
Mereka sampai di flat saat sore. Pradjna membantu Hana membereskan belanjaan ke dalam kulkas juga lemari penyimpanan lalu menyiapkan makan malam. Kali ini Pradjna yang memasak, ia meminta Hana menyiapkan alat makan saja.
"Mau masak apa kamu, Pra?" tanya Hana
"Stup macaroni, kasian pasta mu dianggurin" jawab Pradjna, Hana tertawa.
"Aku sudah lama sekali tidak makan stup. Yah, sebelumnya aku hidup sendiri, kadang makan di luar jadi tidak terlalu memikirkan masak, sekarang ada kalian, sepertinya asik bisa makan sambil berbincang bukan" lanjut Hana.
Pradjna mengiyakan sambil tangannya sibuk mengaduk telur di mangkuk.
Ia terlihat terampil sekali memasak, tentu saja, asisten chef.
Hana membuka kitchen set, mengeluarkan beberapa peralatan makan dari dalam sana. Harum masakan Pradjna terendus hiding Hana, membuat ia semakin lapar saja.
"Daripada hidung mu itu main kemana-mana, lebih baik kamu mandi saja, Han. Selesai mandi pasti sudah matang stup-nya" kata Pradjna pada Hana, yang diajak bicara mencebikkan bibirnya, duduk menunggu di kursi meja makan.
"Aku mau makan dulu baru nanti mandi lalu tidur" jawab Hana sambil memainkan sendoknya.
"Apa masih lama, Pra? Aroma masakanmu membuat cacing dalam perutku meronta-ronta" kata Hana setengah lemas, Pradjna tergelak mendengar pertanyaan Hana itu.
"Bersabarlah sebentar lagi, 10 menit lagi semua siap" jawab Pradjna. Hana menunggu dengan manis di kursinya. Tak berapa lama Pradjna memindahkan panci dengan uap yang mengepul ke atas meja. Hana langsung menegakkan badannya seketika, air mukanya terlihat senang.
"Ini luar biasa enak, Pra. Suatu hari kamu harus membuka resto sendiri" kata Hana dengan mulut penuh makanan.
"Kunyah dulu makanan mu baru bicara!" jawab Pradjna, Hana nyengir sesaat melanjutkan makannya, menambahkan beberapa sendok besar ke dalam mangkuknya. Terlihat lahap sekali menyantap hidangan di depannya.
__ADS_1
"Kapan kuliah mu dimulai,Pra?" tanya Hana.
"3 minggu lagi, tetapi belum full class sepertinya" jawab Pradjna.
"Besok aku akan mengajukan lamaran mu kepada atasan ku, semoga kalian berjodoh. Kau tidak perlu datang setiap hari ke kantor bila diterima. Pekerjaan akan dikirim dalam bentuk email" jelas Hana.
"Tetapi aku lebih menyarankan engkau membuka kedai saja, Pra. Lebih menjanjikan, kita bisa minta ijin pada pemilik gedung untuk menyewa space kecil didekat pintu masuk flat ini" lanjut Hana lagi. Pradjna menyimak ucapan Hana dengan seksama.
"Bukannya aku ingin kau memforsir tenaga mu, tetapi kita sama-sama tahu kau butuh banyak biaya ke depannya, aku bisa membantumu tetapi tidak banyak - aku juga sedang berjuang di sini. Jadi aku berfikir kita korbankan sedikit modal di awal untuk kelangsungan hidup di depan, apa kau setuju?" Hana menatapnya menunggu respon Pradjna.
Pradjna berfikir sesaat, ia tahu semua yang dikatakan Hana benar adanya.
Ia lantas mengajak Hana untuk menghitung cost yang di perlukan untuk memulai usahanya. Ia mempunyai tabungan hasilnya bekerja juga pemberian dari Ibu Gunadi - Bibi Hana sebelum ia berangkat kemari beberapa waktu yang lalu.
Kesepakatan dicapai, mereka akan berbagi modal bersama, menjalankan usaha itu bersama pula - bergantian, tergantung siapa yang lebih dulu tiba di rumah.
"Deal..!!!!" ucap mereka berdua bersamaan lalu tertawa.
"Okay girls, untuk merayakan kerjasama kita mari kita bersulang, aku dengan kopiku - kau dengan susu hamilmu!!" seru Hana gembira.
Pradjna menyambut dengan senyum lebar pula, rasanya separuh beban dan ketakutannya menguap entah kemana.
"Thanks God for everything" ucap Pradjna bersyukur di dalam hatinya.
Hana memeluknya hangat, lantas menyuruhnya beristirahat.
__ADS_1
Keesokan harinya Hana mengajak Pradjna menemui pemilik gedung tempat mereka tinggal.
Pembicaraan mengenai sewa tempat berlangsung lancar, kesepakatan tercapai. Bahkan pemilik gedung memberikan diskon beberapa persen selama 3 bulan untuk mereka.
Rasa syukur kembali Pradjna ucap dalam hatinya hingga ia meneteskan air matanya. Entah mengapa akhir ini ia menjadi cengeng sekali
Sementara itu, di bagian belahan bumi yang lain, ada seseorang dengan resahnya menatap ponselnya dengan pandangan putus asa.
"Kau pergi kemana, Sayang?" tanya suara itu lemah.
"Mengapa kau tidak mengatakan apapun kepada ku?" lanjutnya lagi.
"Tolong hubungi aku,Pra. Sekali saja tolonglah, jangan membuatku gila seperti ini" ucapnya lagi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Aris, pemuda itu benar-benar terlihat frustasi. Wajahnya kuyu dengan mata berkantung. Entah sudah berapa minggu hidupnya berantakan. Makan dan tidur tidak teratur, study nya pun terbengkalai.
Berbanding terbalik dengan Aris, di London Pradjna dan Hana sedang dalam kondisi gembira dan bersemangat memulai kehidupan mereka berdua.
Usaha yang mereka buka sedikit demi sedikit berkembang, Hana dan Pradjna bekerja sama mempromosikan usaha mereka kepada teman kuliah juga teman kerja mereka berdua.
Pradjna bertugas menjaga kedai saat Hana sedang kuliah atau bekerja, begitu pula kebalikannya, saat Hana menunggu kedai Pradjna bisa mengerjakan pekerjaannya di komputer di dalam flat mereka. Setelahnya kembali bergabung dengan Hana di kedai.
Kehamilannya pun tidak terlalu menyusahkan. Pradjna tidak mengalami morning sick ataupun keluhan lainnya, bayinya rupanya cukup mengerti dengan kondisi mereka yang harus berjuang sendiri.
Pradjna hanya pernah sekali menangis karena sangat menginginkan makan nasi liwet. Hana lah yang berbaik hati memasakkan walau tidak lengkap isiannya setelah berguru kilat lewat Cookpad. Itupun dengan wajah setengah iba setengah konyol memasakkan Pradjna, begitu matang Pradjna hanya memandang nasi liwet ala-ala itu, mengendus sedikit aromanya lantas menggeleng seraya berkata "Aku sudah ga' pengen lagi, Han. Makanlah sendiri, aku mau bikin sandwich aja" dengan wajah polos tanpa dosa. Hana menghentakkan kakinya ke lantai lantas melempar apronnya ke sembarang tempat, beranjak keluar menuju kedai mereka. Pradjna hanya bengong menatap penuh tanya kepada Hana.
__ADS_1