
POV DAVE
Aku David Feinstein Jr, panggil saja Dave, simple dan lebih akrab tentunya. Aku seharusnya mengurusi usaha property milik orang tua ku, tetapi aku lebih tertarik dengan usaha detektif swasta yang mulai ku rintis saat kuliah di Imperial College di London. Di situ pula aku berkenan dengan Pradjna, seorang gadis yang tak hanya cantik tetapi juga cerdas dan independent. Dia perpaduan yang pas untuk di jadikan partner hidup. Bersamanya aku bisa membahas apapun dan dia selalu bisa memandang apapun dengan sudut pandang yang berbeda.
Hanya saja aku pernah merasa kecewa saat mengetahui bahwa ia sudah tak sendiri lagi. Perutnya yang membuncit itu membuktikan bahwa ia sudah terikat dengan pria lain. Seiring berjalannya waktu baru aku tahu bahwa kehidupan cintanya sangat complicated.
Ada sedikit rasa iba dengan kondisinya itu, tetapi melihat ketegaran juga tekad hidupnya yang membakar itu rasa banggalah yang mendominasi.
I'm so proud of her.
Dia pula alasan ku merintis usaha ku. Aku diam-diam mencari tahu tentang siapa Haris Rahardjo itu. Aku mencari tahu lewat internet semua tentang lelaki itu. Lalu saat liburan musim dingin aku ke Amerika, memastikan secara langsung. Pertama kali aku melihat Haris, aku melihat betapa wajahnya familiar, mirip wajah Arya, anak itu memiliki perpaduan yang pas dari gen kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sayang sekali ayahnya tidak tahu bahwa ia punya putra setampan dan secerdas Arya.
Aku berhasrat untuk menjadi ayah anak lucu itu. Beberapa kali aku meminta pada Pradjna sebuah hubungan yang jelas, dengan ikatan sah tentu saja.
Berulang kali pula Pradjna menolak, ia bilang ia memang mencintaiku akan tetapi ia tidak bisa hidup bersama ku. Alasan klise, Hana - sahabat kami, mencintaiku.
Ia tidak bisa kehilangan salah satu dari kami.
Hingga ia pulang ke Indonesia, aku hampir gila saat itu. Pekerjaan ku tidak bisa ku tinggalkan, membuatku frustasi. Beberapa minggu kemudian ia menghubungi ku lewat email, mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Seluruh penatku hilang saat itu juga berganti dengan kerinduan yang sangat menyiksa. Ingin rasanya saat itu terbang untuk menghampiri lalu memeluknya.
Lalu tiba-tiba Hana menelpon ku pada suatu pagi, ia menjelaskan banyak hal. Mengatakan bahwa hanya aku yang bisa ia percaya untuk menjaga Pradjna juga Arya.
__ADS_1
Aku memastikan semua jadwal sebelum memutuskan untuk ke Indonesia. Menghubungi beberapa agen ku yang ada di sana. Bukan pertama kali bagi ku mengulik kehidupan pribadi Haris juga keluarganya, terutama ibunya - tokoh utama penyebab kompleksnya hubungan antara Pradjna dan Haris.
Aku harus memastikan wanita ku tidak tersentuh lagi. Ia harus hidup bahagia, happily ever after, dan aku berharap akulah pangeran berkuda putihnya.
Pradjna selalu tertawa terbahak saat aku mengatakan hal itu, lalu ia akan menepuk pipiku sambil berkata "Hana lah princess mu, Dave, bukan aku. Tidak ada di dalam cerita dongeng putri yang melahirkan anaknya dengan lelaki lain lalu menikahi pangeran".
Setelahnya ia akan memeluk ku, lalu kembali mengulang kata-katanya "Bersama lah dengan Hana, kalian pasti akan bahagia, aku berani bertaruh untuk hal itu".
Hana memang baik, hanya saja ia tidak sehangat Pradjna. "Itu karena kau tidak mau mengenalnya lebih dalam lagi, karena yang kau lihat hanya aku. Coba saja sebentar kau palingkan hatimu padanya, kau pasti melted. Aku hanya obsesi mu Dave, sadarlah" lanjutnya lagi.
Di sinilah aku sekarang, kembali bersamanya, hidup bersama satu atap, bisa menatapnya setiap saat, dan ia masih sama - tetap menolak ku.
__ADS_1
How unfortunate I am.