ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Episode 37


__ADS_3

Pradjna dan Hana tengah disibukkan dengan project event mereka. Semua sudah harus ready sore ini karena konser dimulai pukul 19.00.


Ada sedikit masalah pada lighting panggung, tekhnisi yang biasa meng-handle hal tersebut sedang berhalangan hadir karena sakit. Hana sedikit kelimpungan mencari penggantinya karena tekhnisi yang lain pun tengah repot dengan event di tempat lain.


Waktu sudah hampir beranjak senja saat masalah dengan lighting juga effect panggung selesai juga akhirnya. Pradjna berpamitan pada Hana yang memang sengaja tinggal untuk memastikan hal teknis lainnya sementara Pradjna ada sesi konsul dengan Diandra sore ini yang mengharuskan ia hadir mendampingi Arya.


Diandra sudah duduk di ruang tamu fokus dengan ponselnya saat Pradjna memasuki rumahnya. Pradjna berpamitan untuk membersihkan dirinya dulu sebentar, Diandra tidak keberatan, mereka sudah lumayan akrab setelah hampir 2 minggu ini sering berinteraksi. Arya juga sudah menunjukkan perubahan sikap, sudah mulai terbuka kembali walau belum sepenuhnya, sudah berani keluar kamar berinteraksi dengan para asisten di rumah mereka.


Pradjna menghampiri Diandra yang tengah menyesap tehnya. Mereka berjalan beriringan ke kamar Arya. Pradjna mengetuk pintu kamar Arya perlahan sebelum membuka pintu bercat soft blue itu. Arya terlihat asyik dengan legonya dan Mang Ajun duduk menemani di depannya. Pradjna dan Diandra tersenyum saat Mang Ajun ijin undur diri keluar dari kamar Arya itu.


"Hallo ganteng, how was your day?" sapa Diandra sambil mengacak rambut Arya yang mulai panjang hingga menutupi matanya yang bulat itu.


"I'm fine, aunty Dian" jawab Arya tanpa mengalihkan pandangan dari legonya, membuat Pradjna menggelengkan kepalanya.


"Arya kok gitu?" Pradjna pura-pura marah, membuat anaknya itu mendongakkan kepalanya lalu nyengir melihat ekspresi ibunya itu.


"Maaf Mama" ucap bocah cilik itu. Diandra tertawa melihatnya.

__ADS_1


"Arya mau ice cream?" tanya Diandra kemudian, mata Arya berbinar saat mendengar kata ice cream.


"Kita beli ice cream di mall ya, sama Mama Pradjna juga terus kita main-main habis itu kita makan, okay" jelas Diandra, wajah Arya seketika berubah, bocah itu tampak terdiam sesaat kemudian memandang Pradjna antara bimbang juga cemas.


"Kalau Arya mau kita berangkat sekarang, ganti baju dulu ya" ucap Pradjna sedikit mengabaikan tatapan Arya.


"Mama mau temeni Alya, aunty juga?" tanya Arya.


"Pasti dong sayang, masa iya Mama ga' mau nemeni anak Mama sendiri" jawab Pradjna dengan senyum, menunggu reaksi anaknya itu lagi. Salah satu theraphy Diandra untuk membuat Arya tidak takut dengan orang asing yaitu membawanya di keramaian. Tak berapa lama kemudian Arya menganggukkan kepalanya lalu meminta Pradjna untuk menggantikan bajunya.


Saat Pradjna tengah sibuk dengan Arya, Diandra mengirim pesan pada Haris untuk menyusul mereka nanti bila pekerjaannya sudah selesai.


Acara petang itu berjalan lancar, Arya walau masih sering merengek-ia sudah mau melangkah sendiri di keramaian. Makannya pun dihabiskan dengan lahap. Pradjna memandang dengan binar bahagia, terasa beban yang menggelayuti pundaknya siang juga malam terangkat begitu saja, ia menggenggam tangan Diandra mengucapkan banyak terimakasih yang disambut dengan senyum tulus Diandra.


"Aku rasa menyekolahkan Arya juga satu solusi yang tepat,Pra" kata Diandra dalam perjalanan pulang mereka dari mall. Arya memilih ikut dengan Aris hingga mereka leluasa membahas anak itu.


"Aku juga memikirkan kemungkinan itu, hanya belum sempat membahas hal ini denganmu juga Aris" jawab Pradjna.

__ADS_1


"Ada beberapa referensi bagus untuk Arya, di situ Arya bisa berinteraksi dengan anak seumurnya, akan sangat membantu untuknya" Diandra menjelaskan, Pradjna menerima beberapa lembar brosur tempat pendidikan anak usia dini.


"Pilihlah mana yang paling sesuai, basicnya mereka sama kok" lanjut Diandra. Pradjna mengucapkan terima kasih lalu fokus membaca brosur tersebut satu-persatu.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2