
Pradjna termangu mendengar kenyataan yang baru saja dibeberkan Aris. Betapa ia tersiksa menyimpan semua itu dalam waktu yang lama tanpa ada satupun yang bisa ia ajak untuk bercerita.
Beberapakali dilecehkan ibu kandungnya sendiri hanya karena faktor kemiripan rupa juga fisik dengan ayahnya, hingga membuat wanita itu mengatakan jatuh cinta pada anak kandungnya sendiri setelah suaminya meninggal. Alur hidupnya pun di plot sedemikian rupa, mana yang boleh mana yang tidak, bahkan diusianya yang terhitung sudah matang sebagai lelaki dewasa.
Mendadak Pradjna merasa tubuhnya menggigil antara takut juga rasa dingin yang tiba-tiba menyergapnya. Jika pada anak kandungnya saja Intan Rahardjo bisa berbuat seperti itu, lantas bagaimana kepada dirinya juga Arya. Pradjna merasakan cemas yang luar biasa, ia tidak sanggup membayangkan hal apa yang akan terjadi padanya juga Arya. Oh Tuhan, tolong lindungi kami selalu, ratapnya didalam hati.
"Pra..." suara Aris menyadarkan Pradjna dari lamunannya. Ia mengangsurkan nampan berisi semangkok sup panas juga nasi dan lauknya
"Bawa saja kembali, tolong!" ucap Pradjna.
"Aku sama sekali tidak berselera untuk makan" lanjut Pradjna kemudian, memang itu yang dirasakannya, otaknya penuh sesak dengan kenyataan yang bertubi-tubi menghantamnya beberapa jam terakhir ini.
"Aku meminta - tidak, aku memaksa mu untuk makan walau hanya beberapa suapan!" tegas suara Aris.
__ADS_1
"Kamu butuh makan untuk memulihkan tenaga mu, Pra" ucap Aris tegas lalu duduk di hadapan Pradjna, ia mulai menyendok sup lalu mengulurkan sendok itu ke depan mulut Pradjna.
Pradjna menghela nafas, "aku bisa makan sendiri, biarkan aku melakukannya sendiri" lantas mengambil sendok yang mengambang dari tangan Aris.
Ia mulai menyendokkan sup nya perlahan, Aris masih berada di hadapannya, mengawasinya dalam diam.
Entah apa yang ada dan sedang dipikirkan Aris, Pradjna sedang enggan untuk menyelidik lewat matanya, ia merasa sangat lelah juga cemas.
Sementara Aris menatap Pradjna yang tengah makan dalam diam. Ia tahu, ia baru saja menambah rasa takut juga beban pada Pradjna tetapi memang ia harus jujur, Pradjna harus tahu semuanya, ia sudah tidak mau lagi menyembunyikan apapun dari wanita yang dicintainya itu. Aib sekaligus luka yang ia pendam sekian lama hanya demi menjaga nama baik juga reputasi perusahaannya sudah ia beberkan. Saat melangkah keluar dari rumah utama keluarganya, Aris sadar betul bahwa ia sudah menabuh genderang perang dengan mamanya. Awalnya ia merasa ada sebuah luka yang terus membasah tetapi setelah mengetahui bahwa ia memiliki Arya, luka itu seketika menutup. Anak itu membuatnya merasa kuat dan sanggup menghadapi apapun. Tak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka, apapun itu, janji Aris kepada dirinya sendiri.
"Setelah kamu selesai dengan makanan mu, aku akan makan" jawab Aris.
Pradjna memandang Aris sesaat lalu mengangguk, melanjutkan menyendok nasinya kembali.
__ADS_1
"Setelah ini, beristirahatlah, segeralah tidur. Sudah cukup kekacauan hari ini, maafkan aku ya" lanjut Aris lagi, mendekat lalu duduk di sisi kiri tempat tidur Pradjna.
Pradjna kembali mengangguk, menyendokkan suapan terakhirnya.
"Kau juga, makan lalu beristirahatlah. Ada kamar di antara kamar Hana juga Dave yang bisa kau pakai jika ingin tinggal malam ini" kata Pradjna, "Aku tahu kau juga lelah, Kak" lanjut Pradjna perlahan. Entah berapa lama sejak terakhir kali ia memanggil Aris dengan sebutan "kak". Panggilan sayangnya pada lelaki itu.
Senyum Aris mengembang, ia beranjak berdiri dari duduknya, mengusap sekilas rambut Pradjna lalu mencium puncak kepala wanita itu, sebuah ciuman sayang bukan nafsu.
"Terima kasih, aku tahu kita butuh waktu, kita hadapi dan lalui bersama ya, dengan Arya juga" ucap Aris tersenyum, seraya mengusap kedua belah pipi Pradjna.
"Istirahatlah, kembali tenaga mu, sampai besok pagi!" lanjut Aris lantas berdiri dan membawa serta nampan makan Pradjna, ia keluar dari kamar Pradjna dengan hati yang mengembang bahagia sekaligus haru.
Pradjna menyentuh kedua pipinya sendiri, lalu ia merasa pipinya memanas, ia menjadi kikuk dan malu.
__ADS_1
Dimatikannya lampu nakas lalu menarik selimutnya, lebih baik ia tidur daripada semakin merasakan aneh.