
Hana tersenyum kecil saat Pradjna mengungkapkan keinginannya.
"With my pleasure, boss!" jawab Hana, lalu memencet sebuah nomor di ponselnya melakukan panggilan suara.
"Hi. Ya, it's me. I don't know it's your time or not, but we need your help, can you take a flight to go there soon?"
Hana mengangguk demi mendengar jawaban dari seberang.
"Well, I'll send you a ticket soon, thank you" kata Hana lalu mengakhiri panggilannya.
Pradjna tengah sibuk dengan pekerjaannya saat pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Ya, masuk" jawabnya sambil masih menekuni kertas-kertas di depannya.
"Good afternoon Miss Pradjna, am I interrupting you?" sapa sebuah suara dengan aksen yang Skotland yang sangat kental. Pradjna langsung mendongakkan kepalanya demi mendengar suara itu.
"Oh God, it's you, Dave..!!!" Pradjna hampir berteriak saking girangnya. Ia langsung menghambur ke pelukan orang yang dipanggilnya Dave itu, lalu memandangnya seolah tak mempercayai matanya sendiri.
__ADS_1
"Woohoo something wrong with you, Pra? Why you look at me like that" tanya Dave.
"I can't believe it, you scared me there, hahahaha...oh Dave, I miss you so bad" ucap Pradjna, tangis dan tawanya menjadi satu. Dave mendekat ke Pradjna, memeluk wanita itu lagi, mengusap air mata Pradjna.
"May I join you?" suara Hana terdengar di belakang mereka.
Dave dan Pradjna melihat Hana yang sudah berdiri tepat di depan mereka dan Dave berpindah memeluk Hana.
"Nice to meet you, Hana" ucap Dave, Hana tersenyum menanggapinya lalu mendelik saat Pradjna memeluk lagi mereka berdua.
"Okay, explain me, why you come there, Dave? A job or holiday?" tanya Pradjna pada Dave, mereka sudah sampai di Sabana resto milik Pradjna.
"I'm gonna stay for a while, take care of you and also Arya" jawab Dave.
"Well, just in case, bila ada yang mau nakalin kamu" lanjut Dave.
Pradjna menaikkan alisnya lalu memandang Hana dengan tanya.
__ADS_1
"Kamu sampai harus mendatangkan Dave untuk hal yang aku minta kemarin, Han?" Pradjna memastikan.
"Karena aku percaya dia bisa dan mampu, Pra?" jawab Hana.
"Lagi pula tidak akan ada yang curiga sama sekali dengannya bukan, atau kau mau terlihat mencolok dengan kita menyewa body guard?" papar Hana.
"Kamu benar, Han. Hanya saja aku seperti merasa ini agak berlebihan" kata Pradjna.
"Intan Rahardjo itu bukan orang sembarangan, Pra. Yah, walo mulutnya persis comberan kalau uda marah tapi dia punya kuasa juga uang untuk memudahkan jalannya dan aku juga tidak mau gegabah, karena bagaimana pun dia nenek Arya, itu yang membuatku memutuskan untuk meminta bantuan Dave" jelas Hana.
Pradjna menatap dua orang itu, mereka tidak akan mengecewakan apalagi menghianatinya.
"Okay, aku setuju dengan mu, Han. Terima kasih sudah berfikir sejauh itu untuk ku juga Arya, kau memang yang terbaik" ucap Hana.
"Wait, kita harus menunggu Arya terlebih dulu, aku sudah meminta Mang Ajun juga Bi May untuk menyusul kemari. Dave, let's wait Arya for a bit" kata Pradjna pada Dave yang langsung mengangguk mengerti.
"Dia pasti senang uncle nya datang kemari" Hana menyahut, Pradjna tertawa, dia sudah membayangkan akan seperti apa reaksi Arya nanti.
__ADS_1