
Hari sudah mulai senja saat Aris melangkah ke apartment Pradjna. Ia sedikit gugup, tidak pernah menyangka akan kembali memasuki tempat itu.
"Apakah tempat itu masih sama?" tanya Aris dalam hatinya.
Ia memutar anak kuncinya lalu terdengar suara "klik", Aris membuka pintu itu lebar-lebar, meraba saklar yang seingatnya ada di dekat pintu, menekannya lalu sinar lampu menerangi ruangan di tempatnya berdiri.
Aris melangkah masuk, ruangan itu masih sama, bahkan catnya pun sama, soffa walau sudah berganti tetapi masih pada tempatnya. Ia beranjak ke kamar, membuka pintunya lalu merasa terlempar ke masa lalu, ia seperti melihat Pradjna tersenyum menatapnya. Aris merasakan nafasnya sesak. Seharusnya ia tidak menerima untuk tinggal di sini. Ada banyak kenangannya bersama Pradjna di sini. Ia tidak meyangkal masih mencintai Pradjna tetapi mengetahui kenyataan tadi pagi di kantor Pradjna membuatnya sakit. Ia harus memupus harapan untuk bisa meminang Pradjna, yang bisa ia lakukan sekarang hanya ikut menjaga gadisnya itu (yang sudah dimiliki orang lain), mengawasi dalam diam, memastikan bahwa gadisnya itu bahagia dan baik-baik saja.
Aris baru saja selesai mandi saat ia mendengar belnya berbunyi. Keningnya seketika berkerut, "siapa yang bertamu?" tanyanya dalam hati. Ia melangkah ke pintu, mengintip lewat door viewer, dilihatnya Hana ada di depan pintunya. Aris memutar kunci, membuka pintunya.
"Hana!" sapa Aris.
"Hai, aku mampir untuk memastikan kondisimu" ujar Hana dengan senyum ramah sambil menunjukkan sebungkus plastik makanan.
"Apa kau tidak akan menyuruhku masuk,Pak Haris?. Aku membawakan makan malam untuk kita" lanjut Hana dengan mimik sedikit konyol.
Aris tertawa lalu membuka lebar pintunya, membiarkan Hana masuk, sementara ia menutup pintu.
Hana melangkah ke dalam, menuju ke dapur, sepertinya ia sudah hafal detail ruangan di apartment ini. Aris mengikutinya, duduk menunggu di meja makan, dilihatnya Hana mengeluarkan alat makan dari laci kitchen set lalu menghampiri Aris.
__ADS_1
"Lebih baik kau bantu aku membuka bungkus makanan ini daripada hanya diam, dasar mantan orang kaya" gerutu Hana sambil tangannya membuka sebuah bungkus makanan yang ia keluarkan dari dalam plastik yang ia bawa tadi.
"Mantan orang kaya?" tanya Aris dengan muka masam, Hana melirik lalu tertawa melihat raut muka Aris.
"Iya, mantan orang kaya, yang kemarin masih CEO sekarang cuma staff bagian purchase" tambah Hana dengan tawa makin berderai.
Aris diam sesaat sebelum akhirnya ikut tertawa "Setidaknya aku bahagia, bulan depan saat gajian aku akan menikmati hasil kerja ku sendiri, real dan pure dari jerih payahku" kata Aris setelah tawanya reda.
Hana menatapnya "Apa selama ini kau tidak bahagia?"
"Bahagia yang semu, Han. Semua tercukupi - tersedia, tetapi aku di tuntut untuk mematuhi semua hal, di paksa untuk untuk tunduk pada kemauan Mamaku. Rasanya seperti menjadi boneka, aku tidak berhak atas hidupku sendiri, itu menyakitkan sekaligus menyiksa" jawab Aris.
Ia sudah menyendokkan nasi juga lauk ke piringnya. Mulai menikmati nasi dan ayam bakar beserta lalapannya.
"Ini enak sekali" lanjutnya.
"Besok berterima kasihlah langsung pada Pradjna, ia yang memintaku ke sini, dia juga yang masak ini semua" jawab Hana sambil mengigit timun.
Tangan Aris yang akan menyuapkan nasi ke mulut berhenti seketika, ia memandang Hana penuh tanya, yang dipandang asyik dengan ayamnya.
__ADS_1
"Pradjna yang menyuruh mu?" tanya Aris memastikan dia tidak salah dengar. Hana mengangguk, mulutnya penuh dengan nasi - ayam.
"Pradjna bilang kondisi mu sedang sulit, dia juga bilang kamu melupakan makan mu saat sedang bermasalah, dia ga' kepengen kamu sakit" Hana meneruskan lagi "Ia juga membelanjakan mu tadi, masih ada di mobilku, nanti ikutlah turun bersama ku ke basement, mengambil kebutuhan mu" Hana berdiri membuang sisa makanannya ke tempat sampah lalu mencuci piringnya sendiri.
Aris menghabiskan makannya dalam diam, ia bahkan tidak memperhatikan Hana yang membawakan segelas air putih untuknya.
"Cepat habiskan makan mu, bengongnya nanti aja kalau aku uda pulang" seru Hana menyadarkannya. Aris bergegas menghabiskan makannya.
"Pradjna bilang, kalau kau keberatan anggap saja ini pinjaman" kata Hana lagi, mereka masih duduk di dapur.
"Tolong katakan padanya, aku berterima kasih, masakannya enak, seperti biasanya" ucap Aris kemudian.
"Akan ku sampaikan nanti, semoga ia belum tidur. Dave pasti tidak suka jika aku membangunkan Pradjna" tutur Hana.
Aris hanya mengangguk, dadanya seketika sesak mendengar nama Dave disebut di sela nama Pradjna.
"Apa kau menginap di rumah Pradjna?" tanya Aris.
"Aku tinggal di sana untuk semenjak waktu, ada beberapa event dalam waktu dekat ini, lebih dekat bagiku pulang ke rumah Pradjna daripada ke apartment ku" terang Hana. Aris menangkap betapa dekatnya mereka berdua, seingatnya dulu Pradjna malah hampir tidak punya teman Karena tidak punya waktu untuk bersosialisasi. "Syukurlah dia berteman dengan orang baik seperti mu, Hana" batin Aris dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah aku harus pulang sekarang, ikutlah turun bersama ku untuk mengambil belanjaanmu, Pradjna bisa mengomel jika tahu aku tidak memberikannya padamu" Hana berdiri, memutar meraih tasnya di kursi samping Aris duduk.
Aris berdiri mengikuti Hana melangkah keluar menuju basement.