
"Bagaimana bisa kau terima putraku bekerja pada mu, ******" sebuah chat masuk ke dalam aplikasi perpesanan Pradjna.
Keningnya berkerut, membaca pesan itu. Dia bukan jenis orang yang senang memberikan nomor ponselnya secara cuma-cuma kepada orang lain.
Tetapi dari kata-katanya Pradjna sudah tahu siapa yang mengirim pesan itu.
Pradjna mengabaikan pesan tersebut lalu menyibukkan dirinya kembali dengan pekerjaannya.
Hingga ia harus mendongakkan kepalanya kembali dari laptopnya karena ponselnya terus berdering. Ia sudah hampir menggeser tombol hijau itu ke atas saat ketukan di pintunya lalu sosok Dave muncul dari baliknya.
"Something wrong?" tanya Dave sambil ekor matanya melirik ke ponsel Pradjna.
"Sepertinya ada yang kebelet marah sama aku, Dave" jawab Pradjna sekenanya. "Ibunya Haris" lanjut Pradjna sambil dagunya mengarah ke benda pipih yang masih saja terus bergetar itu.
"May I...?" Dave meminta izin, Pradjna lantas menggeleng.
__ADS_1
"Jika ia ingin anaknya kembali, ia harus berhadapan langsung dengan ku" Pradjna menyilangkan tangannya di depan dada, jelas sekali ia tidak mau dibantah.
Dave mengangguk mengerti, ia hanya harus memastikan wanita di hadapannya ini aman, hanya itu.
"Aku mampir untuk mengajak mu makan siang, apa kau mau?" Dave bertanya.
"Kita ajak Hana ya" kata Pradjna lalu mengambil ponselnya menelepon Hana.
"Mengapa kalian lama sekali, aku sudah kelaparan ini" suara Hana dari seberang terdengar keras sekali, Pradjna sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga lalu memandang Dave penuh tanya.
"Ciieee...ada kemajuan nih" katanya pada Hana sambil tertawa dan Hana langsung menutup ponselnya. Pradjna tertawa terbahak hingga Dave menatapnya dengan heran.
"Come on Dave, kita berangkat sekarang" Pradjna beranjak keluar menenteng tas.
Pradjna baru melepas seat beltnya saat dilihatnya Aris sedang bermain dengan Arya di halaman restonya. Matanya langsung membulat sempurna melihat pemandangan itu. Wajahnya memucat sekaligus memerah karena marah juga takut. Dave memanggilnya beberapa kali, mengajaknya turun.
__ADS_1
Hana juga terlihat ikut bermain lempar bola dengan Aris juga Arya, mereka terlihat sangat gembira sekali, saling menangkap juga melempar bola bergantian. Pradjna terpaku di tempatnya saat dilihatnya Aris menangkap tubuh Arya lalu memeluk dalam gendongannya.
Air matanya meluruh deras saat putranya itu memeluk erat Aris lalu membalas ciuman Aris dipipinya, kakinya serasa tak mampu melangkah maju. Ia tetap berdiri ditempatnya dengan dada yang hampir meledak rasanya.
Bahunya tergugu kencang seiring dengan makin deras air matanya, hingga teriakan Dave menyadarkan mereka yang masih asyik bermain, Arya langsung berteriak saat melihat mamanya menangis. Bocah cilik itu meronta turun dari gendongan Aris lalu berlari kepada Pradjna. Memeluk kaki Pradjna sambil ikut menangis, entah apa yang dirasakan anak itu.
Pradjna tersadar saat Arya berteriak histeris karena tidak dihiraukan, ia membungkuk, mensejajarkan dirinya dengan Arya, lalu Arya memeluk Pradjna erat.
"Maafin Alya, Ma. Alya main ga' ijin Mama" kata bocah itu masih dengan tangisnya. Pradjna tidak bisa menjawab, ia hanya memeluk sambil tangannya mengelus punggung Arya, ada banyak rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, betapa ia melihat anaknya sangat gembira tadi, hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Seencer apapun darah tetap lebih kental daripada air bukan.
Darah yang mengalir dalam tubuh Arya adalah darah Aris, Pradjna tidak bisa menyangkal hal itu. Cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu dan dia lupa menyiapkan diri untuk hal itu. Pradjna mengabaikan hal itu, fokusnya langsung terpecah saat hal itu terjadi sekarang, secepat ini.
Aris menyentuh pelan pundak Pradjna, membantunya berdiri, lalu merengkuh wanita itu dalam peluknya. Memeluknya sangat erat seperti takut Pradjna akan berlari bila pelukannya mengendur sedikit saja. Ia merasakan bahu Pradjna terguncang kencang dan tangisnya makin deras. Ia ikut menangis, ia tahu rasanya, ini semua karena dosanya, karena ia yang merusaknya. Betapa bajingannya dirinya. Gadisnya yang ia janjikan semua hal ternyata melalui semua hal berat yang juga menyakitkan sendirian dan jauh dari siapapun.
Benar-benar ******** tengik dirinya ini, Aris merutuki dirinya sendiri di dalam hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Pra. Tolong maafkan aku, Sayang" ucap Aris disela tangisnya. Tangis Pradjna makin menjadi demi mendengar ucapan maaf Aris tersebut. Kepalanya makin pening, dadanya menjadi sesak lalu semua menjadi gelap.