ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 20


__ADS_3

Aris baru akan memasuki kamarnya saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dengan sedikit kasar ia melepaskan pelukan itu lalu membalikkan badannya. Di depannya Wina memasang wajah cemberut.


"Kenapa ga' mau dipeluk, kan aku kangen sayang" rajuk gadis itu, lalu menggamit lengan Aris, "Temani aku makan yuk, Yang!" Wina mulai menarik lengan Aris.


"Kamu apa-apaan sih, kalo mau makan ya makanlah sendiri sana" sentak Aris melepas pegangan Wina.


"Kamu kenapa kasar sama aku, Yang? Aku calon istrimu lho, sebentar lagi kita mau nikah" Wina mulai marah, wajahnya yang putih ini memerah seketika.


"Calon istri - nikah? Cuci muka dulu sana, biar kamu bangun dari mimpi mu. Jangan harap aku mau menikah dengan mu" kata Aris tak kalah galak.


"Oh...kamu meragukan rencana pernikahan kita? Tanya langsung Mama mu, minggu ini kita bakal bertunangan lalu bulan depan - 2 minggu lagi kita menikah" Wina menatapnya dengan mata penuh sorot kemenangan.


Aris membeku mendengar penuturan Wina barusan. Pertunangan - pernikahan?. Tanpa pemberitahuan kepadanya terlebih dahulu?.


"Ini gila!!!" rutuknya keras dalam hati.


Aris bergegas masuk ke dalam kamarnya lantas langsung mengunci pintunya, tak dihiraukannya teriakan marah Wina juga gedoran di pintunya.


Ia memberesi beberapa perlengkapannya, memasukkan dalam bag packnya lalu menelepon staff hotel untuk menyingkirkan Wina dari depan kamarnya yang masih saja memanggilnya berusaha menyuruh Aris untuk membuka pintunya.


Tak berapa lama teriakan marah Wina terdengar lebih keras, security hotel sepertinya perlu usaha keras untuk mengeluarkan gadis itu dari hotel.


Setelah dirasanya suasana sudah aman, Aris keluar dari kamarnya, ia harus menemui Mamanya, ia tidak bisa bertunangan dengan Wina apalagi menikahinya.


"Kalau kamu datang untuk menolak pertunangan mu dengan Wina, sudah terlambat!" ucap Intan Rahardjo tajam.


"Kalau begitu terserah Mama saja, tapi jangan harap aku akan hadir" kata Aris sambil melangkah keluar dari ruangan kerja Mamanya itu.


Tepat saat kakinya sampai di depan pintu, beberapa orang muncul di hadapannya. Ia mengenali beberapa diantaranya, para centeng yang dilabeli body guard oleh Mamanya. Aris kembali membalikkan badan menatap tepat ke wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


"Mama mau menyandera aku?" tanyanya


Intan Rahardjo hanya diam menatapnya tajam.


"Aku sudah 34 tahun, Ma, dan aku lelaki bukan prawan tua yang harus mama jodohin" lanjut Aris.


"Kalau yang Mama takutkan aku kembali mengejar Pradjna, tolong siapkan hati Mama, karena aku memang akan melakukannya. Satu lagi, Ma. Wina yang Mama pandang sempurna itu tidak lebih baik dari lalat yang hinggap ke sana-sini menyebar penyakit." Aris mengeluarkan sebuah amplop coklat lalu mengeluarkan beberapa foto menunjukkan pada Mamanya. Tampak di foto itu Wina dengan beberapa lelaki yang berbeda dengan penampilan yang tak selayaknya.


"Menantu model bintang porno ini yang Mama mau? Kalau iya, lebih baik Mama cari anak angkat saja untuk menikahinya, jangan aku, Ma!" ucap Aris cepat, lalu berbalik melangkah keluar dengan langkah mantap.


"Sentuh aku, akan ku ledakkan kepala kalian!" gertak Aris keras sambil mengacungkan pistolnya ke depan, ia memang sudah memperhitungkan hal ini. Bukan pertama kalinya Mamanya memaksakan kehendaknya, setelah Papanya meninggal wanita itu terlalu over protektif padanya. Hal itu membuatnya benar-benar jengah.


