ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 7


__ADS_3

Pradjna masih mengingat hari itu, setelah malam ia kehilangan kesuciannya, esok sorenya Aris berpamitan untuk melanjutkan studinya ke Amerika, berat bagi Pradjna melepas Aris tetapi dia harus merelakannya.


Ia terisak saat Aris memeluknya, mengucap salam perpisahan, Aris ingin ia ikut mengantar ke bandara tetapi seperti cari mati karena Mama Aris juga ada di sana. Ia dengan sedikit isakan melepas lelaki yang telah beberapa lama membersamai hidupnya itu.


"Jaga dirimu baik-baik sayang, aku pasti kembali, ku pastikan itu untukmu" Aris meyakinkannya.


"Iya, kamu juga baik-baiklah di sana, aku akan menunggu mu di sini" Pradjna menjawab.


"Pastikan kamu memberikan kabar padaku, semisal aku tidak menjawab saat itu juga, aku akan secepatnya menghubungimu sayang" lanjut Aris lagi lalu mencium bibir gadisnya itu lama, memeluk sambil menyesap harum rambut Pradjna.


"Lekaslah berangkat, Mama mu pasti menunggu mu kan, aku juga harus bekerja" Pradjna melepaskan pelukannya, mengusap pipi Aris perlahan. Masih ada sisa air mata d pipinya, Aris mengusapnya lantas mengecup kembali kening Pradjna lalu melangkah menuju lift sambil terus menatap Pradjna hingga pintu lift tertutup, menyisakan Pradjna yang berdiri termangu di depan pintunya.


Gadis itu bergegas masuk untuk kemudian merapikan dirinya bersiap untuk bekerja, setelah sidang skripsinya selesai ia memang menghabiskan banyak waktunya di restorant tempatnya bekerja.


Selain ia suka memasak ia memang sengaja menyibukkan dirinya sendiri daripada ia berdiam diri saja di apartmentnya, hanya akan membuat ia melamunkan Aris.


Ia baru saja selesai memakai apronnya saat ia merasakan ponselnya bergetar, pesan dari Aris


"30 menit lagi pesawatku berangkat, hati-hati sayang ku"


"tentu, kau juga berhati-hatilah, aku sudah di resto"


Pradjna mengakhiri pesan, lalu mengantongi ponselnya kembali.


Sudah dua minggu dari kepergian Aris, komunikasi mereka berjalan baik walau terkendala dengan perbedaan waktu.


Hingga satu hari Pradjna dipanggil untuk menghadap dekannya, beliau menyampaikannya tawaran beasiswa di London, Pradjna sedikit terkesiap, antara senang sekaligus terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka.


Dekan Pradjna juga mereferesikan beberapa flat yang dekat dengan kampus itu bila ia memang berminat melanjutkan studynya di sana.


Pradjna sangat berterima kasih, mencium punggung tangan wanita setengah baya itu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia akan mempertimbangkan beasiswa tersebut, saat Aris meneleponnya nanti malam ia akan mendiskusikannya. Hatinya penuh dengan kegembiraan hari itu, dia melangkah keluar dari kampusnya dengan bersenandung kecil, senyuman tak lepas dari wajah cantiknya itu.


Pradjna segera membuat makan siangnya begitu sampai di apartmentnya, ia membuat omelette, entah mengapa akhir-akhir ini ia sangat menyukai omelette, seperti Aris. Mungkin karena ia merindukannya, pikirnya kemudian tersenyum sendiri.


Hari ini Pradjna mengambil cuti, satu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Esok hari ia akan wisuda, pemilik resto memaksa ia cuti untuk menyiapkan hari bahagianya itu, bahkan mengancam akan mengusir Pradjna bila ia nekat datang ke resto.

__ADS_1


Pradjna menghabiskan harinya dengan bersantai, mencari beberapa info tentang penawaran dekannya tadi. Ia harus memastikan mengetahui walau cuma sedikit.


Ia hampir saja terlelap saat suara bel pintunya berbunyi.


Pradjna sedikit mengernyit berfikir, hampir tidak pernah ada yang bertamu lalu siapa yang menekan belnya.


Pradjna melangkah membuka pintunya, jantungnya terkesiap seketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.


"Hallo! aku tidak akan lama, tinggalkan putra ku, pergilah sejauh munkin, jangan pernah kembali lagi" ucap wanita setengah baya itu to the point.


Pradjna semakin menegang, wanita itu lalu menyerahkan sebuah amplop tipis


"Di dalam sini ada cek, kau boleh mengisi semaumu dengan syarat tinggalkan putra ku" lanjut wanita itu kembali.


