
"Hari ini kita ada meeting dengan Aris, kau bisa datang kan, Pra?" tanya Hana pada Pradjna yang serius dengan berkas di depannya.
Pradjna mendongakkan kepalanya menatap Hana, "Bukannya kemarin kau bilang bisa handle dia tanpa aku?" Pradjna balik bertanya.
"Masalahnya Aris sendiri yang meminta agar kamu ikut, aku tetap harus menyampaikan bukan? Terlepas kamu mau datang atau tidak, kamu yang menentukan" sergah Hana, sedikit naik intonasinya.
Pradjna menghela nafasnya, memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Ia sudah mengira akan seperti ini tetapi ia berharap tidak akan secepat ini.
"Jam berapa meeting dimulai?" tanya Pradjna lagi.
"Pukul 11 sekalian dengan makan siang di hotel PnH" jawab Hana lagi, "Pastikan kau terlihat fresh, jangan sampai kau membuka kembali yang sudah kau tutup, celah sedikit saja bisa membuat yang kau bangun berantakan, Pra!" lanjut Hana lantas keluar dari ruangan Pradjna.
Pradjna sedang merapikan berkasnya ketika Hana muncul di balik pintunya.
"Sudah siap, Bos?" tanyanya.
"Sudah, ayo kita berperang!" jawab Pradjna.
"Kamu kali yang perang, aku enggak. Lagian perangku sudah d acc kok, kontrak sudah selesai tinggal tanda tangan ini nanti" kata Hana dengan entengnya.
Pradjna melirik Hana tajam, Hana cuma nyengir.
Mereka tiba tepat waktu, langsung menuju coffee shop di lantai 2 hotel tersebut.
__ADS_1
Suasana tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa meja yang terisi. Hana menarik Pradjna mengikuti langkah waitress menuju ke suatu ruangan yang lain. Pradjna melupakan suatu hal, Aris pasti akan memilih tempat yang private, apalagi berkaitan dengan hal resmi seperti ini.
Pintu terbuka, Pradjna membuka matanya sedikit lebar demi melihat Aris beserta beberapa staff nya juga Mamanya di ruangan itu.
Mata mereka bertemu, ada banyak rasa yang bergolak di dada Pradjna, luka batinnya serasa membuka lagi. Kepalanya kembali berdenyut tetapi dia harus bertahan.
Ia harus berdiri tegak dengan dagu terangkat di hadapan mereka semua.
Hana bergerak maju terlebih dahulu, menyalami yang ada di ruangan itu, Pradjna menyusul kemudian.
Tiba giliran di depan Intan Rahardjo - mama Aris, Pradjna sedikit menahan nafasnya. Wanita itu terlebih dahulu mengangsurkan tangan kepadanya, Pradjna menyambut seraya sedikit mengangguk, begitu pula kepada Aris. Lelaki itu lekat memandangnya, membuat Pradjna sedikit jengah.
Hana memulai presentasi, mengulang apa yang sudah disampaikan sebelumnya, ditutup dengan penandatanganan kontrak juga MOU antara kedua perusahaana tersebut.
"Tempat ini dipilih memang untuk itu, Pra" jawab Hana pelan.
"Aku ingin melarikan diri saja rasanya, Han" ucap Pradjna putus asa, ada nada lelah dalam suaranya.
"Aku mendukung mu, jangan lupakan hal itu. Bila ada yang mengusikmu kita akan segera pergi dari sini" kata Hana mantap. Pradjna memandang Hana, mengucapkan terima kasih lewat matanya.
"Ayo, sudah waktunya kita berbasa-basi dengan ningrat itu" Hana menepuk bahu Pradjna pelan.
Pradjna berdiri, menengakkan badannya kemudian mengulas senyum di bibirnya, "Kamu bisa Pradjna, kuasai dirimu dan kamu akan menang" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Pradjna melangkah mengikuti Hana, mereka berpindah ruangan yang sudah siap dengan jamuan makan siang untuk mereka.
Pradjna mengambil piring snack nya lalu melangkah ke jendela, dia tau itu spot bagus untuk menikmati view di luar sana.
Pradjna baru memasukkan sedikit potongan cheese cake - nya saat suara yang familiar di telinganya menyapa "Kamu bisa juga sampai di tempat seperti ini ya, aku tidak menyangka. Tapi bukan berarti kamu bisa kembali merusak anak ku, perempuan gembel" Intan Rahardjo setengan berbisik di belakangnya.
"Lalu mengapa Anda mendatangi saya bila Anda merasa saya tidak kompeten untuk menjadi perusak, Nyonya?" balas Pradjna tersenyum menatap wanita di depannya.
"Sebenarnya saya yang harus waspada, Nyonya. Putra Anda yang sebenarnya telah merusak saya, bukan sebaliknya".
"Aris bahkan meninggalkan bekas yang tidak mungkin saya hapus apalagi dihilangkan. Saya ingin bertanya seperti apa Anda mendidiknya selama ini?" lanjut Pradjna lagi.
Wajah Intan Rahardjo memerah mendengar kata-kata Pradjna, terlihat sekali wanita itu ingin marah.
"Wah, rupanya kalian sudah saling berkenalan hingga aku terlupakan" Aris mendadak bergabung dengan mereka. Menurunkan suasana yang menegang. Pradjna kembali menarik senyumnya, merilekskan bahu dan punggungnya, melanjutkan cemilannya tadi.
"Apa Mama tahu, Pradjna ini dulu adik tingkatku di kampus, lalu setelahnya aku tidak mengetahui kabarnya, tiba-tiba saja bertemu kembali dan dia sudah sesukses ini" Aris menerangkan kepada Mamanya yang di sambut dengan wajah malas.
"Aku melanjutkan S2 ke London setelah wisuda. Kuliah sekaligus bekerja menyita banyak tenaga juga pikiran, maklum cuma rakyat jelata yang berusaha memperbaiki nasib, tidak seperti Anda yang sudah berkecukupan sebelumnya" Pradjna melanjutkan masih dengan senyumnya. Intan Rahardjo makin menekuk wajahnya demi mendengar penjelasan Pradjna tersebut.
"Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda, Pak Haris - Ibu Intan. Terima kasih untuk jamuannya, maaf saya harus pamit terlebih dulu, bila masih ada yang harus diperjelas bisa langsung dengan Ibu Hana. Beliau akan membantu dengan senang hati" Pradjna mengangsurkan tangan menyalami kedua orang tersebut, tersenyum berpamitan.
Aris terlihat ingin menahan tetapi ibunya mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Pradjna melambai kepada Hana, berpamitan. Hana mengerti.