
"Dasar perempuan tidak tahu diri!!" umpat Intan Rahardjo kesal di dalam mobilnya. Wajahnya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda itu penuh kemarahan.
"Kenapa dia bisa muncul lagi dan harus punya kontrak kerja dengannya pula" tangan Intan mengepal hingga buku jari-jarinya memutih.
Wanita itu memasuki rumahnya yang mewah dengan langkah tergesa, langkahnya terhenti di ruang tengah, seorang gadis cantik berdiri tersenyum kepadanya.
"Wina..!!!" serunya sambil menghampiri lalu memeluk gadis itu.
"Tante In, apa kabar? Long time no see" ucap gadis itu setelah Intan melepas pelukannya.
"Sehat sekali seperti yang kamu lihat. Kok ga' bilang kalau mau ke sini? Tante kan bisa suruh sopir buat jemput" kata Intan pada gadis yang di panggilnya Wina itu.
"Gapapa tante, tadi Wina nebeng temen kok, kebetulan satu arah" Wina menjelaskan.
"Oh ya, Tan. Wina mau ijin nginap di sini beberapa hari boleh kan? Ada pekerjaan di sini" lanjut gadis itu.
Mata Intan berbinar, terlihat sekali dia begitu senang.
"Tentu saja boleh, Sayang. Kamu mau tinggal di sinipun pasti Tante ijinin, kamu kan calon mantu kesayangan Tante" ucap Intan bersemangat.
"Tunggu sebentar, Tante telpon Aris dulu ya biar dia nanti pulang ke sini" kata Intan seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu menelpon Aris.
__ADS_1
"Ya, Ma" sahut Aris dari seberang.
"Nanti malam kamu makan di rumah ya, Ris! Ada yang Mama bahas sama kamu, ga' ada alasan, Mama tunggu" ucap Intan lalu menutup panggilannya, dia tahu Aris pasti akan menolak dengan banyak alasan bila panggilannya masih tersambung.
Intan tersenyum menghampiri Wina, "Aris datang nanti, sekarang beristirahatlah dulu, siapkan dirimu untuk nanti malam, Sayang" ucap Intan lembut pada Wina.
Wina mengangguk gembira, memanggil salah satu ART untuk membawakan travel bag nya ke kamar tamu.
Sementara itu Aris tengah berpikir di kantornya, apa yang membuat Mamanya menyuruh untuk makan di rumah setelah mereka sempat bersitegang tadi siang karena Pradjna. Ia hendak mengejar Pradjna tadi, ada banyak hal yang ingin ia tahu, setidaknya ia bisa mendekatkan diri terlebih dahulu sebelum menanyakan semua tanya yang ia simpan selama beberapa tahun ini.
Terlebih ia ingin meminta maaf untuk semua kesalahannya. Ia tidak tahu seperti apa hidup gadisnya itu setelah ia bertolak ke Amerika. Di malam sebelum Pradjna wisuda gadis itu sudah tidak menjawab panggilan teleponnya, membalas pesannya pun tidak.
Anehnya Hana memberi tahu bahwa Pradjna kuliah ke London karena mendapat beasiswa, lalu tadi Pradjna juga berkata bahwa ia kuliah sambil bekerja.
Berarti ada hal lain yang membuat Pradjna menghilang dan menutup semua akses kontaknya.
Bahkan apartment yang ia beli untuk Pradjna pun di sewakan dan uang sewa itu masuk ke rekeningnya. Pradjna pergi tanpa membawa apapun yang ia beri.
Parahnya Pradjna membawa pergi hati juga pikirannya. Dia nyaris gila saat itu hingga harus beberapa kali mengunjungi psikiater untuk bisa sebentar saja tidur.
Pradjna memenuhi semua hari juga pikirannya, ia sering merasa Pradjna memanggil namanya meminta tolong dan beberapa hari yang lalu akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.
__ADS_1
Ia bisa melihat Pradjna, yang justru terlihat semakin cantik dan matang. Wajah baby face itu masih sama menawannya dengan terakhir kali ia lihat di panggilan videonya. Senyumnya juga masih hangat walau seperti ada jarak yang sengaja diciptakan di antara mereka berdua.
Harapan dan rasa itu kembali muncul dan tumbuh subur di hati Aris. Ia berharap bisa mengurai benang kusut di antara mereka lalu merajut kisah lama yang sempat terputus itu. Terlebih dari itu, Aris mendengar dari beberapa orang bahwa Pradjna masih single dan menutup rapat semua informasi tentang kehidupan pribadinya. Ia akan mulai mencari tahu, ia harus mendapatkan jawaban secepat mungkin.
Aris menuju ke rumah Mamanya setelah pulang kantor, masih dengan setelan kantornya, melepas 2 kancing atas kemejanya juga menggulung lengan kemejanya.
Ia mengendarai pelan mobilnya, rasa hatinya seperti malas hendak menuju ke rumah itu. Hubungan mereka merenggang jauh semenjak Aris melempar tuduhan Mamanya lah penyebab menghilangnya Pradjna. tetapi wanita yang sudah melahirkannya itu menyangkal keras tuduhan tersebut.
Semua semakin menjadi dingin saat Mamanya mulai menjodohkannya dengan wanita-wanita yang menurut Mamanya kompeten sebagai mantunya. Aris muak sekali saat Mamanya selalu menyodorkan wanita-wanita itu padanya. Wina terutama, wajahnya memang cantik tetapi kepalanya seperti tidak ada isinya.
"Kalau cuma cantik, banci Thailand banyak yang lebih cantik darinya, Ma" begitu kata Aris dulu, hingga membuat Wina menangis dan Mamanya menampar pipinya. Wina memang cantik, ahli memulas make up pada wajahnya, juga memlilih pakaian mana yang akan ia kenakan lengkap dengan aksesorinya tapi coba ajak gadis itu mengobrol masalah saham atau berita negara terkini, di jamin tidak akan ada jawaban yang masuk akal. Apalagi hobi belanjanya itu, membuat kepala Aris pening seketika, bukan karena jumlah angka yang keluar, hanya ia tidak melihat kegunaannya. "Dasar wanita hedon" ucap Aris dalam hatinya mengingat gadis yang digadang-gadang menjadi mantu Mamanya itu. Aris bergidik, lebih baik jadi bujang lapuk daripada harus jadi suami Wina.
Mobil Aris sudah ada di depan gerbang rumahnya, seorang satpam membukakan gerbang.
Aris membuka kaca mobilnya melongokkan sedikit kepalanya keluar "Bang, siapa yang datang hari ini ke rumah?" tanyanya pada satpam rumahnya.
"Ada mba Wina, den Aris. Datang tadi sekitar jam 2 siang" jawab satpam itu.
Aris menghela nafasnya, feeling nya benar, ia memundurkan mobilnya lalu memutar ke arah ia pulang, lalu berhenti sebentar melambai ke satpamnya.
"Jangan bilang saya datang ya, Bang" kata Aris sambil menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan satpamnya itu lalu bergegas menginjak gasnya.
__ADS_1