
"Hana, tinggalah di rumahku selama Dave ada di sini, akan lebih baik juga seru kalau kita sama-sama kan" pinta Pradjna pada Hana.
"Akan aku pikirkan nanti, ada beberapa event sebentar lagi, bisa jadi aku akan sering lembur, kasian Mang Ajun jika harus membuka pagar untuk ku di saat seharusnya ia pulas tidur" kata Hana.
"Aku bisa menduplikat kunci jika itu masalahnya, lagi pula akan ada tambahan orang untuk menjaga rumah kan, orang-orang Dave akan mulai datang besok, come on Han" rengek Pradjna memohon.
Hana menatap Pradjna, ia gamang. Apa ia harus berterus terang bila ia jatuh cinta pada Dave, sementara Dave sendiri malah naksir Pradjna.
"Bodohnya kamu, Han!" gerutu Hana dalam hatinya.
"Hm...kita lihat dulu seperti apa kondisinya nanti ya, aku takut rumahmu jadi penuh sesak nantinya" Hana sedikit menyeringai saat dilihatnya Pradjna mendelik.
"Aku tidak menerima penolakan,Han. Ayo kita ke apartment mu, aku bantu berkemas" ucap Pradjna lalu melangkah keluar dari ruangan Hana.
__ADS_1
Hana menghela nafas, memejamkan sebentar matanya.
"Control yourself,Hana. You will" ucap Hana dalam hatinya. Ia lantas keluar setelah mengambil tas juga ponselnya.
"Han, aku tahu kamu suka Dave, walo aku juga menyadari Dave dari dulu berusaha mendekati aku" Pradjna membuka percakapan, jalanan tidak semacet biasanya, membuat Pradjna bisa menyetir dengan sedikit santai.
Pradjna melirik Hana yang hanya diam menatap lurus jalanan di depannya.
"Aku akan membantumu memenangkan hatinya, ini salah satu caranya, kamu pindah ke rumahku sementara dia ada di sini. Aku sendiri sudah memutuskan akan menyambut ajakan perang Intan Rahardjo, sedikit kejam sih kedengarannya tetapi aku ingin anaknya mengakui Arya - yah walau aku tahu dia pasti akan mengakuinya bila tahu yang sebenarnya. Sesudahnya, aku bersama Aris atau tidak, bukan masalah bagiku. Dengan membuka fakta bahwa Arya adalah anak Aris itu sudah cukup untuk membuat Nyonya besar yang sangat terhormat itu tertampar" jelas Pradjna.
"Aku sehat, Han. Ga' lagi kesurupan juga, aku waras banget" kata Pradjna sambil menepis tangan Hana yang ada di dahinya.
"Kamu serius mau membuka semua? Kamu tahu resikonya? Kamu punya banyak orang yang bergantung padamu, Pra? Kalau langkahmu ini berimbas pada usaha kita, gimana?" cerocos Hana.
__ADS_1
"Sudah ku pikirkan semua, plan A - B - C is ready, tenangkan jiwamu, Sayang. Kan kamu sendiri yang bilang bahwa Bahagia itu harus dicari dan diupayakan, bukan?" jawab Pradjna sedikit terkekeh.
"Jangan sok serius gitu deh, serius itu kan lakon ku, kamu ga' boleh nyerobot" lanjut Pradjna lagi, sekarang ia sambil tertawa terbahak melihat wajah Hana yang masam.
"Itu tadi misi pertama, misi tambahan ku adalah memastikan kamu jadian sama Dave, hahahaha...." gelak Pradjna terdengar nyaring di dalam mobil itu.
"Aku pengen bisa mudik ke London lagi, Han. Kalau kamu nikah sama Dave kan aku bisa numpang di rumah kalian, sama seperti dulu aku numpang di flat mu" lanjut Pradjna lagi masih dengan tawanya.
Hana hanya tersenyum kecut, dia tidak berani berharap, walau ia ingin membayangkan hal indah itu.
Dia sudah mengetahui seberapa besar rasa sayang juga cinta Dave pada Pradjna, bagi Dave Pradjna adalah segalanya dan ia hanya seorang sahabat yang selalu ada untuk mencurahkan hati juga mendekatkannya pada Pradjna.
"Aku harap kamu tidak akan terluka lagi, Pra. Sudah cukup kamu tersakiti selama ini" kata Hana saat mobilnya memasuki basement apartmentnya. Pradjna tersenyum lalu mengangsurkan jari kelingkingnya pada Hana, meminta Hana melakukan hal yang sama pula, "You have my word, sista!" ucap Pradjna, lalu melangkah keluar dari mobil menuju ke lift untuk ke kamar Hana.
__ADS_1
Pradjna dengan cekatan membantu Hana memasukkan beberapa lembar pakaian juga perlengkapan yang lainnya. Hana tidak membawa banyak pakaian ataupun barang, ia berkilah bisa mampir ke apartmentnya bila tiba-tiba membutuhkan sesuatu.
Setelah yakin semua yang dibutuhkan Hana sudah terpacking mereka bergegas turun, melanjutkan perjalanan ke rumah Pradjna.