
Beberapa kali Naura membuka aplikasi pesan dan panggilan telepon namun tidak ada satupun notifikasi yang dia terima. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidur daripada mengharapkan sesuatu yang menyakiti hatinya. Terlentang diatas ranjang menatap langit-langit kamar membuat Naura tanpa terasa meneteskan air mata. Membayangkan sesuatu yang sedari pagi menghantui pikirannya.
Tring
Sebuah pesan masuk. Dengan buru-buru Naura membuka pesan. Raut wajahnya sedikit kecewa. Pesan tersebut bukan dari Andreas melainkan dari Nabila orang kepercayaan yang dia tugaskan di Bali untuk mengurus hotel miliknya. Nabila memberi tahu bahwa ada seorang pengusaha muda yang ingin menjalin kerjasama dengan hotel Naura di Bali. Dan dia ingin mengadakan pertemuan besok.
Naura tidak membalas pesan melainkan langsung melakukan panggilan ke Nabila. Tidak menunggu lama panggilan itu pun segera terjawab.
“Iya nona.”
“Jadwalkan pertemuan dengan orang itu besok sore.”
“Apa nona akan terbang ke Bali?”
“Iya, aku akan melakukan penerbangan pagi.”
“Apa perlu saya jemput di bandara nona?”
“Tidak perlu kamu cukup atur pertemuan kami dan kita ketemu saja disana.”
“Baik nona.” Setelah itu Naura memutus sambungan telepon dan berkemas untuk pergi ke Bali besok pagi. Cara terbaik untuk melupakan seseorang adalah sebisa mungkin menghindari bertemu dengan orang yang kita cintai. Karena semakin sering bertemu dan berinteraksi dengan orang yang kita cinta maka rasa itu akan semakin bertambah dan tumbuh dengan sendirinya meskipun kita sudah berusaha untuk biasa saja.
Dini hari pukul 02.00
Andreas baru pulang dari rumah Celine setelah wanita itu tertidur pulas. Celine dengan usahanya selalu berhasil menahan Andreas untuk tidak pulang. Dia menolak ajakan Celine untuk menemaninya tidur di kamar. Andreas tidak ingin tertipu lagi dengan Celine. Dia selalu membuang air yang disediakan wanita itu untuk dirinya tanpa sepengetahuan Celine. Karena takut wanita itu memberikan sesuatu di minumannya seperti malam itu.
Andreas sudah bertekad dia akan bertanggung jawab pada pernikahannya selama masa kontrak itu berlangsung. Setelah menemani Celine hingga tertidur pulas setelah minum obat lelaki itu memutuskan untuk pulang. Sedari tadi dia memikirkan Naura yang dia tinggal begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan istrinya. Terlebih dia lupa membawa ponsel karena tertinggal di ruang kerjanya.
Andreas mulai menaiki anak tangga satu per satu. Tujuannya adalah kamar sebab rumah sudah terasa gelap dan sepi. Naura pasti sudah tidur. Dia membuka pintu kamar secara perlahan. Agar suara decitan pintu tidak membangunkan Naura.
__ADS_1
Andreas langsung mendekat ke ranjang. Tangannya menyingkirkan beberapa anak sulur rambut yang menutupi wajah ayu Naura.
“Apa ini? Apa dia baru saja menangis?” gumam Andreas mendapati salah satu sudut mata Naura yang berair.
“Tapi kenapa? Apa karena kepergianku dengan Celine?” pikirnya.
Cukup lama memandang wajah istrinya Andreas pun memilih untuk segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya disamping Naura. Lelaki itu mendekap tubuh Naura yang membelakangi dirinya. Dan beberapa saat kemudian Andreas sudah terlelap sambil memeluk Naura.
Pagi hari
Naura bangun terlebih dahulu dan mendapati Andreas tidur sambil memeluk dirinya. Dengan gerakan pelan dia menyingkirkan lengan kokoh Andreas yang melingkar di perutnya. Kemudian turun ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia ada penerbangan pagi ini jadi dia akan pergi tanpa membangunkan Andreas. Karena sepertinya lelaki itu kelihatan sangat lelah. Entah apa yang dia lakukan bersama Celine, Naura terlalu malas untuk menerka-nerka.
