
Naura masih terlihat syok setelah kepergian Celine dan Andreas. Dia masih diam membeku. Berdiri di tempat yang sama. Pikirannya masih berusaha menolak bahwa apa yang baru dia dengar hanyalah sebuah mimpi.
“Tidak, aku pasti sedang bermimpi.” Ia pun mencubit sendiri lengannya dengan begitu keras.
“Aw sakit.” rintihnya.
“Ini bukan mimpi ini nyata.” Tiba-tiba tubuh Naura terhuyung ke belakang. Rasa pusing tiba-tiba mendera. Tubuhnya melemas hingga luruh ke lantai. Tangisnya pun langsung pecah. Naura menutup wajah dengan kedua tangannya. Kemudian dia menangis mendengar suatu kenyataan yang menghancurkan hatinya.
*Rumah sakit*
“Bagaimana keadaan bayinya dok?” tanya Andreas setelah dokter memeriksa keadaan Celine.
“Semua baik-baik saja tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Andreas menghembuskan nafasnya dengan lega. Dokter itu tersenyum kemudian meresepkan vitamin untuk ibu hamil.
Setelah menebus obat Andreas mengantar Celine pulang. Keduanya kini sudah berada di dalam mobil menuju apartemen Celine.
“Ini sudah satu minggu Andreas.” Ucap Celine memecah keheningan diantara mereka.
Andreas masih diam. Dia tengah fokus mengemudi agar cepat sampai. Celine merasa kesal karena lelaki itu tidak merespon ucapannya. Wanita itu ingin menagih kepastian. Tidak ingin lebih lama menunggu lagi.
“Aku akan tetap bertanggung jawab terhadap anak itu. Tapi tidak dengan pernikahan. Karena selamanya aku tidak akan menceraikan Naura.”
“Apa maksudmu?” Celine merasa tidak terima dengan keputusan Andreas.
“Kau lupa dengan apa yang kau lakukan. Bukankah kau yang menjebakku dengan obat perangsang. Dan kau yang menginginkan untuk aku sentuh. Jadi jika kau hamil itu bukan salahku.”
Celine sejenak terdiam. Apa yang di ucapkan lelaki itu membuat Celine merasa tersudut. Walaupun itu benar Andreas tetap harus menikahinya.
“Aku bersedia menjadi istri keduamu.”
“Kau jangan gila Celine.” Nada Andreas sedikit meninggi. Emosinya terasa tersulut saat wanita itu terus mendesakknya.
__ADS_1
Naura pasti juga tidak akan mau dimadu. Wanita mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain. Celine memegang lengan Andreas. Tatapan matanya penuh permohonan. Dia harus membuat Andreas iba kepadanya.
Dan benar saja lelaki itu kembali bimbang. Antara meninggalkan Celine atau tidak. Dia masih merasa bingung dengan bayi yang dikandung Celine. Anak itu tidak bersalah. Jika dia tidak menikahi Celine maka bayi itu tidak akan memiliki status saat terlahir nanti. Jika hanya memberi nafkah uang saja rasanya itu tidak adil bagi anak mereka.
Celine menarik salah satu sudut bibirnya saat melihat wajah bimbang Andreas. Dia akan terus memaksa Andreas untuk tetap menikahinya.
**
Naura berdiri di sebuah wastafel di salah satu toilet rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat. Dia baru saja menemui dokter. Ya seminggu yang lalu wanita itu memeriksakan kesehatannya. Sebab selama haid wanita itu selalu mengeluh sakit yang luar biasa.
Air mata Naura yang sedari tadi dia bendung akhirnya meledak. Tangisnya pun kembali pecah. Dunianya seakan luluh lantak. Tangan kanannya masih memegang selembar kertas putih dengan sebuah logo rumah sakit yang cukup ternama. Sejenak dia memejamkan mata. Membiarkan kembali butiran bening jatuh membasahi kedua pipinya.
Setelah puas menangis dia memasukkan lembaran kertas itu ke dalam tas. Kemudian memutar kran wastafel. Membiarkan kucuran air memenuhi kedua telapak tangannya yang dia satukan. Kemudian air itu dia sapukan ke wajahnya yang sudah terlihat sembab. Setelah itu mengambil beberapa lembar tissue untuk mengeringkan wajahnya.
