ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 9


__ADS_3

Di sinilah sekarang Pradjna berdiri, bandara Heathrow, bandara tersibuk di London, seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan bila akan sampai di sini. Pradjna beranjak menuju pintu keluar, ia mengaktifkan ponselnya untuk memberi tahu Hana bahwa ia telah tiba.


Matanya berputar mencari wajah yang ada di ponselnya, terlihat olehnya seorang gadis dengan kertas bertuliskan namanya. Pradjna mempercepat langkahnya mendekat, "Hana?" tanyanya meyakinkan pada gadis itu.


"Oh, hai Pradjna ya it's me" jawabnya ramah.


"Mari ke arah sini" lanjut Hana lagi mengarahkan Pradjna keluar.


"Bagaimana penerbangan mu? cukup melelahkan pastinya kan", Hana membuka percakapan.


"Lumayan, lebih enak bernafas saat menapak bumi" jawab Pradjna tertawa, Hana menimpali tawa itu juga.


"15 jam 40 menit yang luar biasa kan" lanjut Hana masih dengan tawanya.


"Kamu bisa beristirahat terlebih dahulu, besok saat hilang jet lag mu akan ku antar ke kampus mu itu. Aku harap dengan kondisi mu yang seperti ini kalian akan baik-baik saja setelah menempuh perjalanan panjang" jabar Hana.


Pradjna mengangguk mengucap terima kasih.

__ADS_1


"Maaf bila merepotkan mu" kata Pradjna.


"Tak apa, aku harap kita bisa jadi teman baik" Hana tersenyum menepuk pundak Pradjna.


Pradjna menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Terlihat sekali ia terkagum-kagum.


"Sungguh kota yang indah" katanya dalam hati.


Kurang lebih 30 menit kemudian mereka sudah memasuki kota.


Hana sudah memarkirkan mobilnya di basement, menuju ke lantai 2 flat tersebut. Ia sedikit terengah, bisa jadi karena kelelahan. Hana tertawa kecil melihatnya, "Anggap saja olahraga ringan, Pra. Bibi bilang kau sering berjalan kaki dari kost mu hingga ke resto" kata Hana, Pradjna mengiyakan saat Hana mulai memutar kunci di depan pintu coklat.


"Nah, welcome to the club, Pradjna Paramitha!" seru Hana riang.


Mata Pradjna memutar, sebuah ruangan yang hangat didominasi warna krem juga coklat. Mereka melangkah masuk, ada sebuah soffa besar dengan karpet dan beberapa bantal besar di bawahnya, di depan soffa ada televisi. "Homy sekali" katanya di dalam hati.


"Aku pasti akan betah, lihat ini benar-benar nyaman sekali" ujar Pradjna menghenyakkan tubuhnya ke soffa.

__ADS_1


Hana tertawa "Bersihkan dulu dirimu, kamar mandi ada di depan dapur, kau bisa tidur setelahnya, atau jika kau lapar, aku sudah masak tadi, bisa ku hangatkan sebentar di microwave".


Pradjna memilih membersihkan dirinya terlebih dulu yang terasa lengket. Sesaat kemudian ia sudah keluar dengan rasa segar.


Hana menatapnya "Aku harus mengerjakan beberapa hal, mungkin malam hari aku baru kembali. Kau bisa menghubungi ku bila membutuhkan sesuatu".


"Baiklah tak mengapa, aku akan baik-baik saja, aku rasa akan tidur saja" jawab Pradjna.


Hana melambaikan tangan, melangkah menuju ke pintu, beranjak pergi.


Pradjna menyandarkan tubuhnya sebentar di soffa lalu beranjak menuju ke kamarnya.


Sebuah ruangan berukuran sedang yang cukup untuk dirinya. Meletakkan kopernya di samping lemari lalu merebahkan dirinya ke kasur.


"Mampukan diriku untuk melalui semua ini, amen" ucapnya pada dirinya sendiri.


Ia menutup matanya dan sebentar kemudian mulai terlelap.

__ADS_1


__ADS_2