ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Episode 35


__ADS_3

CHAPTER 35


Pradjna terbangun dengan kepala


sedikit berat, ia melihat ke samping ranjangnya, Arya masih terlihat pulas.


Yah, tentu saja, efek obat penenang yang disuntikkan lewat jarum infusnya


membuat anak itu tertidur. Semenjak peristiwa kemarin itu, bocah itu selalu


ketakutan bila mendengar suara yang keras juga bila bertemu dengan orang yang


beum pernah ia temui sebelumnya. Traumanya sangat mendalam, padahal sebelumnya


Arya adalah balita yang ramah dan gampang bergaul dengan orang baru. Pradjna


mengehla nafasnya perlahan, “Maafkan


Mama, sayang. Kamu ikut terkena imbas hubungan ini” batin Pradjna penuh


penyesalan. Ia benar-benar merasa bersalah pada putranya itu.


Ponselnya bergetar saat


Pradjna akan kembali memejamkan matanya. Ia melihat nama Aris yang terpampang


di layar ponselnya. Pradjna berdiri melangkah ke dekat jendela agar suaranya


tidak mengganggu Arya.


“Ya hallo,Kak” sapanya saat ia menggeser tombol hijau berlambang


gagang telepon itu ke atas.


“Bagaimana kondisimu dan Arya?” tanya Aris langsung.


“Aku baik, hanya sedikit lelah dan memar dibeberapa tempat” jawab


Pradjna.


“Hanya Arya yang aku cemaskan, ia trauma” lanjut Pradjna.


“Aku sudah membuat janji untuk konsul dengan psikolog anak, nanti


sore kita akan bertemu dengannya” kata Aris.


“Baiklah, lalu bagaimana dengan kondisimu sendiri juga Mama, Kak?”


Pradjna ganti bertanya.


“Aku tidak perlu kau cemaskan, Mama – ia sudah melewati masa


kritisnya. Hanya tinggal menunggunya sadar dari biusnya lalu menyembuhkan


lukanya” jelas Aris.


“Istirahatlah kembali, nanti aku ke situ, jaga dirimu ya” kata Aris


lalu memutus sambungan telepon setelah saling berpamitan.


Pradjna meletakkan ponselnya


lalu kembali ke ranjangnya. Ia baru akan memejamkan matanya saat Arya


memanggilnya, Pradjna urung tidur, ia berpindah ke ranjang Arya, lalu mengusap


punggung bocah itu dengan lembut. Pradjna memutuskan tidur di ranjang Arya, ia


menempatkan dirinya disisi ranjang yang tidak menghalangi selang infus yang


tertancap di tangan kiri anaknya itu.


Yah, mereka memang memutuskan


tidak ke rumah sakit, tetapi mengalihkan perawatan ke rumah pribadi mereka


dengan ditangani dokter keluarga dari pihak Aris. Pradjna yang mengusulkan hal


itu, mengingat nama juga reputasi kedua belah pihak. Mereka pasti akan menjadi


bahan berita yang tak akan ada habisnya. Terlebih lagi ini adalah aib yang


sangat besar dan sangat memalukan.

__ADS_1


Inilah hidup, tidak pernah ada


yang tahu akan seperti apa alur juga akhirnya. Seperti kebanyakan orang Pradjna


juga berharap semua berjalan di jalurnya tetapi kenyataannya ia malah


menghadapi tragedi seperti ini. Ia menghembuskan nafasnya lalu mulai memejamkan


matanya kembali, tidak peduli dengan jam dindingnya yang sudah menunjukkan


pukul 7.00 pagi, ia masih merasakan lelah yang teramat sangat.


“Mama, wake up!” suara Arya


membangunkan Pradjna, ia menguap lalu melihat Arya sudah bangun dan duduk


menghadapnya.


“Arya sudah bangun, Sayang.


Mau susu? Mama buatin dulu ya” kata Pradjna sambil mencium kening Arya.


“No, Mama. Don’t leave me


alone, please. I’m so scared” pinta Arya.


“Okay, biar Mama minta tolong


Bi May buatin susu Arya, ya” ucap Pradjna lantas menekan tombol merah kecil di


bawah nakas di samping ranjang Arya. Bocah cilik mengangguk patuh. Tak berapa


lama pintu kamar itu diketuk, Bi May muncul dari baliknya.


“Ada apa mba Pra?” tanya


wanita berumur sekitar 40 tahunan itu.


“Tolong buatkan susu untuk


Arya juga coklat panas ya, Bi!” pinta Pradjna. Wanita itu mengangguk mengerti


lalu beranjak kembali ke dapur setelah menutup kembali pintu kamar Pradjna.


