
Di dalam kamar sebuah hotel Celine dan Stevan saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Entah sudah berapa kali mereka mencapai puncak kenikmatan dunia. Seolah tidak ada kata lelah diantara mereka berdua. Beristirahat sebentar kemudian melakukan lagi. Bahkan ini sudah hampir 3 jam mereka melakukan pergumulan panas. Tadi di ranjang kemudian di sofa dan sekarang mereka melakukan itu di dalam kamar mandi.
“Apa kau tidak lelah ?” tanya Celine yang mulai kehabisan tenaga karena digempur habis-habisan oleh Stevan.
“Tidak. Tubuhmu adalah kekuatanku honey.” ucap Stevan yang terus memberikan gempuran depan belakang untuk Celine.
“Tapi aku sudah mulai lelah. Apa kau tidak kasihan dengan anakmu?” Stevan hampir saja melupakan jika ada kehidupan kecil di rahim Celine.
“Aku janji ini yang terakhir honey.” Stevan mempercepat gerakan hingga lenguhan panjang terdengar tanda puncak kenikmatan itu telah tercapai.
Keduanya kemudian membersihkan diri. Stevan membantu Celine pun sebaliknya. Mereka saling bergantian saat menggosok punggung dengan sabun mandi. Terkadang Celine melenguh saat tangan Stevan sedikit nakal memainkan aset miliknya.
“Sayang aku lelah.”
“Oke ,hanya sedikit menyentuh honey.”
“Nakal.” Stevan pun tertawa mendengar pujian dari wanita yang selalu memberinya kepuasan batin.
Stevan menggendong tubuh Celine kemudian menurunkannya di atas ranjang. Lelaki itu pergi mengambil celana boxer dan pergi membuka pintu saat seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
“Ayo makan kau pasti sangat lapar.” Stevan membuka dua kotak makanan yang baru saja diantar oleh pelayan hotel.
“Tapi aku belum pakai baju.”
“Tidak usah dipakai jika nantinya akan dibuka lagi.”
“Dasar hyper.”
“Hahahaaa.”
Andreas mengendarai mobilnya menuju hotel. Jalanan yang lengang dan tidak macet membuat Andreas sampai dengana cepat. Disana sudah ada asisten Andreas dan orang kepercayaannya yang menunggu.
“Kau lama sekali.” Gerutu asisten Andreas.
“Dimana mereka?”
“Kamar nomer 207.”
“Mereka belum keluar kan?” tanya Andreas saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
__ADS_1
“Belum, mungkin mereka akan menginap.”
Ting
Pintu lift terbuka. Tanpa sengaja Andreas bertemu dengan Daniel dan Luna yang baru saja meeting dengan para petinggi hotel tersebut.
“Andreas, sedang apa kau disini.”
“Bukan urusanmu.” sungguh Andreas malas meladeni Daniel yang kadang-kadang membuatnya kesal. Andreas melirik sekilas wanita yang ada di sebelah Daniel. Sepertinya dia pernah melihat wanita itu tapi dia lupa dimana.
“Dia luna, rekan bisnisku.” Daniel memperkenalkan Luna saat menyadari lirikan dari suami wanita yang pernah mengisi seluruh hatinya.
“Oh.”
“Tunggu, kau mau kemana.” Daniel mengikuti langkah Andreas. Laki-laki itu benar-benar kepo dengan apa yang ingin dilakukan oleh suami Naura. Jika dia berselingkuh dengan wanita lain maka dia akan mengadukan ini dengan Naura.
Akhirnya mereka semua mengikuti Andreas yang berhenti tepat di depan pintu kamar nomer 207.
“Untuk apa kau disini, Jangan-jangan kau selingkuh ya. Akan aku adukan kau dengan Naura.” Ancam Daniel.
“Tutup mulutmu. Aku sedang tidak ingin kelahi denganmu.” Andreas mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari dalam. Kemudian dia mengetuk kembali kali ini ketukannya sedikit keras.
Sementara Stevan dan Celine sedang dalam posisi tanggung saat pintu diketuk oleh seseorang dari luar.
“Tidak.” Stevan mempercepat gempurannya. Membuat keduanya terus merem melek menikmati surga duania yang kesekian kali. Stevan dan Celine mengabaikan ketukan pintu yang terus berbunyi. Hingga keduanya melenguh panjang merasakan cairan yang keluar dari tubuh mereka masing-masing secara bersamaan.
“Siapa sih mengganggu saja!” gerutu Stevan.
Lelaki itu memakai celana yang sebelumnya tergeletak di atas lantai. Berjalan ke arah pintu melihat siapa yang sudah mengganggu kesenangannya.
