Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 25


__ADS_3

Hari berganti hari hubungan Andreas dan Celine mulai merenggang meskipun Celine sering menghubungi Andreas namun lelaki itu tidak merespon sesering dulu. Membuat Celine semakin yakin jika Andreas mulai berpaling dari dirinya. Dan mulai menghindarinya. Terlebih Andreas akhir-akhir ini sangat susah sekali untuk ditemui.


Berbeda dengan Naura, entah kenapa lelaki itu ingin selalu dekat dengan istrinya. Terlebih saat kemarin melihat Daniel berada di kantor Naura. Karena rasa penasaran dia menanyakan maksud keberadaaan Daniel yang dia lihat. Di luar dugaan ternyata lelaki itu sudah menjadi rekan bisnis Naura. Dan yang pasti hubungan mereka bisa saja menjadi lebih dekat.


Tidak ingin hal itu terjadi Andreas pun lebih sering datang ke kantor Naura walau sekedar untuk makan siang seperti hari ini.


“Maaf membuat kakak menunggu.” Naura datang setelah menghadiri rapat. Sungguh dia merasa tidak enak harus membuat Andreas menunggu lama.


“Tidak apa, apa sudah selesai.” Tanya Andreas memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku jas yang sebelumnya sempat dia gunakan untuk mengusir rasa jenuh menunggu Naura.


“Sudah.” Jawab Naura.


“Kalau begitu ayo.” Andreas mengulurkan tangan untuk ia kaitkan dengan jari jemari milik Naura. Disaat keduanya baru saja berjalan terdengar seseorang memanggil Naura.


“Naura.” Wanita itu tanpa sengaja melepas genggaman tangan Andreas. Membuat wajah lelaki itu seketika kesal. Terlihat jelas guratan yang terlukis di wajah Andreas.


“Dia lagi.”


“Kenapa Daniel?”


“Kalian mau kemana?” tanya Daniel saat dia sudah berada dua langkah di hadapan Naura.


“Aku akan makan siang dengan suamiku.” Kata suami membuat Andreas menoleh ke arah Naura dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas.


“Apa aku boleh ikut?” senyum Andreas mengendur perlahan. Tatapannya menghujam ke arah Daniel. Namun lelaki itu terlihat biasa saja meski ditatap Andreas seperti itu. Andreas tidak suka dengan tatapan Daniel yang menampakkan senyum penuh di kedua sudut bibirnya saat memandang wajah Naura. Terlihat jelas jika lelaki itu menyukai istrinya.


Naura mencuri pandang ke arah Andreas. Dia dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Antara menolak atau menerima permintaan Daniel. Biar bagaimanapun Daniel sekarang adalah rekan bisnisnya. Dan dia merasa tidak enak jika harus menolak permintaan Daniel yang ingin bergabung makan siang dengan dirinya.


“Baiklah.” Andreas mengiyakan sebab dia dapat melihat wajah bingung istrinya. Kemudian Andreas mengaitkan kembali jari jemarinya dengan Naura. Berjalan mendahului Daniel yang melangkah di belakang mereka. Tatapan mata Daniel berpusat pada genggaman tangan sepasang suami istri di depannya. Berjalan tiga langkah di belakang mereka membuat kedua mata Daniel lebih leluasa mengamati keduanya.

__ADS_1


“Apa kesempatan itu masih ada? Jika Naura tidak bahagia bersamamu jangan salahkan aku jika aku akan merebutnya darimu.”


***


Matahari mulai kembali ke peraduannya. Langit perlahan menggelap dengan cahaya jingga yang menghiasi langit di bagian barat.


Naura dan Andreas baru saja membersihkan diri dan bersantai dengan pakaian rumahnya. Besok adalah hari cuti bersama. Dan satu jam yang lalu Naura sudah membereskan pakaian mereka yang akan dibawa besok untuk berlibur ke pantai. Tidak banyak yang mereka bawa hanya sebuah koper berwarna hitam dengan ukuran yang tidak terlalu besar karena hanya berisi pakaian untuk tiga hari saja.


“Apa semua sudah kau siapkan?” Andreas melihat sebuah koper berdiri disamping pintu sesaat setelah dia masuk ke dalam kamar mereka.


“Sudah. Aku hanya memasukkan pakaian kita saja tidak ada yang lain. Apa kakak ingin membawa sesuatu? Kalo iya biar aku masukkan sekalian, jadi besok kita tinggal berangkat.”


“Tidak ada.”


“Ayo tidur. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat.” Andreas merebahkan tubuhnya di sisi ranjang.


