
Pradjna merenung di ruang kerjanya. Beberapa pesan dari Hana tadi memecah konsentrasinya.
Benarkah Aris masih mengharapkannya?. Ingatannya kembali pada saat Mamanya Aris menyuruhnya untuk pergi dan hal itu terulang lagi tadi siang. Wanita itu tidak akan pernah berhenti menghalaunya walau ia sudah menepi hingga ke luar batasnya.
Arya, anak itu yang membuat rasa cemasnya meninggi. Bila dulu saja ia hampir kehilangan beasiswa juga harus pindah dari kostnya, bisa jadi wanita itu bisa lebih kejam lagi menerornya. Bila hanya dia tidak akan jadi masalah, sekarang ada Arya, ada beberapa orang lain juga yang tinggal di rumahnya, belum lagi karyawannya di kantor - resto - juga bidang lainnya.
Memang seharusnya ia tidak kembali ke Indonesia, lebih aman baginya tinggal di London tetapi tidak bijak juga bila ia menolak memenuhi keinginan keluarga Gunadi untuk kembali dan melanjutkan usaha mereka yang dilimpahkan kepadanya juga Hana. Beliau berdua sudah sangat berjasa kepadanya, tidak sampai hati ia menolak permintaan tersebut.
Hingga akhirnya mereka bertiga boyongan pulang ke Indonesia setelah Pradjna menerima gelar S2-nya.
Merintis usaha EO juga mengalihkan resto ke tempat yang baru, juga membuka beberapa bidang yang berkaitan dengan kedua usahnya tersebut.
Tidak pernah disangkanya bahwa hanya dalam hitungan satu tahun sekembalinya ke Indonesia ia akan kembali bertemu Aris plus terikat kontrak kerja selama satu tahun ke depan untuk setiap event yang di gelar perusahaan Aris.
Pradjna memandangi foto kedua orang tuanya yang sudah ia repro kembali.
"Ayah - Ibu, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Tidakkah kalian ingin memberiku saran?"
tanyanya sambil mengelus foto berukuran besar itu.
"Aku merasa sedikit lelah menghadapi semua ini" keluhnya lagi.
"Mengapa aku kembali terbentur pada masalah yang sama dengan orang yang sama pula?" lanjutnya.
"Atau apakah takdirku memang harus bersamanya?"
"Bila memang iya, mengapa harus seperti ini jalannya?"
Pradjna masih termenung berdiri di depan foto kedua orangtuanya saat pintu ruang kerjanya diketuk.
"Masuk!" katanya.
"Aku mau Mama" suara Arya terdengar begitu pintunya terbuka, mata bocah itu terlihat sembab oleh tangisan.
__ADS_1
Pradjna menggendong Arya memeluknya, mengusap - usap punggung lelaki kecil itu.
"Anak Mama kenapa menangis?" tanyanya.
"Ada monstel, Mama. Alya takut" jawab Arya masih terisak.
"Monster?!?!" mata Pradjna sedikit membesar, seolah ia terkejut dan ketakutan.
Bocah kecilnya menganggukkan lalu menyembunyikan wajahnya ke dada Pradjna.
Pradjna tersenyum lantas mengecup pucuk kepala Arya.
"Ayo kita kembali ke kamar! Kita lihat monster itu berani atau ga' sama Mama" kata Pradjna sambil melangkah keluar menuju kamar Arya.
Pradjna menurunkan Arya di ranjangnya, lalu berbaring di samping anaknya itu.
"Mama temani sampai ade' bobo' ya, kalau monsternya datang biar Mama yang suruh dia pulang, jangan ganggu ade' lagi" kata Pradjna sambil mengelus punggung Arya pelan. Bocah kecilnya itu mengangguk lalu memeluk gulingnya mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
"l'll do my best for you, sleep tight, sayang" bisik Pradjna pelan pada Arya, sementara anak itu sudah mulai terlelap.