ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI
Chapter 17


__ADS_3

Pradjna baru akan memasuki ruangannya saat dilihatnya Aris tengah duduk di soffa lobi kantornya.


Aris berdiri menyambutnya "Selamat pagi Ibu Pradjna" sapanya.


"Pagi, Pak Haris. Ada janji dengan Ibu Hana?" tanya Pradjna.


"Sebetulnya saya bermaksud menemui, Anda" jawab Aris.


"Degdegdegdeg" jantung Pradjna serasa bertambah ritmenya.


"Tunggu sebentar" kata Pradjna akhirnya, ia beranjak ke meja Lia, asistennya.


Setelah cross check jadwalnya Pradjna menghampiri Aris.


"Mau berbincang di mana, Pak Aris?" tanyanya.


"Jam 10 Saya ada beberapa pekerjaan kembali" lanjut Pradjna.


"Kita keluar terlebih dulu, ada resto yang cozy, tidak terlalu jauh" kata Aris.


"Baik, kita berangkat sekarang" ujar Pradjna melangkah ke lift, diikuti oleh Aris di belakangnya.


Aris mengarahkan mobilnya ke Sabana resto. Tempat yang menarik minatnya akhir-akhir ini. Kebetulan memang ia juga belum sarapan, ia sengaja berangkat lebih pagi dan tidak ke kantor karena ia yakin Mamanya akan datang hari ini, setelah ia semalam tidak datang ke rumah dan mengabaikan panggilan telepon juga pesan dari Mamanya juga Wina.


Daripada sarapan omelan lalu harus menemani Wina lebih baik ia menemui Pradjna, bila Pradjna menolak ia tinggal pindah ke hotel, mengungsi beberapa hari, tetapi sepertinya Dewi Fortuna sedang di pihaknya karena Pradjna tidak menghindarinya pagi ini.


Mereka tiba tak berapa lama di resto, Pradjna mengekor Aris sambil memberi kode pada beberapa karyawan yang melihatnya datang agar diam. Beberapa mengangguk mengerti lalu menyampaikan pada yang lainnya.


Seperti biasa Aris memilih duduk di out door, di pojokan. Seorang waitress membawakan daftar menu, Aris lalu memilih beberapa menu, meminta persetujuan Pradjna lalu menyerahkan pesanannya untuk di proses.


"Apa kabarmu hari ini, Pra?" tanya Aris.


"Seperti yang terlihat, baik dan sehat" jawab Pradjna sekenanya.


"Syukurlah, lalu anggota keluarga mu yang lain" pancing Aris.


"Mereka juga baik-baik saja, terima kasih sudah menanyakan" jawab Pradjna lagi.

__ADS_1


"Kau tidak ingin tahu kabar ku?" tanya Aris lagi.


Pradjna tersenyum, "Bagaimana kabar mu Bapak Haris Rahardjo?" tanya Pradjna, menatap lelaki yang di hadapannya itu.


"Aku buruk, Pra, sangat malah" jawab Aris dengan wajah memelas.


"Tidak seperti yang ku lihat sepertinya" kata Pradjna.


Aris mengangguk, "Kekasihku menghilang begitu saja, tanpa mengucapkan apapun, aku belum bisa move on sampai saat ini. Bagiku ia masih kekasihku - kesayangan ku, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya lagi, tetapi sepertinya ia sudah sangat berbahagia dan juga sukses sekarang ini" jelas Aris balas menatap Pradjna.


"Oh ya? kau sudah berusaha untuk mencari tahu tentangnya?" tanya Pradjna tetap dengan sikap tenang walau dadanya bergemuruh rasanya.


"Sudah, dia menghilang tetapi aku tahu Mamaku yang sudah membuatnya meninggalkan aku. Salahku sendiri juga, seharusnya aku tidak pergi terlebih dahulu saat itu, seharusnya aku menunggu hingga ia selesai wisuda, memastikan ia tetap aman" jawab Aris lagi.


"Apalagi aku sudah membuat dosa besar padanya, aku juga berjanji untuk menikahinya kelak" suara Aris mulai terdengar serak.


"Apa itu yang membuatmu masih membujang hingga saat ini?" tanya Pradjna.


"Iya, bukan hanya karena janji ku tetapi memang aku sangat mencintainya. Bila memang aku tidak bisa menikahinya biar aku hidup sendiri saja. Aku tidak bisa hidup dengan orang lain daripada aku menyakiti orang itu juga diriku sendiri" jelas Aris.


