
"Mengapa tidak kau katakan padaku tentang semua ini?" Aris menatap Pradjna sendu.
"Jika dari awal kau katakan, pasti kita sudah bahagia dari dulu, Pra" lanjutnya lagi.
"Bahagia seperti apa yang kau maksud? Jelas sekali keluarga mu menentang hubungan kita, bahkan sampai saat ini" Pradjna mengurai kata, matanya kembali basah, segera disekanya dengan punggung tangannya.
"Sehari sebelum aku wisuda, dekan memberi tahu ku tentang beasiswa di London, aku sudah akan memberi tahu mu saat tiba-tiba mama mu datang ke apartment menyuruhku untuk meninggalkan mu, ia bahkan memberi ku cek kosong agar aku bisa bebas mengisi nominalnya, lalu aku pingsan dan Dr.Diana yang menolongku mengatakan mungkin saja aku sedang mengandung"
"Dalam hitungan jam hidup ku kacau balau, bisa kau bayangkan betapa kalutnya aku saat itu, kau berada jauh disisi benua lain, apakah saat aku memberitahu mu lantas semua masalah akan selesai begitu saja-tidak bukan?"
"Saat aku memutuskan untuk mengambil semua resiko untuk berjuang sendiri, aku mempertaruhkan seluruh hidup ku, aku jelas salah dan tak akan menambah kesalahan ku lagi dengan aborsi. Beruntung aku bertemu dengan orang-orang baik, Bapak-Ibu Gunadi, Hana, Dave dan masih banyak lagi, yang membantuku dengan doa juga dukungan mereka. Aku bahkan sudah memutuskan untuk tinggal di London, tetapi Ibu meminta ku kembali dan hal yang ku takutkan terjadi - kita bertemu lagi" Pradjna meledak kembali, ia menangis tergugu, Aris mendekat menarik Pradjna dalam peluknya, mereka sama-sama terluka, merasakan sakit yang sama.
"Maafkan aku, Pra. Ku mohon maafkan, izinkan aku menebus semua kesalahan ku" lirih Aris meminta, Pradjna masih larut dalam isaknya.
__ADS_1
"Apa kau tahu, hari ini aku menerima undangan pertunangan mu, di situ tertulis Haris dan Wina. Bagaimana engkau akan menebus semuanya?" tanya Pradjna sama lirihnya.
"Pertunangan-undangan?!?!" sontak Aris kaget, merenggangkan peluknya sedikit, menatap lekat mata coklat Pradjna.
"Iya, PERTUNANGAN HARIS DAN WINA!" teriak Pradjna histeris.
"Tanya Hana kalau kau tak percaya!" lanjutnya lagi.
"Dia melakukannya lagi, melanggar batas itu lagi, aarrgghh...." Aris meremas rambutnya, terlihat jelas frustasi sekali.
"Aku sudah tidak butuh apapun lagi darimu, apalagi hanya janji, aku hanya ingin kau juga mama mu tahu bahwa darahmu lah yang mengalir ditubuh Arya. Kalau hanya untuk menghidupi Arya aku lebih dari mampu saat ini" Pradjna menarik sudut bibirnya ke atas, senyum yang dipaksakan.
"Ingin ku hanya hidup yang tenang, biarkan aku bahagia dengan anakku, dia tumbuh dewasa tanpa gangguan, terlebih dari mama mu, hanya itu pinta ku" jelas Pradjna.
__ADS_1
"Karena aku tahu pasti, ia tak akan pernah diam saat tahu yang sebenarnya, kalau hanya aku yang diserang bukan masalah, tapi bila Arya - jangan harap aku akan diam, akan ku pastikan ia mendapat balasan yang lebih dari yang dilakukannya" suara Pradjna memelan dan dalam, penuh ancaman dan intimidasi.
"Aku yang memastikan Arya tidak akan terjamah oleh siapapun, bila ada yang berani menyentuhnya barang sedikit saja, aku sendiri yang akan membalasnya" Aris menyahut tegas, rahangnya terlihat mengeras.
Pradjna menatap sekilas pria di hadapannya itu, lalu menggeleng perlahan.
"Ini tidak akan berhasil, pulanglah, tempatmu bukan disini, kau putra pertama juga satu-satunya dikeluarga mu, tanggung jawabmu lebih besar di sana daripada di sini, di rumah mu ada 3 wanita yang harus kau lindungi" Pradjna sudah kembali tenang, ia mendongak menatap Aris,
"Kau boleh berkunjung saat merindukan Arya, kapan pun kau mau, aku tidak akan menyulitkan atau melarang mu" suaranya terdengar mantap penuh keyakinan.
"Ya Tuhan, Pra apa yang kau katakan?" Aris menatap lekat manik coklat itu.
"Ini aib tetapi aku harus jujur padamu, aku sudah terlanjur jijik dengan diriku sendiri juga mama ku. Orang yang seharusnya ku sebut surga ku, yang melahirkan juga menyusui aku, dia hampir memperkosa ku berkali-kali dan kau menyuruhku untuk kembali padanya? Hubungan kami selama ini tak lebih dari formalitas" suara Aris melemah, ada luka yang dalam dari intonasinya. Mata Pradjna membeliak tak percaya, kedua tangannya menutup mulutnya yang membuka lebar, jemarinya bergetar-seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Terjawab sudah mengapa Pradjna tak pernah melihat ibu-anak itu tak pernah ada kontak fisik di hadapan orang lain, sikap Intan Rahardjo yang sangat over protektif, sangat keras berusaha untuk terlihat harmonis dengan Aris putranya itu saat berada di tempat umum. Wanita itu ternyata "sakit" batin Pradjna.