
Pradjna baru saja keluar dari kamar Arya saat Hana memasuki ruang tengah rumahnya, Hana mendekat ke arahnya.
"Dia makan dengan lahap tadi, ia bilang enak" kata Hana setengah berbisik di telinga Pradjna.
"Hm.." jawab Pradjna pendek.
"Aku mau mandi dulu, selesai mandi ku ceritakan detailnya" tukas Hana lalu melangkah ke kamarnya.
"Aku tunggu di taman belakang ya" kata Pradjna yang di jawab dengan anggukan oleh Hana.
Hana membuat secangkir coklat panas, ia akan membawanya sambil berbincang dengan Pradjna. Langkah Hana terhenti di depan pintu saat dilihatnya Dave duduk disamping Pradjna di taman belakang yang langsung terhubung dengan kolam renang.
Ia melihat Dave melingkarkan tangannya ke bahu Pradjna sambil menatap sahabatnya itu dengan penuh cinta.
__ADS_1
Hana membalikkan badannya, menuju ke kamarnya sendiri, kemudian masuk dan mengunci pintunya, ia terisak.
"Pagi, Han!. Semalam aku menunggu mu, sampai habis di gigitin nyamuk" ucap Pradjna di ruang makan, mereka sedang bersiap untuk sarapan.
"Aku lelah sekali, lepas mandi aku berbaring sebentar tapi rupanya bablas ketiduran" jawab Hana dengan muka kecut, ia berharap concealernya teraplikasi dengan rapi jadi kantung mata plus sembab tangisnya semalam tertutupi sempurna.
"Hm...sepertinya kau butuh cuti, setelah tiga event kita di bulan depan, ambillah cuti mu. Lia pasti bisa menggantikan mu untuk sementara waktu" kata Pradjna sambil menatap Hana. Ia seperti merasa ada yang aneh dengan Hana tetapi entah apa itu. Hana hanya menunduk, fokus pada nasi goreng di piringnya.
"Sepertinya kita harus bicara, Hana. Dari tadi pagi sepertinya kau terus menghindari aku" Pradjna memandangi Hana yang sibuk dengan laptopny.
"Aku gapapa, Pra. Memang banyak pekerjaan, kau lihat sendiri kan" jawab Hana tanpa memalingkan matanya dari laptop.
"Tapi ada yang lain, kamu seperti berbeda, ada yang coba kau sembunyikan dari ku" lanjut Pradjna sambil menutup laptop Hana, membuat Hana mendongakkan kepalanya menatap Pradjna.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kau lihat, Pra?. Aku sedang bekerja bukan melamun" ucap Hana tepat di depan wajah Pradjna, terlihat sekali ia marah.
"Kamu cemburu liat Dave sama aku semalam?" Pradjna terkekeh sambil menyentil pelan hidung Hana.
Mata Hana membulat mendengar itu, ia melangkah ke soffanya. Pradjna menghampiri duduk di sebelahnya.
"Apa kau tahu, semalam aku meminta Dave untuk berhenti mendekati aku. Ia menolak - tentu saja. Hanya saja aku sudah menjelaskan dan semoga ia mengerti" Pradjna mengambil jeda.
"Aku bilang, bisa saja aku menjadi kekasihnya, tetapi aku akan kehilangan sahabat terbaik ku, yaitu kamu, Hana" Pradjna melirik Hana yang hanya diam.
"Lalu bila aku menjadi kekasihnya dan kami putus, aku juga akan kehilangan dia. Aku menyakitimu lalu aku juga sakit sendiri kehilangan kalian berdua, kita semua merasakan sakit" lanjut Pradjna.
"Semoga engkau mengerti, Han. Dave memelukku semalam untuk semua penjelasan ini. Aku tidak akan mengambil apa-apa yang kau cintai karena aku juga mencintaimu" Pradjna memeluk Hana yang masih terdiam, mungkin gadis itu masih marah atau kecewa, biarlah tak mengapa, dia sudah menjelaskan, Hana hanya butuh waktu, batin Pradjna.
__ADS_1