
Aris setengah bersungut mengetahui sebab ia di suruh pulang malam itu. Untung ada Bang Jupri, satpamnya yang memberi tahunya.
Ia mengarahkan mobilnya ke resto yang beberapa kali terakhir ini ia sambangi. Selain makanannya pas di lidahnya, viewnya juga bagus. Lebih baik ia makan malam di luar sambil menikmati pemandangan daripada makan di rumah sama burung beo.
Tidak butuh waktu lama bagi Aris untuk sampai di resto tersebut. Ia langsung menuju mejanya yang sudah ia reservasi terlebih dahulu tadi di jalan. Ia suka sekali duduk di meja pojok ini, di bawah pohon kemuning, harum bunganya yang khas saat sedang mekar seperti aromatherapy baginya. Ia sengaja meminta meja single karena toh ia hanya sendiri.
Seorang waitress datang menghampirinya memberikan daftar menu lalu berdiri agak menjauh menunggunya. Aris memilih secangkir espresso dan semangkuk sup buntut. Dua menu itu saja pasti sudah akan mengenyangkannya. Baru saja ia akan menyulut rokoknya saat di lihatnya seseorang yang tidak asing keluar dari dalam resto.
"Hana!!" panggil Aris cepat, melangkah menghampiri Hana.
"Hallo, kita bertemu lagi Pak Haris" sapa Hana ramah sambil menyambut jabatan tangan Aris.
"Mau bergabung dengan ku?. Maksudku menemani ku makan, kebetulan aku sendiri, akan lebih baik bila ada teman bukan?" pinta Aris. Hana berfikir sesaat sebelum akhirnya mengiyakan.
Aris melambai pada seorang waitress meminta menu. Hana duduk di depannya.
"Maaf, aku sudah makan tadi" kata Hana pada Aris, lalu berpaling pada waitress yang ada di sampingnya "Green tea aja, ya, Seperti biasanya" lanjut Hana lagi.
Aris mengerutkan keningnya, "Sudah sering mampir di sini rupanya, sampai mereka tau green tea fave mu" kata Aris kemudian.
Hana tersenyum "Lumayan, selain cozy, makanannya juga yummy" kata Hana menjelaskan.
"Tepat sekali, itu mengapa aku sudah 3 kali ini kembali ke sini" kata Aris tertawa.
Aris meminta ijin untuk mulai makan karena pesanannya sudah datang, Hana menyilakan lalu menunggu sambil memainkan ponselnya. Ia menghubungi Pradjna, mengirimkan foto Aris yang diambilnya diam-diam, terlihat lahap dengan semangkuk sup di depannya.
__ADS_1
Pradjna : "Apa-apaan ini?".
Hana : "Ga' usah jealous juragan, kebetulan kami bertemu di resto mu saat aku akan pulang setelah pengecekan".
Pradjna : "Jealous??, hmm...!!".
Hana : "Cinta mu belum padam baranya, Pra. Ga' usah sok-sokan deh. Tinggal siram minyak tanah sedikit and then blaaarrrr....!!!".
Hana : "🤣🤣🤣".
Pradjna : "Hm...".
Hana : "Sudahlah, Pra. Buang ketakutan juga luka lama mu, Aris sendiri sangat terlihat berharap padamu. Tunggu saja selesai makan ia pasti akan berusaha mengorek semua tentang mu. Serasa jadi comblang aku"
Pradjna : "Terserah, Han. Aku capek, bye".
"Hana.." panggil Aris, ia sudah menghabiskan supnya ternyata.
"Oh..ya, sudah selesai - gimana enak ga'?".
"Ini sup buntut terenak yang pernah aku makan" kata Aris setelah mengelap mulutnya dengan tissue.
"Aku kenyang sekali hahahaha..." Aris menertawakan dirinya sendiri, Hana ikut tertawa.
"Bersyukurlah, masih banyak orang yang kurang makan di luar sana" ucap Hana bijak.
__ADS_1
Aris mengangguk mengiyakan.
"Apa aku bisa meminta tolong padamu, Han?" tanya Aris tiba-tiba.
Hana memandang pria di depannya itu, ia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Aris nantinya.
"Selama aku bisa akan aku usahakan" jawab Hana.
"Apa aku bisa meminta alamat tinggal Pradjna?" Aris meminta.
Hana terdiam, itu privacy Pradjna, memberikan alamatnya sama dengan menabuh genderang perang di antara mereka berdua.
"Kalau untuk hal itu, maaf aku tidak bisa tanpa seijin pemilik rumahnya" jawab Hana tegas.
"Lebih baik memintanya secara langsung kepada Pradjna" lanjut Hana lagi, ia tahu batasnya.
"Baiklah, aku mengerti, satu hal lagi, apa Pradjna sudah berkeluarga?" Aris meminta jawab lagi.
"Tentu saja, dia tinggal dengan keluarganya" jawab Hana cepat.
Aris tercenung, ia mendengar dari banyak orang bahwa Pradjna masih single, akan tetapi Hana mengatakan kembalikan.
"Terima kasih, untuk menemani malam ini juga untuk menjawab pertanyaanku" ucap Aris ramah.
"Sama-sama,Pak Haris. Bukan suatu hal yang merepotkan kok" jawab Hana pula.
__ADS_1
Mereka lantas berdiri, melangkah menuju mobil masing-masing untuk beranjak pulang.