itu juga luka ringan dibeberapa bagian tubuh Arya.
Setelah selesai dengan Arya ia beralih memeriksa Pradjna lalu meminta suster
itu untuk melepas jarum infus yang menempel di tangan Arya.
“Pastikan kalian cukup
beristirahat juga makan makanan sehat ya, terutama kamu Arya” kata Dr. Amel
ramah, lalu berpamitan setelah suster yang bersamanya selesai dengan infus
Arya.
“See...,tidak semua orang
__ADS_1
dewasa jahat, Sayang” ucap Hana sambil mengecup kening Arya, anak itu tidak
menanggapi, ia hanya diam.