“Iya.” Naura beranjak menuju tempat tidur. Dia menyibak selimut kemudian merebahkan tubuhnya di samping Andreas. Kemudian dia memejamkan mata. Namun sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat dia kembali membuka mata karena terkejut. Dia menoleh melihat dua guling yang biasa digunakan sebagai pembatas hilang entah kemana.


“Tidak apa hanya seperti ini tidak akan lebih jika kau hanya diam saja.” Naura menghirup dalam-dalam oksigen di sekelilingnya. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang. Dan dia berdoa semoga Andreas tidak dapat merasakan itu. Cukup lama Naura terjaga hingga perlahan dia dapat memejamkan kedua matanya. Menyusul Andreas yang sudah sejak tadi menyelami alam mimpi.


***


Beberapa jam melewati jalur tol yaitu Tol Jakarta Merak-Serang timur-Serang-Pandeglang-Labuan-Pantai Tanjung Lesung. Andreas dan Naura kini tiba di sebuah pantai yang letaknya di ujung barat kabupaten Banten.


Pantai satu ini memiliki keistimewaan sendiri. Pantai ini menyuguhkan sebuah keindahan alam eksotis melalui salah satu pemandangan pantainya. Pasir pantai yang indah dan kita dapat melihat matahari tenggelam dari sudut yang berbeda. Tidak kalah dengan pantai-pantai yang ada di pulau Bali.


Pantai ini dibuka selama 24 jam pun dengan pelayanannya. Salah satu fasilitasnya kita bisa melakukan camping di tepi pantai.


“Kak kita sudah sampai.” Tanya Naura yang baru saja membuka mata karena sewaktu berangkat langit masih terlihat gelap.

__ADS_1


“Belum. Sebentar lagi.” Naura memandang keluar jendela. Langit sudah cerah dengan awan-awan putih yang mengiringinya. Terlihat disepanjang jalan hamparan pantai berwarna biru pun mengiringi perjalanan mereka.


“Indah sekali.”


“Kau menyukainya.”


“Aku dari dulu sangat menyukai pantai. Andreas hanya tersenyum menanggapi ucapan Naura.


“Apa setelah ini kita akan jalan-jalan ke pantai?” tanya Naura.


Andreas yang fokus mengemudi melihat jam di pergelangan tangan miliknya. Membaca jarum jam yang menunjuk ke arah 9 jarum pendek dan jarum panjang diangka 15 yang artinya sekarang pukul 09.15.


“Memangnya kau tidak lapar?” terdengar suara perut dari keduanya saat suasana sesaat hening. Naura dan Andreas saling lempar senyum saat mendengar bunyi perut mereka.


Naura memegang perutnya yang terasa lapar. Saat berangkat mereka memang tidak sarapan. Sehingga wajar kalo cacing-cacing di dalam perut mereka meronta untuk minta makan.


“Ini penginapan kita?” Naura mengedarkan pandangan ke setiap sudut tempat yang baru saja dia jejaki. Senyum tidak menyurut di wajah Naura. Dia membuka gorden yang menghalangi cahaya untuk masuk ke dalam kamar. Membuka pintu Balkon kemudian berdiri disana memandang lautan luas dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.


“Kau suka?” pertanyaan dilayangkan oleh Andreas sesaat setelah meletakkan koper ke dalam kamar. Perjalanan yang panjang cukup membuat dirinya lelah. Dia sengaja tidak membawa supir karena ingin berlibur berdua saja dengan Naura.


Lelaki itu mendaratkan tubuhnya diatas Kasur. Meregangkan otot-ototnya karena lelah mengemudi.


“Tentu saja aku menyukainya.” Naura merentangkan kedua tangannya menikmati setiap hembusan angin dan keindahan di sekitar yang dipenuhi dengan pepohonan nan hijau dan asri. Bahkan wanita itu menegakkan kepala menghirup dalam-dalam udara segar yang dia rasakan.


Tanpa dia sadari seseorang memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepala di bahunya. Membuat tubuhnya sedikit meremang karena hembusan nafas dari lelaki tersebut. Yang menyapu sebagian lehernya.


“Kak…” lirih Naura.


“Sebentar saja Naura, aku lelah.” Naura pun pasrah hingga beberapa saat kemudian Andreas membalik tubuh istrinya. Pandangan matanya begitu mendamba terlebih berpusat pada bibir ranum milik Naura yang selalu dia curi setiap malam.

__ADS_1


“Naura.” Suara Andreas terdengar parau. Rasanya dia sudah tidak tahan. Dan…


__ADS_2