Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 27


__ADS_3

“Naura masih lama tidak.” teriak Andreas di depan pintu kamar mandi. Lima belas menit sudah dia menunggu Naura. Dan selama itu juga dia menahan buang air kecil. Entah apa yang di lakukan Naura di dalam kamar mandi.


“Bentar lagi kak.”


“Cepatlah, aku sudah tidak tahan ini.”


“Bagaimana ini?” ucapan Andreas membuat Naura salah paham. Dia pikir Andreas tidak tahan ingin segera bersenang-senang seperti yang mereka lakukan tadi siang.


“Ini salahmu Naura, kau yang memulai duluan tadi siang. Berani-beraninya menggoda seorang laki-laki dewasa. Dan sekarang kau harus menanggung akibatnya.” Naura bermonolog menyalahkan dirinya sendiri.


“Naura.” Andreas kembali mengetuk pintu. Kali ini ketukannya lebih kencang. Sungguh panggilan alam sudah menusuk-nusuk di dalam perut meminta untuk segera dikeluarkan.


“Iya kak ini aku sudah mau selesai.” Terdengar aliran air dari kran di dalam kamar mandi. Naura sengaja menyalakan agar terdengar bahwa dia sedang buang hajat.


“Ini salahmu Naura dan kau harus tanggung jawab atas kebodohanmu itu.” Naura pun memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Dengan rasa was-was dan takut dia melihat Andreas yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Kau itu lama sekali, perutku sampai sakit menahannya.” Andreas menarik tubuh Naura untuk segera keluar dari kamar mandi. Kemudian dia menutup pintu kamar mandi. Menuntaskan hajat yang sedari tadi dia tahan.


Naura masih membeku di tempat. Ternyata Andreas tidak tahan ingin ke kamar mandi karena ingin buang hajat. Bukan karena tidak tahan ingin segera having fun seperti yang dia pikirkan. Naura memukul kepalanya dengan perlahan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi memenuhi otaknya.

__ADS_1


***


Di tempat lain di salah satu hotel di Jakarta dua manusia yang tidak pernah absen untuk saling menyatu sedang bergumul kembali untuk menumbuhkan benih di rahim wanita itu. Hampir satu jam keduanya melakukan adegan ranjang. Hingga keringat membasahi tubuh keduanya. Olah raga malam yang sering mereka lakukan seakan sudah menjadi candu bagi keduanya. Meskipun sudah memiliki pasangan masing-masing mereka seolah tidak peduli. Yang ada hanya mencari kenikmatan dunia yang mampu membuat tubuh melayang-layang di atas nirwana.


“Kau puas honey.” Tanya Stevan kemudian mencium bibir Celine sebelum akhirnya tumbang diatas tubuh partner ranjangnya.


“Kau selalu memuaskanku sayang.” Balas Celine memeluk Stevan yang masih setia menancapkan senjatanya di bawah sana. Menikmati sesuatu yang berdenyut nikmat didalam lembah miliknya.


“Aku pun selalu terpuaskan olehmu.” Stevan berguling ke samping Celine dengan deru nafas yang masih saling memburu. Dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat meskipun ruangan tersebut ber AC.


“Apakah kita akan melakukan hal ini terus setelah kau menikah dengan Luna dan aku menikah dengan Andreas?” tanya Celine di sela nafas yang masih belum teratur akibat pergumulan mereka yang baru saja mencapai puncaknya.


“Entahlah. Sepertinya kalau aku tidak puas dengan Andreas aku akan mencarimu.” Jawaban Celine membuat Stevan tertawa terbahak-bahak.


“Tentu saja kau akan mencariku. Sebab aku akan selalu membutuhkanmu. Dan aku yang mampu memuaskanmu honey” Stevan lelaki dengan hyper *** itu tidak akan tahan jika ditinggal oleh Luna untuk pekerjaan bisnis milik keluarganya. Terlebih papa mertuanya tidak menyukai dirinya. Hal itu juga yang membuat Stevan malas untuk bertemu dengan mertuanya. Oleh karena itu dia butuh Celine untuk memuaskan has*ratnya saat ditinggal oleh Luna seperti saat ini. Beruntungnya Luna gadis cantik itu sangat mencintai dan mempercayai Stevan sehingga gadis itu mudah sekali untuk dibohongi.


