
Sudah mendekati jam makan siang, Pradjna menggeser kursinya ke sisi meja yang lain. Ia meraih laptopnya yang terbuka, waktunya ia check kondisi rumahnya. Dave memang memasang beberapa cctv yang langsung terhubung ke ponsel juga laptopnya. Sebenarnya Pradjna merasa ini berlebihan tapi Dave terutama Hana yang menurutnya parno berlebihan itu yang memaksakan semua hal harus terpantau.
Ia menunggu koneksinya tersambung saat Hana membuka pintu ruangannya, lalu duduk tepat di hadapannya.
"Aku mau ijin sebentar, nganter Dave ke bandara" ucapnya langsung tanpa basa-basi.
Pradjna mengangkat alisnya lalu mengangguk, untuk kemudian memincingkan matanya menatap Hana, yang ditatap tampak jengah.
"Mau mengatakan sesuatu, Han?" tanya Pradjna.
"Aku bisa dipercaya" lanjut Pradjna sembari mengubah duduknya lebih santai.
Hana tertawa kecil lantas menggeleng, "Hanya formalitas antar sahabat, nothing else" katanya.
"Karena aku yakin engkau pasti terlalu sibuk untuk melakukannya, walau aku tahu kalau kau mau pasti kau akan melakukannya" papar Hana, melanjutkan.
Gantian Pradjna yang nyengir, ia hanya ingin meminimalisir rasa Dave untuknya. Ia tidak menampik rasa sayangnya untuk Dave, tetapi rasa itu hanya sebatas saudara, hatinya masih tertambat pada orang yang sama walau ia sudah tidak berharap.
Pradjna tahu ia hanya butuh waktu, jadi biarkan saja semuanya berjalan seperti apa adanya.
__ADS_1
Mereka masih mengbrol beberapa waktu sambil Pradjna mengamati laptopnya. Semua normal, Arya terlihat bermain di halaman belakang ditemani Bi May, suasana rumah kondusif, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia lalu menutup laptopnya.
Membuka ponselnya lalu memesan makan siang melalui aplikasi ojol.
Yah, ia sedang enggan melangkah keluar, lebih baik makan siang di ruangannya saja.
Ketukan di pintunya membuat Pradjna mendongak "Masuk!" jawabnya.
Aris muncul dibaliknya, membawa 2 kotak makan, lalu duduk di soffa, ia membuka tutup lunch box itu, harum masakan menyeruak di ruangan itu.
"Kemarilah, Pra. Mari kita makan siang!" ajak Aris yang sudah mulai menyendok nasinya. Pradjna melangkah mendekat, duduk disisi soffa yang lain. Ia meraih kotak makannya lalu tersenyum melihat menunya.
"Aku cuma ingin memberi kejutan" jawab Aris sambil meliriknya lalu sibuk kembali dengan makanannya.
Pradjna kemudian berdiri meraih telephone menekan beberapa nomor yang langsung menghubungkannya ke pantry. Ia mengatakan agar makanan pesanannya untuk OB saja. Terdengar ucapan terima kasih dari seberang telephone-nya. Setelahnya Pradjna kembali ke soffa melanjutkan makannya.
"Bagaimana kondisi rumah, aman kan?" tanya Aris sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
Pradjna mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Barusan aku check semua normal, Arya sibuk dengan kelincinya" terang Pradjna, iapun sudah selesai makan.
"Arya, dia sangat manis ya. Aku sangat menyesal baru mengenalnya sekarang" Aris mengungkapkan sesalnya, wajahnya terlihat sedih.
"Aku juga punya andil dalam masalah ini, maafkan aku juga" kata Pradjna, ia kembali duduk di samping Aris.
Aris menatapnya dalam, Pradjna melihat ada banyak hal di dalam mata itu.
"Mulai sekarang, bisakah kita bekerja sama membesarkan Arya bersama-sama?" tanya Aris kemudian.
Pradjna menahan nafas sebentar lalu menghembuskannya, "Tentu saja, karena kita orang tuanya walau kita tidak bersama. Aku hanya minta tolong satu hal, bantu Aku untuk menjaganya, dia masih terlalu kecil untuk mengerti rumitnya hubungan kita" ucap Pradjna.
"Maukah kau berjanji?" tanyanya pada Aris kemudian.
Aris mengiyakan, membuat tanda janji dengan mengangsurkan jari kelingkingnya kearah Pradjna. Tawa Pradjna pecah demi melihat hal itu, ia pun menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Aris.
"Kita harus jadi team yang keren buat Arya, promise me!" pinta Aris.
"You have my word, papa Aris" jawab Pradjna sambil tertawa.
__ADS_1
Lega sekali, ia merasa ada beban berat yang terangkat dari pundaknya begitu saja.