Enam orang yang berusaha menghalangi jalannya tadi mundur, memberi ruang Aris untuk melangkah keluar.


Aris mengeluarkan ponselnya lalu mengetikkan pesan.


"Mulai detik ini, saya mundur dari perusahaan Ibu Intan, Ibu bisa segera memilih pengganti saya, semua saya kembalikan kepada lbu, terima kasih" Aris menekan tombol kirim, tak berapa lama notifikasi pesannya telah dibaca, Aris melangkah keluar dari rumah besar seperti istana itu.


Aris melangkah tanpa arah, ia berpikir di mana malam ini ia harus tidur. Bisa saja ia menginap di salah satu rumah temannya, tetapi ia sedang enggan. Hanya akan menambah daftar orang yang masuk ke dalam masalahnya dan ia tak mau menyusahkan orang lain lagi.


Aris memasuki taman, ia melangkah ke kursi yang kosong, berjalan lebih dari 30 menit lumayan membuat nafasnya tersengal, ia meminum air mineral yang ia beli di jalan tadi. Masih lumayan ramai, jarum jam masih menunjuk di angka delapan. Ia memutuskan untuk bermalam di taman itu, toh ada canopy yang terpasang ditiap bangku taman tersebut. Aris melihat orang yang berlalu lalang lewat di depannya. Matanya mulai mengantuk, mungkin juga ia lelah karena berjalan lumayan jauh, lelah juga melewati harinya ini tadi.


Aris menaikkan kakinya, tasnya ia jadikan bantal, bangku taman yang tak seberapa panjang itu membuatnya harus menekuk kaki.


"Tak mengapa harus seperti ini, akan ku jalani" gumamnya pelan, lalu mulai menutup matanya.


Aris terbangun dengan mata memincing karena silau, ia juga mendengar cicit burung di sekitarnya, matanya mulai membuka lebar lalu mengingat bahwa ia tidur di taman semalam.


Ia baru akan beranjak dari bangkunya saat dilihatnya seorang anak kecil tengah berlarian dengan senangnya.

__ADS_1


Anak itu berlari ke arahnya lalu jatuh terduduk karena menyandung batu kecil.


"Aduh, cakiiittt....!!!" teriak bocah kecil itu, dari belakangnya menyusul dengan tergopoh-gopoh seorang wanita paruh baya.


"Jatuh kan, Bibi bilang tadi jalan aja, Mas. Ga' usah lari" kata wanita itu membantu anak kecil itu berdiri, menepuk pelan celana anak itu yang jadi kotor.


Aris mendekati bocah kecil itu, entah mengapa ia merasa hangat saat memandangnya.


"Apa kau terluka, Nak?" sapa Aris pada mereka berdua yang langsung mendongakkan kepala memandangnya.


"Tidak, gapapa, Alya cuma kpeset" jawab anak itu dengan aksen cadelnya.


"Tidak apa-apa, Pak - eh, Mas" jawab wanita yang menyebut dirinya Bibi itu tadi.


"Uncle mau loti?" tanya anak itu sambil mengangsurkan sepotong roti yang di belah menjadi dua.


Aris merasakan perasaannya makin tak karuan, ia seperti merasa hatinya dekat sekali dengan anak itu.


Ia berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan anak itu "Namamu siapa, Nak?" tanyanya, menatap lekat ke wajah bulat di depannya.


"Alya uncle" jawabnya sambil mengunyah rotinya tadi.


"Arya oom" jawab Bibinya yang berdiri di samping bocah tampan itu.


"Senang berkenalan denganmu, Arya. Boleh kita main sama-sama kapan-kapan?" tanya Aris yang di jawab dengan anggukan anak itu.


Bibinya lantas mengajak Arya pulang, setelah memberi salam pada Aris.


Ada rasa kehilangan saat mereka berdua berlalu. Aris menghembuskan nafasnya, rasanya dadanya sesak seketika.

__ADS_1


"Ada apa denganku?" tanyanya dalam hati keheranan sendiri.


Ia melangkah keluar taman, ia sudah menentukan kemana ia akan pergi pagi ini.


__ADS_2