Celine terdiam dia memikirkan sesuatu. Namun belum tentu pasti dan dia harus memastikannya terlebih dahulu. Wanita itu turun dari ranjang memakai kembali pakaian yang sebelumnya dia buang sembarang diatas lantai. Stevan menatap Celine namun tidak bertanya. Dia terus menatap hingga kedua mata mereka saling bertemu.


“Aku pergi sebentar dan akan segera kembali.”

__ADS_1


“Aku menunggumu honey, rasanya aku belum puas menikmati tubuhmu.”


“Dasar hyper.” Stevan tertawa terbahak-bahak mendengar pujian dari mulut Celine.


“Terima kasih atas pujiannya Honey.” Kemudian Stevan memberikan kiss jarak jauh dengan kedua jari yang ditempel di bibir dan di berikan ke Celine lewat udara.


Celine pergi ke minimarket di dekat hotel. Dia membeli beberapa alat tes kehamilan dengan merek yang berbeda. Sudah tiga hari dia telat datang bulan. Dan jika tebakannya benar maka kemungkinan dia sedang hamil sekarang. Untuk itu dia harus segera mengetahui apakah dirinya hamil atau tidak supaya dia dapat berhati-hati dalam melakukan hubungan badan dengan Stevan.


Celine masuk kembali ke kamar hotel. Dia tidak melihat Stevan diatas ranjang. Ternyata lelaki itu sedang melakukan panggilan dengan Luna kekasihnya. Tidak ingin membuat Luna curiga, Celine pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Dia menampung air ken*cing nya di dalam sebuah wadah. Kemudian membuka satu per satu test pack yang sudah dia beli. Memasukkan bagian ujung ke dalam cawan hingga air itu naik perlahan. Celine terus menatap pergerakan air yang mulai naik dan menunjukkan satu garis dengan jelas dan berikutnya terlihat satu garis merah lagi namun samar. Karena masih penasaran dia mengulangi hal itu dan hasilnya sama. Empat test pack dengan merek yang berbeda itu menunjukkan dua garis merah. Yang artinya saat ini wanita itu sedang mengandung.


“Akhirnya.”


Celine tersenyum puas. Rencananya berhasil. Sebelum menemui Andreas dia harus memastikan terlebih dahulu ke dokter spesialis kandungan. Dan akan menunjukkan hasil tersebut sebagai bukti yang kuat. Dia sudah tidak sabar ingin menemui kekasihnya yang mulai menjauh itu.


“Andreas kau adalah milikku. Dan selamanya akan menjadi milikku karena aku membutuhkan harta dan uangmu untuk hidup mewah.” Celine kemudian tertawa membayangkan dia menjadi istri Andreas dengan kehidupan yang serba berkecukupan. Terlebih sudah beberapa minggu dia tidak mendapat uang dari Andreas. Dan kondisi keuangnnya kini sedang tidak baik-baik saja.


Terlebih Stevan juga tidak bisa diandalkan sebagai laki-laki. Pria itu saja hidup dari uang yang Luna berikan setiap bulan. Bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan lelaki pengangguran seperti dirinya. Namun untuk urusan ranjang Stevan memang ahlinya.


Naura terlihat sibuk memainkan ponselnya diatas tempat tidur. Sesekali dia tertawa renyah melihat video-video lucu yang dia tonton di sebuah aplikasi tok-tik. Tanpa menyadari sepasang mata terus memperhatikannya. Ya Andreas sudah keluar dari kamar mandi beberapa saat yang lalu. Entah mengapa dia begitu senang saat mendengar tawa Naura yang baru pertama kali dia dengar. Karena selama ini Naura lebih sering tersenyum daripada tertawa saat bersama dengan dirinya maupun orang lain.

__ADS_1


“Kau sedang apa?”


__ADS_2