
Rumah sakit Jakarta
Celine sedang duduk di kursi besi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Bersama dengan ibu-ibu hamil yang lainnya. Bedanya ibu-ibu yang datang rata-rata ditemani oleh suami mereka. Atau ditemani oleh salah satu anggota keluarga mereka. Berbeda dengan Celine yang datang sendirian. Dan dia tidak peduli itu. Yang terpenting sekarang dia harus melakukan pengecekan dengan dokter spesialis obgyn untuk memastikan ada atau tidaknya janin yang tumbuh di dalam rahimnya.
Celine memasuki ruangan dengan jantung berdebar. Dia membuka pintu setelah namanya beberapa saat lalu dipanggil oleh perawat. Dia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Andreas saat mengetahui dirinya hamil. Dan dia ingin Andreas segera menceraikan Naura dan menikahi dirinya. Membayangkan saja sudah membuat Celine bahagia apalagi jika itu menjadi sebuah kenyataan. Pasti hidupnya akan mewah dan sosialita.
“Selamat siang bu.” sapa dokter perempuan yang masih menggunakan masker. Dokter itu masih berfokus membaca nama dan keluhan pasien pada berkas yang dia pegang.
“Siang dok.”
“Celine.” Dokter kemudian membuka masker menunjukkan wajah dia seutuhnya.
Celine cukup terkejut. Ternyata dokter yang akan menangani dirinya adalah teman semasa SMA. Terlebih dokter tersebut dulunya sering Celine tolong dalam berbagai hal. Mereka bersahabat waktu itu. Hingga keduanya berpisah saat Megan harus melanjutkan pendidikan ke universitas di luar kota.
“Megan.”
“Long time no see Celine. Apa kabarmu?” dokter berdiri menghampiri Celine dan memberikan pelukan sesaat kepada Celine.
“Kabarku baik. Aku tidak menyangka dirimu sekarang jadi dokter spesialis.” Dokter Megan tersenyum kemudian kembali ke tempat duduknya.
“Apa kau sedang hamil?”
“Kemarin aku testpack dan hasilnya dua garis. Aku ingin memastikan apakah aku benar-benar hamil atau tidak?” jelas Celine pada dokter Megan.
“Baiklah ayo naik dan berbaringlah.” Perawat mulai membantu Celine membuka baju di bagian perut bawah dan memberikan gel putih diatasnya. Dokter Megan mulai mengarahkan alat transduser di atas perut Celine sambil melihat gambar dilayar monitor.
“Sepertinya benar kau sedang hamil. Lihatlah kantung itu dan ini adalah janin. Masih kecil karena usianya baru 5 minggu.”
“Sejauh ini semuanya normal dan baik. Hari perkiraan lahir nya bulan November tanggal 20.” lanjut dokter Megan kemudian meletakkan alat USG setelah selesai memeriksa Celine.
__ADS_1
Perawat membantu membersihkan sisa gel yang tersisa di atas perut Celine. Kemudian membenarkan kembali baju yang sebelumnya tersingkap keatas saat pemeriksaaan berlangsung. Celine turun dari ranjang dan duduk kembali di depan dokter Megan.
“Aku akan meresepkan vitamin untukmu. Apakah ada keluhan lain sejauh ini?”
“Tidak ada. Aku juga belum merasakan mual di pagi hari atau pun pusing di kepala.” Dokter Megan tersenyum.
“Mungkin papanya yang merasakan hal itu.” Ucapan dokter Megan membuat Celine memicingkan mata. Bagaimana mungkin dia yang hamil tapi ayah bayi yang mual atau pusing.
“Namanya syndrome couvade. Dimana suamilah yang merasakan gejala hamil. Itu dikarenakan adanya hubungan yang erat dengan si janin.” Terang dokter Megan saat melihat kebingungan yang terlihat di wajah Celine.
“Apa kau sendirian? Dimana suamimu?” Celine terdiam saat mendengar pertanyaan dokter. Tidak mungkin dia menjawab dia belum menikah. Dan juga tidak mungkin dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Dia sibuk.” hanya jawaban itu yang dapat Celine berikan. Dokter Megan mengerti dan dia tidak bertanya lebih jauh lagi tentang itu. Karena tidak ingin membuat Celine bersedih karena ketidakhadiran suaminya.
