
Pradjna meringkuk di kasur, bergelung di dalam selimutnya. Sudah jam 3 dini hari tetapi matanya tak kunjung terpejam.
Pikirannya melayang kemana-mana. Jam 6 pagi ia harus bersiap di salon untuk wisudanya sementara matanya bengkak karena menangis terus.
Ponselnya berdering beberapa kali, panggilan dari Aris seperti biasanya. Entah sudah berapa kali berbunyi dan tidak diindahkan Pradjna. Ia juga tidak membalas pesannya.
Apa yang harus ku lakukan, ratapnya dalam hati. Ia dalam kegundahan luar biasa saat ini, 3x kejutan besar dalam sehari membuatnya limbung.
"Ini dosa, ini aib tetapi lebih berdosa lagi bila aku menghindari aib ini" batinnya berkecamuk. Air matanya kembali jatuh lagi, kotak tissuenya sudah kosong.
"Akankah aku bisa melalui ini, Tuhan?" tanya Pradjna kembali pada dirinya sendiri. Hatinya berbisik, "*K*au bisa Pradjna, yang lebih menyakitkan dari ini saja kau mampu melaluinya, yang tidak membunuhmu akan semakin menguatkankan mu" ucap suara dalam hatinya.
Pradjna mencuci mukanya, dilihatnya wajahnya yang sangat kusut, matanya bengkak dan berkantung. Ia menegakkan badannya, ia harus menjalani hidupnya, konsekuensi dari apa yang dibuatnya sendiri.
"Aku harus kuat-harus bisa, harus!" tekadnya bulat.
Setelah merapikan diri, Pradjna bergegas menuju ke salon yang sudah ia pesan beberapa waktu lalu. Ia sudah memutuskan, apapun resikonya akan ia hadapi.
Auditorium kampus sudah mulai ramai saat Pradjna sampai di sana. Pasangan Gunadi Sanjaya - pemilik restorant tempatnya bekerja sudah hadir juga, mereka memang berjanji untuk hadir diacara wisudanya, sebagai pendamping. Mereka berdua sudah menganggap Pradjna seperti keluarga sendiri.
Acara berlangsung lancar, wajah-wajah bahagia terpancar dari semua yang hadir, satu babak hidup sudah terlampaui, sementara babak baru yang sesungguhnya akan mereka songsong esok harinya.
Pradjna bergegas ke ruang dekan setelah sesi foto selesai. Ia harus membereskan semua urusannya di sini sebelum ia pergi.
"Semoga kau sukses kelak, Nak!. Bila ada kesulitan katakan saja, siapa tahu ada yang bisa ku lakukan untukmu" pesan dekannya lembut. Pradjna mengangguk, memeluk wanita paruh baya itu, mengucapkan terima kasih lalu mencium punggung tangan beliau.
Ia akan memulai babak baru dalam hidupnya. Akan ia hadapi apapun aral yang merintangi jalannya kelak.
__ADS_1
Bapak-Ibu Gunadi merayakan wisuda Pradjna di restorant mereka bersama karyawan lainnya. Rekan kerjanya memberikan selamat, Pradjna menyambut dengan senyum yang menggantung dipaksakan.
Ibu Gunadi menarik tangan gadis itu, membawanya ke lantai 3, mendudukkan Pradjna tepat di hadapannya "Apa yang membuat mu resah anak ku?" tanya Ibu Gunadi langsung, Pradjna sedikit pias. "Aku mengenalmu dengan baik Pradjna, kau sudah seperti anak ku sendiri, katakanlah, Nak!" ulang wanita yang masih terlihat cantik dan segar diusianya yang sudah kepala 5 lebih itu.
Pradjna langsung terisak, bahunya terguncang karena tangisnya. Ditatapnya Ibu Gunadi yang masih menunggunya.
"Aku hamil, Ibu" akhirnya Pradjna membuka suara juga, Ibu Gunadi menghela nafasnya. "Kau sudah memeriksa kandungan mu itu?" tanya beliau, Pradjna menjawab dengan anggukan, masih terisak.
"Itu anak Aris?" lanjut beliau lagi, Pradjna kembali mengangguk.
Wanita dengan wajah keibuan namun tegas itu terdiam sebentar.
"Kita akan menemui Aris dan keluarganya, kita harus membahas hal ini, Pradjna" tukas beliau tegas.
Pradjna seketika menggeleng kuat "Mama Aris kemarin siang datang ke apartment ku, Ibu. Ia meminta ku meninggalkan Aris, bila kita tiba-tiba datang dan memberi tahu aku hamil, aku takut ia menyakiti aku dan bayiku, anak ini tidak bersalah, Ibu" jelas Pradjna. "Ia bahkan memberiku cek kosong dan menyuruhku mengisi berapapun asalkan aku meninggalkan Aris" lanjut Pradjna lagi.
"Aku juga baru tahu kemarin, Ibu" jawab Pradjna.
Pradjna lalu menceritakan semuanya, Ibu Gunadi kembali menghela nafasnya.
"Aku akan pergi, Ibu. Aku akan ambil beasiswa itu, dengan begitu tidak akan ada yang tahu kondisiku" kata Pradjna.
