
Chapter 34
“Nenek katamu, apa kau berfikir aku akan mengakui anak harammu sebagai cucuku, haahhh...?!?1” teriak Intan.
“Jangan pernah bermimpi...!!!” sentak wanita itu lagi.
“Seharusnya kamu tidak pernah muncul, seharusnya pula aku menghabisimu dari dulu, aku menyesal telah melepasmu begitu saja” kata Intan lagi.
“Tidak boleh ada yang memilikimu selain aku, Haris. Hanya aku yang berhak atasmu, hanya aku yang bisa memuaskanmu-memenuhi semua hasrat juga kebutuhanmu, hanya aku bukan siapapun, apalagi dia...!!!” teriak Intan sambil menunjuk Pradjna.
“ Aku sudah menyingkirkan suamiku sendiri untukmu, aku memindahkan semua anak perempuanku agar kita leluasa bersama di rumah ini. Tapi mengapa kau menolakku-mengapa kau memilih perempuan seperti dia. Bahkan kau mengatakan padaku anaknya adalah anakmu” tiba-tiba saja Intan menangis tersedu, menangkupkan kedua lengannya di atas meja lalu kepalanya menumpu pada kedua lengannya. Persis seperti ABG yang kehilangan cinta monyetnya.
Pradjna bergidik mendengar semua pengakuan Intan itu, wanita yang seharusnya ia hormati seketika membuatnya merasakan jijik yang teramat sangat tetapi ia juga merasa kasihan, wanita paruh baya itu butuh diobati. Psikisnya jelas-jelas sakit.
Air muka Aris juga sempat pias tadi tetapi lelaki itu berhasil mendatarkan kembali roman mukanya dalam sekejap. Ia sepertinya tidak terlalu terkejut dengan semua pengakuan dosa ibunya itu.
“Ku mohon, bebaskan putraku, jangan libatkan dia didalam masalah kita” kata Aris pelan, ia terlihat berhati-hati dalam mengeluarkan kata.
Intan langsung mendongakkan kepalanya, ia tersenyum lebar menatap Aris, “Kau menginginkan anak cengeng itu, Sayang?” tanyanya.
“Bagaimana bila kita bersepakat terlebih dahulu? Aku lepaskan bayi itu dan engkau sebagai gantinya” lanjut Intan sambil mengerling nakal pada Aris, ia sama sekali tidak menggubris keberadaan Pradjna, seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
__ADS_1
Aris bergeming di tempatnya berdiri, ia menatap tajam pada ibu kandungnya itu, wanita yang telah melahirkan juga menyusuinya tetapi mencintainya layaknya seorang kekasih. "
Bebaskan saja Arya terlebih dahulu!”suara aris terdengar mantap
Intan tersenyum lalu meraih HT yang tergeletak di mejanya. “Bawa bocah itu kemari!” perintahnya pada seseorang. Tak seberapa lama dinding di sebelah kiri ruangan itu terbuka, Arya muncul bersama seorang pria berperawakan tinggi besar, wajah bulat itu terlihat ketakutan sekaligus lelah, bekas air mata masih terlihat di pipinya.
"Mama..!!” teriak Arya histeris, ia ingin berlari pada Pradjna tetapi lelaki tinggi besar itu dengan sigap menangkap tangan Arya, anak itu meronta tetapi jelas saja ia kalah. Pradjna memekik tertahan. Ia berlari ke arah Arya dan lelaki tadi langsung menahan dengan menjegal kaki Pradjna, ia limbung lalu jatuh terduduk. Aris yang melihat hal itu menggeram, ia langsung mengarahkan pis**lnya kepada lelaki itu lalu menarik pelatuknya. Lelaki itu langsung jatuh terduduk, tem***an Aris tepat mengenai tulang keringnya, ia mengaduh, pegangannya pada Arya terlepas, Pradjna langsung berlari menarik Arya menjauh dari lelaki itu dan menggendong Arya, menyembunyikan wajah anak itu dalam pelukannya, terlihat sekali bahwa anak itu sangat shock dengan kondisi yang dilihatnya.
Intan hanya nyengir melihat kekacauan yang terjadi di depan matanya, seolah-olah ia tengah melihat sebuah pertunjukkan parodi.
"Ternyata kemampuan menem***mu masih sangat sempurna, Sayang” Intan memuji sambil bertepuk tangan.
