Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 35


__ADS_3

Sementara Naura yang sedari tadi menunggu kepulangan Andreas sambil menonton televisi kini malah tertidur di atas sofa dengan sebelah tangan yang masih menggenggam benda pipih berwarna hitam. Berharap seseorang yang dia tunggu menghubungi dirinya. Namun sejak pergi hingga malam ini tidak ada satu pun pesan yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Bahkan tidak ada sebuah panggilan yang dia terima. Membuat Naura merasa gelisah. Berpikir hal yang tidak-tidak tentang kepergian Andreas dan Celine. Sedang apa mereka dan dimana mereka membuat hati dan pikiran Naura menebak-nebak hingga kalut.


Pletak


Bunyi ponsel yang terjatuh di lantai membangunkan tidur Naura. Dia mengubah posisi dari setengah telentang menjadi duduk. Dia mengusap wajah sambil menguap. Menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Naura mengambil ponsel miliknya kemudian berjalan menuju jendela. Membuka gorden sedikit berharap mobil milik suaminya sudah terparkir di depan rumah. Namun sayang mobil Andreas tidak ada dan sudah dipastikan sang pemilik pun pasti tidak ada di rumah juga.


Gadis yang sudah menjadi wanita itu berjalan gontai menuju dapur. Sejak tadi siang dia belum mengisi perut. Meskipun tidak berselera untuk makan Naura tetap harus makan untuk menjaga kesehatan. Dia tidak ingin sakit dan merepotkan siapa pun terutama Andreas.


“Kenapa perasaanku tidak enak ya? Sebenarnya apa yang terjadi!” gumam Naura sambil memegang dadanya yang terasa sedikit sesak.


Sementara Andreas lelaki itu tidak bisa menyimpan masalah ini sendirian. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah berjam-jam dia berdiam diri di dalam mobil memikirkan masalah yang sedang dia hadapi. Perasaannya bingung bahkan kepalanya hampir saja pecah memikirkan hal ini. Terlebih disaat dia ingin mengakhiri hubungan dengan Celine dan memulai hubungan baru dengan Naura.


“Aku harus ke apartemen Zean” Andreas kemudian menyalakan mesin mobil. Melajukan kendaraan menuju tempat asisten pribadinya.


“Tumben sekali kau datang kemari." Zean menutup pintu apartemen sesaat setelah Andreas masuk dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.


“Sepertinya kau ada masalah.” Zean memberikan minuman kaleng yang baru saja dia ambil di dalam lemari pendingin. Andreas membuka dan meminum minuman itu hingga habis tidak tersisa.


Zean duduk di samping bosnya yang terlihat sangat kacau. Andreas terdiam tidak menyahuti perkataan Zean. Dia lebih memilih melihat langit-langit apartemen Zean.Kemudian memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing.


“Andreas kau baik-baik saja.” Ucap Zean saat di luar jam kantor mereka memang memanggil nama saja. Karena keduanya adalah teman saat kuliah. Dan menjadi rekan kerja saat sudah lulus.


“Rasanya kepalaku mau pecah.”


“Kenapa? Apa ini berhubungan dengan Celine?” Andreas menegakkan duduknya pun dengan Zean yang siap untuk menjadi pendengar setia.


“Kau benar.”


“Apa yang terjadi?”

__ADS_1


“Diah amil.”


“What??” Bagaimana bisa? Maksudku bukankah kau berprinsip tidak akan melakukan itu sebelum menikah.”


Andreas menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian menceritakan bagaimana Celine menjebaknya dengan obat perangsang hingga penyatuan tubuh diantara keduanya tidak dapat terhindarkan.


“Kau menumpahkannya di dalam?” Andreas mengangguk.


“Kau itu bodoh sekali.”


“Sudahlah jangan membahas hal yang sudah terjadi. Sekarang apa yang harus aku lakukan?”


Zean mengerutkan dahi hingga kedua alis tebal milik lelaki itu hampir menyatu. Merasa aneh kenapa Andreas bisa bingung seperti ini.


“Kau itu aneh.”


“Apa maksudmu?” Andreas mengalihkan pandangan ke arah Zean enatap tajam lelaki di sampingnya.


“Bukankah dulu kau sangat ingin menikahi Celine. Dan sekarang adalah kesempatan bagus untuk itu. Kau bilang dia sedang mengandung anakmu. Jadi bukankah itu lebih memudahkan kalian untuk menikah?”