“Ini vitamin untukmu. Jaga baik-baik kandunganmu karena tri semester pertama rawan keguguran. Hindari pekerjaan yang berat-berat. Perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi.” Dokter memberikan selembar kertas berisi resep untuk Celine tebus di apotek rumah sakit.
“Terima kasih Megan.”
“Baiklah.” Celine menerima kartu nama tersebut. Memasukkannya di dalam tas beserta hasil usg yang baru saja dia dapat.
Sepanjang lorong rumah sakit dia begitu bahagia. Senyum tidak pernah surut dari wajahnya. Rencana yang dia susun tinggal selangkah lagi. Rasa bahagia yang di dapat Celine tidak sebanding dengan Stevan. Lelaki itu terlihat lemas setelah beberapa saat lalu berhasil mengeluarkan makanan yang baru saja dia makan. Dan sekarang rasa pusing di kepalanya tidak kunjung berkurang. Padahal dia sudah minum obat penghilang rasa sakit di kepala.
“Sepertinya aku harus periksa ke dokter.”
***
Pantai Tanjung Pasir
Andreas dan Naura baru saja selesai menikmati beberapa wahana sport air. Sungguh dia senang bisa mencoba wahana itu bersama dengan Andreas. Terlebih cuaca juga sangat cerah hari ini. Di bawah payung besar yang melindungi dirinya dari cahaya matahari Naura bersantai ditemani sebuah kelapa muda dingin yang segar dengan kaca mata hitam yang melekat di mata. Sambil menikmati indahnya deburan ombak pantai yang tidak terlalu besar. Semilir angin menerpa tubuhnya. Memberikan rasa segar tersendiri bagi mereka.
__ADS_1
“Kau senang?” tanya Andreas setelah menghabiskan separuh air kelapa muda miliknya.
“Emm.” jawab Naura sebab dia masih terus meneguk air kelapa yang melegakan tenggorokan siang itu.
“Bagaimana kalo lain kali kita pergi ke Bali?” ajak Andreas sambil menatap wajah Naura.
“Aku setuju. Bali memang surganya pantai. Dan aku sering kesana.”
“Kau sering kesana?”
“Iya.”
“Dengan siapa?”
“Teman.”
“Laki-laki?” tanya Andreas begitu penasaran.
“Ada laki-laki ada perempuan.” jawab Naura santai.
“Laki-laki itu kekasihmu?” entah kenapa gelengan kepala Naura membuat dirinya merasa lega.
“Aku belum pernah pacaran tapi kalo dekat dengan lelaki pernah.” Semasa sekolah maupun kuliah Naura hanya fokus belajar. Tidak ingin nilainya jelek hanya karena pacaran. Oleh karena itu dia hanya akan dekat dengan laki-laki sebagai teman atau partner untuk mengerjakan tugas. Meskipun ada beberapa yang menyatakan perasaan suka kepada Naura namun gadis itu menolak dengan mengatakan ingin fokus belajar dulu. Selain itu dia sudah memiliki perasaan pada seseorang waktu SMA. Dan lelaki itu adalah Andreas lelaki yang kini ada bersamanya dan telah menjadi suaminya.
“Siapa? Apa si Daniel lelaki yang dekat denganmu?”
“Dia salah satunya tapi dulu dia tidak setampan sekarang. Dulu dia gemuk dan culun. Sekarang tinggi dan tampan. Pekerjaannya pun mapan.” Puji Naura yang tanpa dia sadari pujian untuk lelaki lain membuat hati Andreas memanas. Dan langsung pergi meninggalkan Naura begitu saja tanpa sepatah kata.
“Kenapa dia?” gumam Naura menatap punggung Andreas yang perlahan mulai menjauh.
__ADS_1
“Kak Andreas.” Teriak Naura memanggil Andreas. Namun lelaki itu tidak peduli dia tidak menoleh ke belakang sama sekali meskipun mendengar teriakan Naura.
“Bisa-bisanya dia memuji lelaki lain dihadapanku!!!”