Pradjna merasakan aura yang gelap penuh kejahatan, keringat dinginnya mengucur, Arya kembali terisak dalam pelukannya, tubuhnya gemetar. Pradjna sendiri juga merasakan takut.
Tiba-tiba tanpa sempat diprediksi Intan menarik pis**l kecil dari bawah mejanya. Peluru dengan cepat melesat ke arah Pradjna.
"Awas, Praaa....!!!” Aris berseru sambil berlari ke arah Pradjna. Ia mendorong tubuh Pradjna hingga ibu-beranak itu jatuh terjerembab. Sementara Intan segera bergerak mengejar sambil terus memuntahkan peluru dari FN 57-nya.
"AAAHHHH....!!!” suara teriakan Intan bergema di ruangan itu. Aris berhasil menembak Intan, warna merah darah terlihat merembes dari blousenya yang berwarna putih itu. Wanita itu limbung, tetapi masih bisa berdiri tegak, ia menatap murka ke arah Pradjna yang masih dalam posisi terduduk.
"Ini semua karena mu, ja**ng!” ucap Intan sambil mengacungkan pist**nya ke arah Pradjna, ia sudah hampir menarik pelatuknya saat tiba-tiba saja ia jatuh terduduk. Satu peluru Aris menembus kaki kirinya. Walau sudah terluka tetapi tidak membuat Intan menjadi berhenti, ia malah semakin murka, wajahnya memerah antara sakit dan murka. Ia membalikkan badannya menghadap Aris yang berada tidak jauh di belakangnya lalu menarik pelatuknya dan satu peluru melesat ke arah Aris. Aris menghindar dan peluru itu hanya menyerempet pelipisnya, terlihat warna merah pekat meleleh dari pelipisnya. Belum hilang keterkejutan mereka, Pradjna berteriak. Intan melemparkan sebuah guci kecil yang berada di dekatnya, dan guci itu mengenai tubuh Arya, anak itu mengaduh dalam tangisnya. Lalu pria yang tadi membawa Arya berdiri dan merebut Arya dari tangan Pradjna. Ia berjalan tertatih sambil menyeret Arya. Bocah itu meronta, Pradjna bangkit berdiri mengejar dan langsung mendapat hantaman tangan pria itu.
__ADS_1
"Jangan sampai ia keluar dari ruangan ini,Pra!” teriak Aris yang tengah terlihat berbaku hantam dengan ibunya itu yang sudah terlihat melemah tetapi masih memaksa untuk bertarung. Pradjna bangkit lagi dan meraih sebuah hiasan lalu memukulkannya beberapa kali pada kepala lelaki itu dan usahanya berhasil, lelaki itu terjatuh tertelungkup.
Pradjna meraih Arya, memeluk erat anaknya itu, ia mendengar sebuah tangisan lirih, Pradjna menoleh ke arah suara itu. Intan tergeletak di lantai, Aris duduk bersimpuh di sampingnya memegang kedua tangan wanita itu.
"Sadarlah, Ma. Aku ini anakmu, jangan melukai diri kita masing-masing seperti ini, aku sangat menyayangimu Ma” Pradjna ikut menitikkan air matanya mendengar ucapan Aris itu, ia ikut merasakan sakitnya.
"Aku mencintaimu, Haris” kata Intan lemah.
"Aku juga mencintai mu, Ma. Karena kau ibuku” jawab Aris. Intan tersenyum getir, ia memalingkan wajahnya pada Pradjna.
"Aku wanita jahat, aku sakit, aku gila” ucapnya sambil menatap Pradjna yang mendekap Arya dalam peluknya. Aris menggeleng.
"Seperti apapun, engkau tetap Ibuku, sampai kapanpun” kata Aris meyakinkan.
"Kita akan memperbaiki ini semua, kita akan bersama-berkumpul dalam suasana yang lebih baik lagi, bertahanlah, Ma!" lanjut Aris.
"Kemarikan ponselmu, Pra!” ucap Aris. Pradjna beringsut mengambil ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari kakinya. Ia bernafas lega saat ponselnya masih menyala.
Aris menelepon Hana, memberikan petunjuk untuk bisa masuk ke rumah itu juga akses untuk masuk ke ruangan dimana mereka berada saat ini. Ia juga meminta Hana untuk membawa dokter keluarganya bersamanya.
Sementara Intan makin kehilangan kesadarannya, ia kehilangan darah cukup banyak dari dua luka tem***nya.
__ADS_1