Zean menarik kedua sudut bibirnya. Seolah menangkap sesuatu dari ucapan Andreas. “Mudah saja kalian tinggal bercerai saja.”


“Jaga bicaramu.” Zean kembali menarik kedua sudut bibirnya.


“Kenapa kau marah? Bukankah pernikahan kalian hanya sebuah kontrak. Dan kaulah yang membuat kesepakatan itu.”


“Aku tidak akan menceraikan Naura.”


“Lalu kau akan menikahi keduanya. Dengan menyakiti salah satu diantara keduanya?” ucapan Zean membuat Andreas semakin pusing dengan pertanyaan-pertanyaaan yang terkesan selalu memojokkan dirinya.


“Untuk itulah aku kemari. Aku sudah mengungkapkan perasaanku pada Naura dan berjanji akan memulai hubungan kami dari awal. Terlebih kami sudah melakukan hubungan suami istri sebelum aku tahu kalau Celine hamil. Tadinya aku berniat untuk memutus hubungan dengan Celine. Tetapi wanita itu malah memberi kabar bahwa dirinya sedang mengandung anakku.”

__ADS_1


“Jadi lebih nikmat yang mana?” tanya Zean menaik-naikkan kedua alisnya.


Lelaki itu langsung mendapat lemparan bantal dari Andreas. Bisa-bisanya Zean bercanda disaat dia sedang sangat serius. Beruntung bantal itu bisa dia tangkap hingga tidak mengenai wajah tampannya.


“Aish aku akan memberikan solusi jika kau menjawabnya dengan jujur.” Andreas memicingkan mata seolah ragu untuk menceritakan itu.


“Mau dibantu tidak?”


Andreas menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar. Dia menceritakan bagaimana saat berhubungan dengan Celine yang menurutnya seperti sudah berpengalaman. Dan dia juga menceritakan tidak ada noda merah diatas sprei setelah mereka selesai bercinta. Berbeda dengan Naura, saat dengan istrinya Andreas merasa sangat sulit sekali untuk memasuki milik Naura yang masih sempit dan tersegel. Dan rasanya sungguh nikmat sekali. Bahkan Andreas merasa bangga menceritakan pada Zean saat dia menjadi yang pertama untuk Naura.


Saat membicarakan tentang Naura, Andreas teringat jika dia belum memberi kabar istrinya sedari siang. Dia merogoh ponsel yang dia simpan sebelumnya di dalam saku. Layar ponsel begitu gelap. Andreas berusaha menekan tombol untuk membuka ponsel. Namun sayang ternyata baterai ponsel miliknya telah habis. Dia lupa mengisi daya tadi.


“Kenapa?” tanya Zean yang melihat kepanikan di wajah Andreas.


“Aku lupa tidak memberi kabar pada Naura saat pergi bersama Celine tadi.”


“Lalu kau juga lupa tidak memberitahunya saat pergi?” Andreas menggeleng pelan.


“Dia sedang tidur saat Celine datang. Dan dia juga terlihat lelah jadi aku tidak tega untuk membangunkannya.”


“Apa kau yang membuatnya kelelahan?” tebak Zean.


Andreas memilih diam tidak berniat untuk menanggapi ucapan Zean.


“Sudahlah kau jangan terus meledekku. Sekarang solusi terbaik apa yang akan kau berikan.”


“Kau yakin itu anakmu?”


“Apa maksudmu?” Andreas belum berhasil mencerna ucapan Zean.


Dia kembali memasang indera pendengaran dengan baik untuk memahami setiap kata yang keluar dari mulut Zean. Bahkan Andreas sedikit bergeser mengubah posisinya untuk menghadap Zean.

__ADS_1


“Kau tidak berpikir dia melakukan itu dengan laki-laki lain?”


“Lelaki lain…” lirih Andreas. Zean merasa sedikit kesal dengan Andreas. Kenapa mendadak lelaki itu berubah menjadi bodoh. Tidak dapat mencerna apa yang dia katakan. Percuma IQ diatas rata-rata kalau hal ini aja tidak dia pahami. Saat melakukan itu dengan Celine bukankah wanita itu sudah tidak bermahkota. Bukankah artinya ada lelaki lain yang juga pernah berhubungan dengan Celine terlebih dahulu sebelum Andreas. Dan mungkin saja itu bukan anak Andreas walaupun Zean tidak yakin seratus persen.


__ADS_2