
***POV HARIS
***Tampan, muda, kaya, berprestasi, kemudahan hidup dan full fasilitas. seperti itulah orang-orang menilai hidup ku.
Tidak mereka ketahui aku justru kesepian karena harus menjaga image itu mati-matian.
Terkadang aku juga ingin bebas seperti yang lain, akan tetapi nama keluarga yang tersemat di belakang namaku itu membatasi ruang gerak ku.
Sedikit saja kesalahan apalagi sampai tercium media itu sama artinya memicu granat pada diri sendiri.
Aku yang memikul tanggung jawab terbesar karena aku anak tertua sekaligus satu-satunya lelaki, adik ku keduanya perempuan.
Hingga aku tidak sengaja berkenalan dengan seorang gadis, perkenalan yang tidak menyenangkan awalnya tetapi membaik pada akhirnya. "Pradjna, panggil aku Pra" begitu katanya dulu pada ku.
Seorang gadis yang cukup menarik bagiku, bukan cuma wajahnya yang cantik, otaknya pun brillian, aku sudah tertarik padanya diawal perkenalan kami di hari hujan itu.
Dia berbeda dengan gadis lain yang ada di sekitarku yang sibuk touch up make up atau ber-swa foto dengan ponsel keluaran terbaru.
Melihat Pradjna menggelung rambutnya ke atas lalu tersenyum saja sudah membuatnya terlihat sangat cantik walo tanpa make up sekalipun.
Setelah menolongnya yang mendadak pingsan itu, kami lumayan dekat. Ada banyak hal yang bisa kami perbincangkan, dari obrolan seputar kampus kami, bisa melebar membahas Donald Trump, benar-benar gadis yang cerdas.
Hanya saja dia harus bergegas bekerja sepulang kuliah, aku hanya punya waktu di malam hari saat ia pulang kerja juga pagi hari sebelum ia berangkat kuliah. Aku rela jadi sopir dadakan hanya untuk menikmati senyuman juga obrolan ringan bersamanya. Awalnya Pradjna menolak untuk aku antar jemput tetapi ia menyerah dihari kelima aku selalu mengikutinya.
__ADS_1
Sejak itu aku mulai tahu bahwa dia bisa masuk ke universitas yang sama dengan ku lewat jalur beasiswa. Kondisinya yang telah yatim piatu mengharuskan ia menghidupi dirinya sendiri. Pradjna bercerita dia memiliki sebuah rumah peninggalan orang tuanya yang ia sewakan dan ia membagi uang sewa tersebut kepada bibinya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya tersebut.
Sungguh gadis yang luar biasa menurutku, di era yang sarat dengan konsumerisme juga hedonisme ini masih ada yang bisa berjuang hebat diusia yang masih sangat muda dengan sangat fair, tidak ada embel-embel jual diri atau apalah.
Diam-diam aku mengharapkan gadis inilah yang akan menemani hidupku kelak, walaupun saat aku berfikir seperti itu bayangan mama dan papa langsung berkelebat di kepala ku. Mereka pasti sangat menentang karena tidak ada keuntungan yang akan mereka dapatkan. Menyesakkan bukan hahahaha....
Aku lebih memilih menjalani yang ada sekarang ini, walau dengan jalan kucing-kucingan. Pradjna memahami kondisi di antara kami. Ia tidak keberatan karena ia sendiri juga tidak mau menyulitkan dirinya sendiri katanya. Aku merengkuhnya dalam pelukan saat ia mengatakan hal itu, meminta maaf padanya dan berjanji akan mencari jalan untuk hubungan kami ini. Pradjna hanya tersenyum saat itu sambil berkata "tidak perlu berjanji seperti itu, Ris" menepuk punggung ku pelan.
Ah...betapa aku mencintai gadisku ini, hanya dia yang bisa membuatku gila seperti ini, berani melanggar aturan dengan konsekuensi seperti menggendong bom waktu.
Selama kami di sisiku Pra, akan ku hadapi semua, janji ku.
Hingga suatu saat Mama mengetahui huhungan kami, aku berusaha sekeras mungkin melindungi gadis itu. Aku tidak akan rela gadis ku terluka sedikitpun. Tidak akan ku biarkan seorangpun menyakitinya. Aku memaksanya pindah ke apartment, sengaja aku membeli unit yang ada di sebelah apartment ku sendiri dengan meminjam nama temanku dan memindahkan Pradjna ke sana. Itupun harus dengan perdebatan panjang dengan karakternya yang sangat mandiri dan sedikit keras kepala tidak mudah membujuk Pradjna, walau akhirnya dia menyetujuinya dengan berat hati tentunya. Aku sedikit bernafas lega, setidaknya dia akan aman, akupun bisa dengan mudah mengawasinya karena kami tinggal di lantai yang sama, hanya terpisahkan satu angka saja.
Sampai waktu itu datang, setelah aku wisuda dan kedua orang tuaku menginginkan aku melanjutkan study ke luar negeri. Tak rela rasanya meninggalkan Pradjna seorang diri di sini. Aku memintanya serta tetapi Pradjna menolak karena ia juga tengah menyiapkan skripsinya sendiri.
Malam itu mereka habiskan dengan ngobrol di apartment Pradjna, jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari saat Pradjna menguap entah untuk yang keberapa kalinya. Saat ia kembali dari dapur dilihatnya gadisnya itu sudah terlelap di sofa, dengan perlahan ia mengangkat Pradjna menuju ke kamarnya. Gadis itu sedikit bergerak saat Aris memindahnya ke dalam gendongannya, dengan pelan diturunkannya Pradjna di ranjangnya sendiri.
