ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 36


__ADS_3

Aris langsung menuju ke kamar Pradjna begitu ia sampai di rumah itu, setelah mengetuk pintunya ia lantas masuk dan menemukan Arya yang tengah duduk termenung di soffa kamar itu.


Ia mendekat lalu memeluk Arya, anak itu terlihat terkejut dan ketakutan, ia tidak merespon pelukan Aris, malah nampak shock. Air matanya mulai merebak turun satu - persatu dan Aris menyadari hal itu. Pelukannya merenggang, ia memandang Arya dengan seksama.


"Arya, ini papa Haris, Sayang" ucap Aris pelan sambil menepuk pelan pipi Arya. Ia sedikit bingung mengapa anaknya itu seperti ketakutan bersamanya.


Pradjna yang keluar dari kamar mandi melihat hal itu, ia langsung duduk disisi kiri Arya lalu membawa bocah itu dalam rengkuhannya. Ia mengisyaratkan pada Aris agar menunggunya di luar saja. Aris menurut, ia meninggalkan kamar tersebut, menunggu di taman samping kolam renang sambil menyulut sebatang rokok.


Tak berapa lama Pradjna muncul, ia duduk di kursi seberang Aris.


"Sudah lihat sendiri bukan seperti apa Arya sekarang?" Pradjna membuka pembicaraan.


"Arya, ia ketakutan melihatku" jawab Aris sejurus kemudian.


"Begitulah kondisinya, aku yakin ia takut denganmu setelah melihatmu mene***k juga baku hantam kemarin, selama ini anak itu tidak pernah melihat kekerasan sama sekali" jelas Pradjna, ada nada penyesalan di suaranya.


"Aku yang menjaganya, aku pula yang menyakitinya. Andai saja kita tidak bertemu kembali, pasti peristiwa ini tidak akan pernah terjadi" Pradjna mulai terisak. Aris merengkuhnya, ia juga terlihat menyesal.

__ADS_1


"Sebentar lagi Diandra - psikolog yang ku bilang tadi pagi, akan datang. Semoga ia bisa membantu kita mengembalikan Arya kita seperti dulu" bisik Aris pada Pradjna.


"Lebih baik kita bersiap, cuci muka dulu ya. Sebelum sesi Arya dimulai, kita harus berdiskusi dulu dengan Diandra" Aris melepas pelukannya lalu membimbing Pradjna memasuki rumah. Aris langsung menuju ruang kerja Pradjna, menunggunya di sana.


Hana tengah menceritakan kisah Jack dan pohon kacang ajaibnya saat Pradjna memasuki kamarnya. Ia tersenyum lalu mengecup kening Arya, berbisik pada Hana bahwa psikolog untuk Arya akan datang sebentar lagi, Hana mengedipkan matanya mengerti.


Arya kembali menyender di lengan Hana setelah Pradjna melepas pelukannya, beranjak ke kamar mandi merapikan dirinya.


Memulas loose powder tipis di wajahnya lalu lipgloss bening di bibirnya, wajahnya terlihat lebih segar sekarang.


Pradjna baru akan mendorong pintu ruang kerjanya saat ia mendengar suara dari dalam ruangannya itu.


"Iya" jawab Aris pendek.


"Hm...baiklah, aku harus professional walau ku akui aku cemburu, hahahaha..." kata suara itu lagi, yang Pradjna yakin itu adalah suara Diandra - psikolog yang dikatakan Aris tadi.


"Berapa tahun aku mengejar sekaligus menunggumu dari bayangan wanitamu ini, dan sekarang aku harus membantu mu menstabilkan psikis anakmu dengannya, ironi yang sangat manis, Ris" lanjut Diandra, ia masih terkekeh, menertawakan lakon dirinya itu.

__ADS_1


"Maaf, Dian. Tapi untuk hal ini, aku hanya percaya padamu, aku tidak bisa menyerahkan kasus Arya pada orang lain" Aris menjelaskan, suaranya terdengar datar tapi tegas.


"Baiklah, aku tahu, ini menyangkut reputasi kalian juga kelangsungan kesejahteraan karyawan yang bekerja pada kalian".


"Tapi bila aku boleh mengusulkan, sebaiknya kalian menikah secepatnya, diam-diam sajalah. Ambil cuti beberapa hari, ke Amrik atau Aussie beres kan. Menikah di sana lebih private bagi kalian"


"Aku akan lebih fokus dengan therapy tante Intan, kalian bisa sejenak bersantai honeymoon di sana" Diandra menambahkan sambil tertawa.


Pradjna merasa hatinya sedikit tercubit mendengar pengakuan Diandra tentang perasaannya pada Aris, tetapi benar kata Aris, mereka butuh orang yang bisa mereka percaya saat ini.


Pradjna mendorong pintu ruang kerjanya, bersikap seolah tidak mendengar apapun, tersenyum pada wanita yang terlihat anggun tetapi sangat friendly. Diandra mengenakan setelan formal berwarna peach, wajahnya cantik dengan hidung mancung dan kulit kuning langsat. Ada sepasang lesung pipit di pipinya saat ia tersenyum.


"Diandra, panggil saja Dian" ucapnya sambil menjabat tangan Pradjna hangat.


"Pantas saja Haris tidak bisa move on, aku tahu sebabnya sekarang" Dian menambahkan sambil tertawa kecil.


"Pra, Dian ini anak salah satu kolega sekaligus sahabat almarhum Papa dulu, kami sudah kenal dari bayi, hanya saja ia memilih kuliah di luar kota, praktis sejak itu kami loss contact. Saat kembali dia sudah jadi psikolog professional" Aris mengenalkan Dian pada Pradjna.

__ADS_1


Setelahnya mereka terlihat serius membahas Arya, memilah juga memilih beberapa metode pendekatan untuk kasus traumatic Arya.


Pradjna langsung bisa menilai bila Diandra memang professional sekaligus compatible, ia sendiri langsung suka dengan wanita itu. Setelah kurang lebih 30 menit mereka keluar dari ruang kerja pribadi Pradjna, menuju ke kamar Pradjna untuk menemui Arya.


__ADS_2