Pintu terbuka
Tubuh Luna menegang saat melihat siapa sosok yang membuka pintu. Lelaki yang begitu sangat dia kenal hanya memakai celana dengan dada terbuka yang penuh dengan keringat. Stevan menatap Andreas dia tidak menyadari ada kekasihnya disana.
“Siapa kamu?” tanya Stevan yang merasa tidak mengenali Andreas.
“Siapa sayang?” teriak Celine dari dalam.
Andreas menggeser tubuh Stevan dengan paksa kemudian menerobos masuk saat mendengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing di telinganya.
__ADS_1
Stevan menegang saat melihat sosok wanita yang berdiri di belakang Andreas. Dia adalah Luna kekasihnya.
“Luna.” panggil Stevan.
Gadis itu mendekat kemudian melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi lelaki yang sudah sangat dia percaya. Bahkan demi membela lelaki bajingan di hadapannya itu dia rela menjadi anak durhaka.
“Kita putus.” Ucap Luna tegas kemudian berbalik meninggalkan Stevan.
“Luna tunggu sayang.” Stevan memegang lengan Luna.
“Sayang aku bisa jelaskan.”
“Apa yang ingin kau jelaskan saat tanda-tanda ini ada ditubuhmu.” Luna menunjuk satu per satu kissmark yang dibuat oleh Celine saat mereka bercinta tadi.
“Sial.” Umpatnya dalam hati. Harusnya stevan tadi memakai baju agar tanda-tanda itu tidak terlihat. Sekarang dia menyesali kebodohannya.
“Sayang dia yang menggodaku.” Kilah Stevan.
“Cih, seharusnya kau bisa menolak jika kau memang mencintaiku.”
“Maafkan aku Luna. Tolong beri aku kesempatan. Aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sayang.”
“Maaf tapi tidak ada yang namanya kesempatan untukmu. Kita putus. Dan aku sudah memiliki laki-laki penggantimu. Perkenalkan dia adalah Daniel kekasih baruku mulai malam ini.” Luna menggandeng Daniel yang berdiri disampingnya.
“Tidak, Luna aku tidak mau putus denganmu. Tolong beri aku satu kesempatan sayang. Aku berjanji…” Luna mengangkat tangannya. Membuat Stevan berhenti bicara.
“Maaf Stevan aku tidak bisa memberimu kesempatan. Kau sudah berkali-kali ku beri kesempatan untuk berubah. Tetapi kali ini perbuatanmu sungguh membuatku jijik. Lagi pula kau sudah menemukan penggantiku yang bisa memuaskanmu. Dan aku menemukan orang yang bisa mengerti keadaanku. Jadi diantara kita sudah tidak ada lagi hubungan. Jangan mencariku atau menghubungiku. Sungguh aku merasa muak dengan laki-laki tidak berguna seperti dirimu.” Setelah mengeluarkan unek-unek dalam hatinya Luna mengajak Daniel untuk keluar dari hotel.
Sungguh hatinya hancur. Perasaan yang dia junjung tinggi untuk Stevan kini hancur sudah tidak ada harapan.
Sementara di kamar hotel Celine yang masih polos tanpa sehelai benang dan hanya berselimut diatas ranjang merasa terkejut Ketika melihat Andreas berdiri di hadapannya.
“A-Andreas?” ucap Celine terbata-bata.
“Sekarang aku yakin jika anak yang kau kandung bukanlah anakku.” Andreas mencibir wanita yang tanpa malu beranjak dari ranjang dan mulai memakai pakaiannya kembali.
“Tidak sayang, ini adalah anakmu.”
“Stop Celine.”
__ADS_1
“Apa yang aku lihat sudah cukup bukti jika anak itu bukanlah anakku. Dan aku rasa usia kehamilanmu dan usia saat kita melakukan sangat berbeda jauh. Dan sangat jelas jika itu bukanlah anakku. Sekarang jangan ganggu rumah tanggaku lagi. Dan hubungan kita berakhir. Jika kau berani macam-macam maka kau akan tanggung sendiri akibatnya.”
Setelah mengatakan itu Andreas pergi dari kamar hotel. Dia bergegas pulang. Ingin segera memberi tahu kabar ini kepada istrinya. Sesampainya di rumah terlihat Naura yang sudah terlelap. Terlihat dari dengkuran halus yang mengiringi nafas istrinya. Andreas kemudian merebahkan tubuh di samping Naura. Memeluk erat tubuh yang menjadi candu bagi dirinya. Dan tidak berselang lama Andreas pun sudah memasuki alam mimpinya. Malam ini akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak sambil memeluk Naura. Wanita yang saat ini sangat dia cintai.