Ditatapnya wajah cantik itu, nafasnya teratur pelan menandakan pulasnya. Aris membelai rambut Pradjna yang tergerai, menghirup wanginya yang segar. Dia belum pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai gadis ini. Rasanya ia rela memberikan apapun untuknya. Aris mendekat untuk mengecup kening gadis itu, membuat Pradjna bergerak meghadap ke Aris yang duduk di sampingnya.
Wajah tidur ini sangat cantik, Aris menahan gejolak yang mendadak muncul. Dia melihat Pradjna dengan gelisah. Membelai wajah gadis itu sekali lagi yang membuat resahnya makin menjadi merasakan hangat juga halusnya kulit Pradjna. Ia sudah berjanji untuk tidak menyakiti gadis itu tetapi kebutuhan primitifnya mengalahkan semuanya.
Aris mulai menyentuh Pradjna, dengan sangat hati-hati melepaskan pakaian yang melekat. Seharusnya tadi memang dia tidak minum anggur juga tidak meminta Pradjna ikut mencoba minum. Hingga saat ia sudah siap Pradjna menggeliat sedikit membuka matanya merasakan ada yang bergerak di atas tubuhnya.
__ADS_1
Gerakan tubuh Pradjna makin memancing gairah Aris, Pradjna sedikit terkejut merasakan kulitnya bergesek dengan kulit Aris secara langsung tetapi tenaganya serasa hilang dan kepalanya sedikit berat karena ia ikut minum anggur walo hanya sedikit. Seumur hidupnya baru kali ini mencicipi minuman seperti itu.
Ia ingin berontak tetapi entah mengapa sentuhan Aris menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pradjna menikmati semua sentuhan Aris, bahkan bereaksi dengan membalasnya, ikut meraba dan ******* bibir kekasihnya itu saat wajahnya menghadap ke arahnya memandangnya.
Sentuhan itu menjadi semakin liar dan intens, ditimpali dengan desahan tertahan dari keduanya.
Aris menyesap semua halus kulit Pradjna, menciumi setiap lekukan gadisnya itu, dia menjadi makin berani karena seolah mendapat izin dari empunya badan. Hingga saat Aris mencoba masuk rasanya ia akan meledak, sangat sempit dan hangat, Pradjna mengerang saat merasakan pangkal pahanya sakit.
Aris terkejut "apakah ini yang pertama kali bagimu Pra?" tanyanya dalam hati, ia mengelus punggung gadis itu, membuatnya nyaman kembali lalu melanjutkan penetrasinya dengan perlahan sekali, sambil memberikan ciuman pada Pradjna, hingga ia merasakan menerobos suatu lapisan dan Pradjna kembali mengerang. Aris berhenti sejenak, kembali menyamankan gadisnya itu, lalu perlahan kembali bergerak saat dirasa Pradjna sudah rileks.
Pradjna merasakan sakit tetapi sentuhan Aris kembali menyamankannya dan ia mulai menikmati semua. Mulai berusaha mengimbangi malahan. Aris merasa semakin terpacu saat ia merasakan respon balik dari Pradjna, mereka bergerak makin cepat, berbagi desah dan gairah bersama hingga Aris merasakan ia akan segera sampai pada puncaknya, memacu lebih cepat lagi dan merasakan Pradjna juga bereaksi sama dengannya. Sebuah lenguh pelepasan mereka lepaskan hampir bersamaan seiring melemahnya gerakan mereka berdua. Aris menata degup jantungnya juga nafasnya sambil memeluk Pradjna yang masih terkungkung di bawah tubuhnya. Gadis itu juga terengah sama seperti dirinya. Ia kembali mencium bibir gadis itu, membisikkan terima kasih juga betapa ia mencintainya sangat.
Pradjna hanya tersenyum lalu mengatupkan kembali matanya, nampaknya ia lelah sekali. Aris merasakan hasratnya naik kembali melihat gadisnya itu tetapi wajah lelah di hadapannya itu membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengulangi percintaan mereka itu. Dikecupnya kening Pradjna lalu menyingkap selimut untuk membersihkan diri, Pradjna bergeser meringkuk, Aris melihat bercak kemerahan di sprei putih itu, mendadak ia berhenti.
"Benar ini pertama bagimu, sayangku, aku berjanji akan menikahimu, aku akan berjuang untuk hubungan kita" Aris kembali mengecup Pradjna sambil mengusap pelan pipi gadis itu. Betapa ia menyayangi gadis ini, sangat.
Aris sudah menyiapkan sarapan dan menunggu Pradjna bangun, ia menanti disamping gadis itu, bersiap menghadapi resikonya.
Pradjna mulai bergerak, membuka matanya lalu mengernyitkan dahinya menahan sakit, gadis itu merasakan sakit juga pegal di pangkal pahanya, ia bergerak sedikit lalu meringis, badannya juga terasa pegal semua.
Aris mengusap lengannya, Pradjna menatapnya dalam saat ia menyadari bahwa ia telanjang di balik selimutnya, gadis itu mulai terisak.
Aris meraihnya dalam pelukan, mengusap punggung telanjang gadis itu menenangkan.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab sayang, kita akan menikah, berjanjilah kamu akan baik-baik saja selama aku pergi" ucap Aris membuat Pradjna makin tersedu-sedu.
Setelah ia berhasil menenangkan gadis itu dan mengantarnya ke kamar mandi, Aris menghubungi seseorang melalui ponselnya, dia akan memastikan gadisnya baik-baik saja walau mereka berjauhan******.