Hana membuka pintu kamar


Pradjna, piring berisi sandwich juga apel yang sudah dikupas.


“Morning, jagoannya Aunty,


feel better,ha...?” sapa Hana riang pada Arya. Anak itu hanya diam menatap


Hana.


“Aunty bawain susu Arya nih,


diminum ya, Sayang!” Hana masih berusaha untuk memancing Arya, anak itu


bereaksi, mengangguk pelan lalu menyentuh lengan Pradjna - menunjuk cangkir


susunya. Pradjna menerima cangkir susu Arya dari tangan Hana, lalu menyerahkannya


pada Arya. Bocah itu mulai menelan susunya, seteguk demi seteguk hingga hanya


tersisa sedikit lalu menyerahkan cangkirnya kembali pada Pradjna.


“Enak, Sayang?” tanya Hana.


“Arya mau apel atau sandwich?


Ini aunty yang buat, which one you wanna eat?” tanya Hana lagi, tangannya


mengulurkan dua piring berukuran sedang itu kepada Arya. Anak itu memandang


piring itu lalu menggeleng.


“Kok ga’ mau sih, Sayang” ucap


Hana kecewa sambil bibirnya mencebik pura-pura cemberut, ekor matanya melirik


Arya yang terlihat tidak enak hati. Tak berapa lama jari kecil itu menunjuk ke


arah piring yang berisi sandwich, Hana tersenyum senang menyerahkan piring itu.

__ADS_1


“Habiskan ya, Sayang! Biar


Arya cepat tumbuh besar” ucap Hana riang. Mendadak Arya berhenti mengunyah


sandwich-nya, memandang Hana lekat.


“Hey, something wrong with


you, Boy – ga’ enak sandwichnya?” tanya Hana.


“Arya ga’ mau besal, Nty Nana.


Orang besal jahatin Alya” jawab anak itu polos, air mata terlihat menggenang di


pelupuknya. Pradjna memandang Hana sedikit frustasi. Hana mendekat ke Arya,


duduk di samping kiri bocah itu, merangkul pundak kecil itu.


“Look at me, Baby. Aunty Nana


juga uda besar dan Aunty ga’ jahatin Arya, Aunty sayang banget sama Arya juga


Mama Pradjna. We’ll get through this together, don’t be afraid!” kata Hana


dengan penuh semangat.


“Nah...karena Arya sudah


sarapan, sebentar lagi Dr. Amel mau check kondisi Arya ya. Ga’ perlu takut ada


Mama juga aunty Nana di sini nemenin Arya. Kalau Arya uda baikan nanti jarum


sama selang ini bisa dilepas, Arya bebas main lagi, okay. Promise me, Arya ga’


akan berontak seperti tadi malam ya!” lanjut Hana sambil mengaitkan jari


kelingkingnya ke kelingking Arya yang mungil itu.


Arya mengalihkan pandangannya,


ia menatap Pradjna juga Hana bergantian lalu mengiyakan dengan menggangguk


pelan.


“Good boy!” kata Hana sambil


mencium kening Arya lalu mengacak rambut bocah itu pelan.


Tak berapa lama pintu di ketuk


lalu Dr. Amel muncul dari balik pintu itu sambil tersenyum, wajahnya lembut


dengan hijab warna pastel membuatnya makin terlihat ramah. Ia melambai pada


Arya mengucap hallo. Arya langsung menempel pada Hana yang duduk tepat di


sampingya sementara tangan kanannya menggapai meraih lengan Pradjna. Hana


mengusap punggung Arya, menenangkan anak itu, Pradjna merangkul anaknya itu,


meyakinkan bahwa mereka aman dan akan baik-baik saja.


Setelah meminta izin dan


membuka obrolan dengan Arya yang lebih banyak didominasi jawaban dari Hana


ataupun Pradjna, Dr. Amel memulai pemeriksaannya, ia dibantu seorang suster


memeriksa suhu tubuh anak itu juga luka ringan dibeberapa bagian tubuh Arya.


Setelah selesai dengan Arya ia beralih memeriksa Pradjna lalu meminta suster


itu untuk melepas jarum infus yang menempel di tangan Arya.


“Pastikan kalian cukup


beristirahat juga makan makanan sehat ya, terutama kamu Arya” kata Dr. Amel


ramah, lalu berpamitan setelah suster yang bersamanya selesai dengan infus


Arya.


“See...,tidak semua orang

__ADS_1


dewasa jahat, Sayang” ucap Hana sambil mengecup kening Arya, anak itu tidak


menanggapi, ia hanya diam.


__ADS_2