Naura kembali memoles wajahnya dengan make up. Menyamarkan wajahnya agar tidak terlihat pucat dan sembab. Baru setelah itu dia pergi meninggalkan toilet tersebut menuju perusahaan.
“Kau harus tetap melanjutkan hidupmu Naura.”
**
Setiba di ruangannya Naura menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia menatap langit-langit di ruangan tersebut. Dan tanpa terasa kedua sudut matanya kembali mengeluarkan butiran bening. Cukup lama dia terdiam dan memikirkan sesuatu. Hingga memutuskan untuk bangkit dan keluar.
Langkah kaki Naura menuntunnya untuk masuk ke ruangan papanya. Seulas senyum dia berikan setelah pintu berhasil dia buka dan papanya sedang duduk di kursi miliknya. Papa Naura membalas senyuman putrinya.
“Apa papa sibuk?”
“Tidak..”
Naura melangkah mendekat. Mendaratkan tubuhnya untuk duduk di kursi depan meja kerja papanya.
“Ada apa kau kemari sayang?” tanya papa Naura.
__ADS_1
“Ehm…Naura ingin minta pendapat papa.” ucap wanita itu dengan sedikit keraguan.
Papa Naura membuka kaca mata tebal yang membalut kedua matanya. Meletakkannya di atas tumpukan berkas. Kemudian lelaki paruh baya itu menatap putrinya lekat-lekat. Sangat jarang sekali Naura akan datang kepadanya jika itu bukan suatu hal yang sangat penting.
“Apa kau ada masalah nak?”
Naura sejenak menghirup udara kemudian membuangnya perlahan. “Pa, aku ingin bercerai dengan Andreeas.”
Papa Naura sedikit terkejut akan ucapan putrinya. Dia bangkit kemudian menghampiri putrinya. Membelai lembut rambut putri yang sangat dia cintai. “Kenapa, apa ada masalah dengan pernikahan kalian?”
Naura menggelengkan kepala dengan cepat. Wanita itu menceritakan kondisi yang dia alami saat ini. Namun tidak dengan kehamilan Celine. Dia tidak ingin Andreas terlihat buruk di mata keluarganya. Sekecewa apapun dia dengan Andreas lelaki itu tetaplah suami yang dia cintai dan harus dia jaga kehormatannya.
Papa Naura memeluk putrinya. Dia pun ikut sedih dengan apa yang menimpa putrinya. Mamanya juga dulu mengalami hal sulit seperti ini. Namun dulu mereka lebih memilih saling jujur dan menghadapi cobaan bersama. Karena dulu hingga saat ini cinta diantara kedua orang tua Naura tidak pernah berkurang sedikit pun. Dan sekarang hal yang sama terjadi pada putrinya. Dan putrinya memilih untuk berpisah. Papa mengerti mengingat mereka menikah karena perjodohan. Namun dia akan tetap mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk putrinya.
Naura menangis dalam pelukan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya ketika lahir di dunia. Mendapat belaian lembut dari papa membuat hati Naura sedikit lebih tenang.
“Apa tidak sebaiknya kau bicarakan masalah ini dengan Andreas. Dia berhak tahu akan kondisimu saat ini.” Saran papa masih dengan tubuh yang memeluk putrinya.
Naura menggeleng. Dia tidak ingin mempersulit pilihan Andreas. Terlebih ada wanita yang sedang mengandung buah hati suaminya. Sehingga itu dapat mengurangi rasa bersalahnya saat ingin berpisah dengan suaminya.
“Setelah berpisah dengan Andreas, Naura akan coba melakukan pengobatan di Singapura pa. Dan mungkin akan lama jadi biarkan Andreas bahagia dengan perempuan lain yang lebih dari Naura” tuturnya.
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Papa akan selalu mendukung apapun yang sudah menjadi pilihanmu.”
“Terima kasih pa.” papa mengangguk walaupun terasa berat.
“Tapi mama pa…” Naura sedikit mengkhawatirkan mamanya sebab mama Naura termasuk orang yang mudah panik dan sedih ketika mendengar kabar yang kurang menyenangkan.
“Mama biar papa nanti yang menjelaskan.”
Satu beban sudah berkurang di pundak Naura. Beruntung papanya mendukung apapun keputusannya. Walaupun ini berat tetapi dia harus melakukannya. Pergi ke pengadilan agama untuk mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya.
__ADS_1