Wanita tersebut melangkah lalu berbalik kembali "jangan lupa pergi sejauh mungkin dan jangan kembali" tegasnya mengingatkan lalu melangkah dengan anggunnya ke lift di ikuti asistennya.


Pradjna masih mematung di tempatnya berdiri, shock dengan kenyataan yang baru saja diterimanya. Tubuhnya mendadak menggigil kedinginan pandangannya menggelap seketika.


Saat ia membuka mata, ia merasakan kepalanya pening.


" Oh Tuhan, syukurlah akhirnya kau sadar, Nona" sebuah suara mengalihkan perhatian Pradjna, di depannya ada seorang anak kecil berusia 5 tahunan dipangku seorang pria berusia 30 tahunan.


"Kami menemukan mu pingsan di depan pintu apartment mu, Nona" pria tersebut memberikan penjelasan.


"Istriku yang mengusulkan membawamu kemari, kebetulan ia seorang dokter" lanjut pria itu lagi.


Pradjna mengangguk berterima kasih "maaf sudah merepotkan" ucapnya.


"Ah. kau sudah siuman Nona" suara yang lembut menyapanya, Pradjna menatap wanita yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Minumlah teh ini dulu" ucap wanita tersebut ramah.


"Terima kasih, maaf sudah merepotkan" balas Pradjna, wanita tersebut menggeleng tersenyum, "tidak mengapa, bukankah memang seperti itu hidup seharusnya berjalan" lanjutnya menatap Pradjna hangat.


"Setelah ini pergilah ke klinik, kamu harus memeriksakan dirimu" kata wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Diana itu

__ADS_1


"Tapi aku baik-baik saja,Dok. Mungkin hanya kelelahan, besok pagi hari wisuda ku" jawab Pradjna sekenanya, ia sungguh enggan ke klinik, dia hanya shock tadi Mama Aris tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Ada yang harus kau periksakan, Pradjna. Agar kau bisa lebih baik lagi merawatnya" sergah Dr. Diana lagi


"Apa maksud,dokter?" tanya Pradjn menyelidik


"Aku mengira kau hamil tetapi perlu check up lebih lagi untuk memastikan hal tersebut, untuk itulah aku meminta mu untuk ke klinik, bisa ku temani bila engkau mau. Kebetulan sore ini aku bebas praktek" kata Dr.Diana


Pradjna seketika memucat lagi, ya Tuhan ada apa dengan hari ini, tadi pagi ia mendapat berita gembira tentang beasiswanya, lalu siang harinya ia didatangi Mamanya Aris, sore ini ia dikira hamil.


Kepalang bertambah pening tetapi dipaksanya tubuhnya bertahan, dia tidak boleh pingsan lagi.


Ia akhirnya menyetujui untuk ke klinik bersama Dr.Diana, mereka berangkat setelah Pradjna merapikan dirinya.


"Ini kantung Rahim, lalu ini adalah janinnya, masih sangat muda, kurang lebih satu minggu" ucap dokter obsgyn yang ramah itu.


"Jaga kesehatan, perhatikan asupan makanan yang masuk, istirahat yang cukup, juga harus berhati-hati ditri semester pertama ya" dokter tersebut menjelaskan seraya menuliskan beberapa resep.


"Ini vitamin juga beberapa supplement, pastikan diminum secara teratur ya" lanjut dokter tersebut.


Pradjna menegang di tempat duduknya, ia hamil. Sungguh hari yang sangat berat baginya.


Satu hari dengan beragam rasa, perih, sakit dan takut yang mendominasi.


Ia sudah ingin menangis saat Dr.Diana menepuk halus pundaknya, mengajak beranjak dari kamar periksa tersebut.


Setelah selesai menebus resep mereka bergegas pulang, hari mulai beranjak malam, sinar lampu berpendar menerangi jalanan.


Pradjna masih terdiam saat mobil memasuki basements apartment mereka.


"Pradjna, apa kau ingin menceritakan sesuatu? Siapa tahu dapat melegakanmu" Dr.Diana menyentuh lengannya pelan.


Pradjna menatap wanita cantik di sampingnya lalu air matanya meluruh begitu saja. Ia sungguh kacau, ia bingung harus bagaimana, terlebih ia sendiri saat ini. Kepada siapa dia harus bercerita. Dr. Diana memeluknya mengusap pelan punggung gadis itu.


Ada beberapa saat lamanya hening di dalam mobil itu, hanya isakan Pradjna yang kadang terdengar.

__ADS_1


"Kamu bisa bercerita padaku jika sudah siap dan kau mau, aku pendengar yang baik kok" Dr.Diana tersenyum menatapnya.


Pradjna mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu beranjak keluar dari mobil tersebut dan melangkah menuju ke lift bersama Dr.Diana.


__ADS_2