Hati Pradjna terasa ngilu, ada sakit yang menyeruak saat ia mendengar penjelasan Aris.


"Ternyata kita saling menyakiti selama ini" batin Pradjna miris.


"Lalu darimana kau tahu ia bahagia sekarang ini?" tanya Pradjna.


"Aku baru saja bertanya padanya dan ia menjawab bahwa ia dan keluarganya baik dan bahagia" jawab Aris lirih.


"Ia yatim piatu, Pra. Kalau ia menjawab ia dan keluarganya, bisa kau cerna sendiri bukan?" lanjut Aris tersenyum getir.


Pesanan mereka sudah datang, Pradjna menyeruput teh chamomile nya yang masih sedikit mengepulkan uap panasnya.


I perlu menetralkan hati juga otaknya. Pengakuan Aris barusan membuat luka lama itu seperti di sayat sembilu lagi di tempat yang sama, ia merasa lukanya kembali menganga berdarah lagi.


Aris memotong rotinya dengan ogah-ogahan.


Pradjna merasa iba dengan pria itu, ternyata hari-harinya juga tidak mudah.

__ADS_1


"Makanlah dengan baik, kamu harus tetap sehat jika masih ingin memastikan kekasihmu bahagia atau tidak, untuk memastikan juga mengapa ia pergi begitu saja" kata Pradjna, walau sesaat kemudian ia menyesal mengapa ia berkata seperti itu tadi.


"Bodohnya kamu, Pra!" makinya pada dirinya sendiri.


Aris menatapnya lama, lalu seulas senyum terukir di bibirnya, menambah ketampanannya.


"Kamu benar,Pra. Aku harus memastikan semuanya terlebih dulu, baru aku bisa memutuskan apakah aku kalah atau menang" kata Aris mantap, wajahnya yang semula mendung mendadak cerah lagi.


Pradjna tersenyum kecut, menyadari akibat dari ucapannya tadi.


Mereka sudah selesai makan sesaat kemudian karena Pradjna harus segera kembali ke kantornya lagi.


"Aku menginap di hotel dekat kantor, jika mau mampir untuk ngopi bareng" kata Aris sebelum Pradjna membuka pintu mobilnya.


"Akan ku kabari jika memungkinkan" jawab Pradjna lalu melangkah keluar.


"Terima kasih untuk traktirannya" tambah Pradjna sedikit membungkuk melihat ke dalam mobil.


Aris tersenyum, "Aku yang seharusnya berterima kasih, maafkan bila menyita waktumu, selamat bekerja, Pra" balas Aris.


"Hati-hati!" Pradjna melambaikan tangannya lalu memasuki kantornya.


Ia baru saja duduk di kursinya saat telepon di mejanya berdering.


"Hallo!" sapa Pradjna


"Kau sembunyikan di mana Haris, hah?" suara amarah terdengar dari seberang


"Maaf, untuk pria berusia 34 tahun dan berbadan lebih besar dari Saya, bisa di pastikan Saya tidak bisa menyembunyikannya, Ibu" jawab Pradjna enteng. Entah mengapa ia jadi terprovokasi untuk semakin membuat wanita itu marah. Lama-lama ia jengah juga dengan ke-sok-an Intan Rahardjo itu.


"Dasar kau wanita tidak tahu diri, pasti kau kembali untuk mengganggu Haris lagi kan? Awas saja kau bila berani mendekati putraku lagi" ancam wanita itu.


Pradjna mendadak tertawa "Ibu Intan, sebaiknya ibu yang berhati-hati, bisa jadi besok saya jadi mantu kesayangan ibu, karena apa - Aris tidak akan menikah bila tidak dengan saya, Bu. Tolong di ingat itu. Baiklah saya harus bekerja, silakan cari putra ibu sendiri ya. Lagipula Aris bukan anak TK, Bu. Kasihan dia bila ibu over protektif seperti ini, di mana wibawanya sebagai lelaki juga pewaris tunggal Rahardjo grup" kata Pradjna lalu menutup teleponnya tanpa mau mendengar jawaban dari seberang lagi.


Pradjna tertawa terbahak setelah meletakkan gagang teleponnya. Sumpah ia geli sekali dengan kejadian barusan.


Ia mengetuk kan jarinya ke meja lalu d ketukkan ke kepalanya sendiri mengulanginya beberapa kali. Amit-amit jangan sampai ia seperti itu saat Arya sudah beranjak dewasa kelak, aduh amit-amit jabang bayik.

__ADS_1


__ADS_2