
POV Hana
Pertama kali aku mengenal Pradjna dari cerita Bibi Lidya - istri Oom Gunadi, wanita paruh baya yang tidak di karuniai putra itu memang menyanyangi Pradjna seperti anaknya sendiri. Apalagi dengan talenta yang dimilikinya, otak yang brilian di tambah piawai memasak juga wajah baby face dan body yang proporsional.
Hanya saja ia sudah yatim sejak umur 12 tahun, lalu lengkap menjadi piatu di umur 17 tahun. Bibinyalah yang menjadi orang tua sambung baginya setelah itu. Hidup yang sarat ironi, tetapi daya juang Pradjna memang tidak bisa di sepelekan. Ia tetap fokus pada tujuannya walaupun banyak aral melintang.
Hidup bersama dengan Pradjna membuat makan ku terjamin karena ia rela repot memasak. Dari ia pula aku mengenal Dave, lelaki yang ku simpan dengan harap di dalam hati ku. Walau aku juga tahu Dave mencintai Pradjna.
Putus dari Michael sempat membuat aku down beberapa saat, hingga suatu sore aku bertemu dengan Dave yang datang ke kedai mencari Pradjna. Dari awal berjumpa itu, hatiku sudah tercuri olehnya. Mata biru tua juga senyumnya yang hangat itu meluluhkan gunung es di hatiku.
Rasanya seperti berjemur di pantai tanpa sun block, tidak lagi tanning tetapi auto terbakar, begitu aku tahu ia menatap Pradjna dengan penuh cinta dan berbicara padanya dengan suara rendah, menandakan bahwa Pradjna orang yang penting baginya.
Berkali-kali aku berusaha mematikan rasa ku pada Dave tapi berkali-kali juga rasa itu tumbuh, persis seperti kuku. Sesering aku memotongnya, sesering itu pula ia tumbuh kembali dan menguat.
Pradjna sendiri selalu meyakinkan aku bahwa akan ada masanya Dave melihat ke arah ku. Dave akan sadar bahwa akulah cintanya dan Pradjna hanyalah obsesinya.
__ADS_1
Tetapi kapan masa itu datang?.
Entahlah, aku sendiri sudah pesimis.
Aku mewajibkan diriku untuk menguatkan hati bila memergoki Dave tengah memandang Pradjna dengan tatapan berlumur cinta.
Bodohnya aku, dengan naifnya meminta Dave datang ke Indonesia untuk membantu mengamankan Pradjna juga anaknya.
Ada sisi hatiku yang bahagia bisa melihatnya secara langsung dan sedih karena Dave hanya menatap pada ku sebagai seorang teman baik.
Namun, untuk saat ini, memang aku hanya percaya pada Dave. Dia tak akan berkhianat pada orang yang di cintainya, Pradjna.
Di London Dave membuka jasa detektif swasta juga body guard.
Bidang yang di geluti itulah yang membuatku menyerahkan kasus Pradjna pada Dave.
__ADS_1
Pradjna juga Arya berada di tangan orang yang tepat, logika ku berkata seperti itu, namun hatiku berkata lain
Aku mulai termakan ego juga cemburu. Selayaknya orang yang jatuh cinta, aku juga ingin rasa ku berbalas bukan bertepuk sebelah tangan.
Pradjna pernah berkata padaku "Kamu harus terus kasih liat ke Dave kalo kamu tuh cinta, bukannya malah menutup rapat rasa mu itu" dia bisa sok bijak sekali kasih tahu ke aku apa yang harus ku lakukan, faktanya saja dia pernah hancur karena cinta.
Sepertinya memang aku dan Pradjna sama-sama bucin, tetapi gengsi buat ngakuin hal itu.
Hm...begitulah cinta, deritanya tiada akhir, eh...!!
Ada kalanya aku ingin mengajak Dave sekedar makan atau jalan berdua saja, tetapi satu kali penolakan darinya sudah membuat aku kapok.
Beda kasus bila melibatkan Pradjna, sesibuk apapun Dave pasti berusaha meluangkan waktunya.
Seperti saat ini, ia rela langsung terbang ke Indonesia saat ku beri tahu Pradjna mungkin membutuhkan jasanya.
__ADS_1
Sekali lagi, "begitulah cinta, deritanya tiada akhir".