“Non mau pergi?” tanya bibi yang baru saja datang untuk bekerja. Melihat Naura turun dari tangga dengan koper kecil di tangannya.
“Iya bi, tolong sampaikan ke Tuan, kalo saya pergi untuk urusan bisnis beberapa hari di luar kota.”
“Maaf non jika bibi lancang. Kenapa tidak non Naura saja yang menyampaikan itu ke tuan Andreas?”
“Baik non, nanti bibi sampaikan pesan non Naura untuk Tuan.” Setelah itu Naura pergi dengan sebuah taksi online yang sebelumnya dia pesan.
Satu jam berlalu. Andreas mulai meraba-raba tempat tidur di sebelahnya yang sudah terasa dingin. Lelaki itu membuka mata tidak mendapati istrinya di ranjang. Andreas bangkit melihat seluruh ruangan di dalam kamar. Dan tidak ada keberadaan Naura disana. Andreas keluar kamar hendak mencari Naura namun yang dia lihat hanya ada bibi yang sedang membersihkan ruangan disana.
“Tuan sudah bangun.” Sapa bibi sambil memegang sapu.
“Bibi melihat istri saya?” tanya Andreas sambil melihat sekeliling mencari sosok yang di acari.
“Non Naura tadi pagi pergi membawa koper kecil Tuan. Non bilang…”
“Koper kecil??” tanya Andreas memotong ucapan bibi yang belum selesai.
__ADS_1
“Iya Tuan, non Naura berpesan dia ada urusan bisnis beberapa hari di luar kota. Dia tidak membangunkan tuan karena merasa tidak tega. Non Naura melihat Tuan tidurnya sangat lelap dan seperti seorang yang kecapean.” Mendengar penjelasan bibi Andreas kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor.
Di kantor Andreas terlihat uring-uringan. Apapun yang dilakukan oleh sekretaris dan asistennya selalu saja ada yang kurang padahal mereka sudah melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Andreas.
“Apa telingamu itu tidak berfungsi dengan baik? Aku menyuruhmu membuat kopi bukan teh manis seperti ini? Kau ingin membuatku diabetes, Hah??” teriak Andreas pada sekretarisnya. Ini sudah ketiga kali sekretarisnya itu kena semprot, membuat asisten Andreas tidak tega dan meminta wanita itu untuk keluar.
“Apa ada masalah?” tanya sang asisten.
“Tidak ada.” Jawab Andreas singkat. Dia terus melihat ponsel miliknya. Menanti sebuah pesan atau telepon seseorang. Namun tidak kunjung ada membuat perasaan Andreas kacau. Dia pun sendiri tidak mengerti dengan suasana hatinya. Padahal sedari tadi dia sudah berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya.
“Lalu kenapa kau seperti ini?” Andreas hanya diam. Dia sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
“Kau tahu aku dengar sendiri kau minta kopi tanpa gula,lalu dia buat kopi tanpa gula dia membuat seperti perintahmu tapi kau memarahinya karena kopi itu terlalu pahit. Lalu dia menambahkan gula dan dengan seenaknya kau bilang minta teh akhirnya dia ganti teh sesuai keinginanmu. Kenapa kau melampiaskan kekesalanmu dengan orang yang tidak bersalah?”
“Entahlah, aku hanya kesal.”
“Dengan siapa?”
“Naura.”
“Bagaimana dia bisa membuatmu merasa kesal?”
“Karena dia pergi begitu saja tanpa berpamitan denganku. Berpamitan dengan suaminya. Apakah itu perbuatan yang baik sebagai seorang istri pergi tanpa meminta ijin dengan suaminya terlebih dahulu.” Asisten Andreas tersenyum kemudian melangkah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Jadi itu sebabnya.” Ucap asisten dengan enteng. Wajahnya bahkan tersenyum seperti mengejek ke arah Andreas.
“Apa maksud senyummu itu?” kesal Andreas.
“Apa kau lupa dengan perjanjian kalian, tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Pernikahan kalian hanya diatas kertas. Dan tidak ada kewajiban atau hak yang harus kalian lakukan atau terima. Jadi kenapa kau harus kesal? Apa jangan-jangan kau mulai mencintainya?”
__ADS_1
“Apa?”