"Apa kau yakin, Pra? Tidak akan ada yang mendampingimu selama di sana, kau akan sendirian anak ku" Ibu Gunadi terlihat cemas dan tidak merelakan keputusan Pradjna tersebut.
"Aku yakin, Ibu. Akan lebih aman dan baik bagi kami bila kami jauh dari sini" Pradjna menunduk memandang perutnya yang masih rata itu.
Ibu Gunadi memeluknya, wanita itu ikut terisak "Kapan kau akan berangkat, Nak?" tanya beliau.
__ADS_1
"Satu bulan lagi, Ibu. Menunggu surat rekomendasi dari kampus turun dulu" jawab Pradjna. Ibu Gunadi mengangguk, "Sementara itu, tinggalah bersama kami di sini, Nak. Ibu takut bila Mamanya Aris kembali lagi, yang sudah terjadi biarlah terjadi, bagaimana kamu bertanggung jawab untuk hal tersebut, itu yang terpenting. Ibu akan bahas hal ini dengan Bapak nanti" perintah beliau, Pradjna kembali terisak, sungguh ia terharu, ia tidak dihakimi, ia didukung. Tidak ada pertalian darah di antara mereka tetapi ada suatu yang mengeratkan, kebersamaan selama beberapa tahun itu membuat mereka bagaikan keluarga.
Pradjna kembali ke apartmentnya dengan ditemani Ibu Gunadi, membereskan barangnya yang tidak terlalu banyak. Menatap sebentar ke sekeliling, menyimpan memori yang pernah terjadi di tempat ini. Setelah dirasa cukup ia melangkah keluar, menggantung sebuah goodie bag berisi kue juga sepucuk surat di pintu apartment Dr. Diana, ucapan terima kasih sudah menolongnya kemarin.
Mereka kembali di rumah sekaligus resto keluarga Gunadi saat hari sudah beranjak malam. Setelah resto tutup, mereka bertiga duduk di ruang tengah lantai 3 keluarga itu. Pak Gun - begitu beliau selalu disapa, duduk tepat di depan Pradjna. "Kamu sudah berfikir masak-masak untuk pergi, Pra?" tanya beliau.
"Sudah,Pak. Ini yang terbaik untuk kami semua, Pradjna tidak mungkin menambah dosa baru lagi, Pradjna harus bertanggung jawab" jelas Pradjna. Pak Gun mengangguk mengiyakan.
"Baiklah kalau memang seperti itu keputusan mu,Nak. Kami hanya bisa mendoakan dan mendukungmu, bila ada apa-apa sampaikanlah, siapa tahu kami bisa membantu mu. Jaga dirimu baik-baik di sana, jangan mengulang kesalahan yang sama, berjanjilah!" Pak Gun menatapnya. "Pra janji, Pak" jawab Pradjna mantap.
Pradjna menyerahkan kunci juga sertifikat kepemilikan apartment nya yang memang sudah atas namanya itu kepada keluarga Gunadi. Mereka mengusulkan untuk menyewakannya saja jadi ada dana yang bisa untuk membantu hidup Pradjna selanjutnya.
Untuk cek yang ditinggalkan ibunya Aris mereka akan mengembalikannya dengan kurir. Pradjna menyetujui itu semua, otaknya sedikit tersendat untuk memikirkan hal tersebut yang ia inginkan cuma secepatnya pergi.
Menunggu waktu 1 bulan serasa lambat sekali, tidak seperti hari biasanya. Ia sudah mengurus visa juga passport, menyiapkan apa saja yang ia rasa dibutuhkannya di tempatnya yang baru nanti.
Keluarga Gunadi memberinya tambahan uang, "pesangon sebagai karyawan terbaik" kata Pak Gun terkekeh. Pradjna semakin terharu dengan kebaikan keluarga angkatnya ini. Memeluk pasangan itu bergantian, mengucapkan banyak terima kasih. Mereka juga mengontak keponakan yang kebetulan juga berada di London, menitipkan Pradjna padanya.
"Hana akan menjemputmu begitu engkau sampai di sana, Pra" kata Ibu Gunadi.
"Hana bilang kampus mu dekat dengan flatnya, mungkin kalian bisa bertetangga atau malah tinggal bersama, Hana anak yang baik walau terkadang jahil" jelas Ibu Gunadi lagi sembari tersenyum. Pradjna kembali mengucap terima kasih entah untuk yang keberapa kalinya.
Hingga hari itu tiba, Pradjna diantar ke bandara oleh Ibu Gunadi, beliau memeluk Pradjna lama, mengusap punggung gadis itu beberapa kali, mengecup kedua pipinya, berpesan untuk menjaga dirinya baik-baik. Pradjna mengangguk sambil sedikit terisak. Memeluk wanita yang bagai ibunya sendiri itu, lalu menuju gate nya untuk boarding.
"Awal yang baru akan segera dimulai, bersiaplah Pradjna Paramitha" ucapnya pada diri sendiri.
Pradjna melangkah mantap, akan ia hadapi semuanya.
__ADS_1