
“Bagaimana dok?” tanya Naura setelah dirinya melakukan serangkaian pemeriksaan.
“Sementara ini hasilnya bagus. Dia tidak berkembang dan tidak menyumbat saluran tuba.”
Hari ini Naura melakukan pemeriksaan dengan metode HSG atau histerosalpingografi. Pemeriksaan ini membantu dokter untuk mengetahui kondisi saluran tuba apakah ada sumbatan atau tidak. Pemeriksaan ini menggunakan sinar X yang bertujuan untuk menguraikan bentuk internal rahim.
Pada pemeriksaan ini sebuah tabung tipis akan dimasukkan melalui ****** dan leher rahim kemudian suatu zat yang dikenal sebagai bahan kontras di suntikkan ke dalam rahim. Selama pemeriksaaan HSG dilakukan sinar X akan merekam gambar rongga rahim dan saluran tuba saat diisi dengan pewarna khusus.
Pemeriksaan HSG biasanya dilakukan kurang lebih 10-14 hari setelah mentruasi. Jadi disarankan lebih dulu membuat janji dengan sebuah rumah sakit jika ingin melakukan pemeriksaan ini. (Semoga para pembaca yang lagi berjuang untuk garis dua semoga dipermudah dan diperlancar jalannya ya 😊 Semangat).
“Mungkin setelah ini anda akan merasakan nyeri dari ringan sampai berat. Itu tergantung kondisi tubuh anda. Saya akan meresepkan obat anti nyeri untuk mengurangi rasa sakit karena efek samping HSG.”
Memang benar Naura merasakan perut bawahnya sedikit kram sejak dokter memasukkan larutan pewarna ke dalam rahim miliknya.
“Apakah dengan ini saya masih ada kemungkinan untuk bisa hamil secara alami dok?”
“Kemungkinan untuk hamil lebih besar dibanding sebelumnya. Anda lanjutkan diet sehatnya. Agar kista-kista kecil itu tidak berkembang.”
“Apakah itu bisa disembuhkan dok?”
“Itu hanya akan hilang atau sembuh jika anda hamil atau anda memasuki usia menopause. Sambil menunggu anugerah Tuhan itu hadir kita hanya bisa berusaha bagaimana agar itu tidak berkembang dan menyumbat saluran yang lain. Maka dari itu tetap konsumsi makanan yang bergizi. Hindari makanan olahan atau cepat saji, makanan tinggi lemak jenuh seperti daging merah,produk olahan susu seperti mentega ,keju dan es krim, kafein, alkohol dan merokok.”
“Baik dok saya akan mengikuti apapun saran dokter yang terbaik untuk saya.”
Setelah itu Naura keluar dari ruangan dokter menuju lift. Disaat yang bersamaan Andreas beserta papa yang mendorong kursi roda Andreas dan mama Andreas yang berjalan di samping papa Andreas bersiap menaiki lift untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter disana.
Pintu lift terbuka, Andreas beserta kedua orang tuanya bersiap untuk masuk. Bersamaan dengan itu pintu lift Naura juga terbuka. Karena lift penuh Naura memilih bersabar dan keluar paling terakhir. Tepat sebelum pintu lift Andreas tertutup rapat.
__ADS_1
Saat keluar Naura tidak sengaja menabrak seorang petugas kebersihan yang kebetulan berada tepat di depan lift yang Andreas naiki. Sehingga menyita perhatian orang yang berada di dalam lift.
Andreas melebarkan pupil kedua matanya saat melihat sosok wanita yang dia rindukan. Dia ingin sekali mengejar Naura namun karena kakinya tidak dapat digerakkan membuat dia merasa kesal dan memukul-mukul kakinya dengan begitu keras.
“Andreas kau kenapa?” tanya papa Andreas yang sedari tadi fokus dengan ponsel miliknya. Memantau pekerjaan dari jauh. Pun dengan mama Andreas yang sibuk membatalkan semua acara dengan ibu-ibu sosialitanya. Sehingga kedua orang tua Andreas tidak melihat keberadaan Naura yang ada di depan mata mereka.
“Naura pa, tadi Andreas melihat Naura dan ingin sekali mengejarnya. Tapi kaki Andreas pa. Kaki Andreas tidak bisa digerakkan. Kaki sialan ini kenapa masih tidak mau bergerak pa?” ucap Andreas masih dengan memukul-mukul kaki dengan kedua tangannya.
“Tenanglah, papa akan mencarinya di semua sudut rumah sakit. Dan membawanya untukmu.”
**
Merasakan tidak nyaman di tubuhnya Naura bergegas kembali ke hotel. Dia meminta Nabila untuk datang ke Singapura dengan penerbangan tercepat. Naura tahu pemeriksaan ini memiliki efek samping yang membuat tubuhnya merasa tidak nyaman. Dan karena di Singapura Naura tidak memiliki siapa-siapa dia pun meminta Nabila untuk menjaganya.
Papa Andreas mencari sosok menantunya dengan menelusuri seluruh isi rumah sakit disana. Namun hasilnya nihil. Lelaki paruh baya itu beserta orang suruhannya tidak menemukan keberadaan Naura disana.
“Kaki sialan.” teriak Andreas memukul-mukul kembali kakinya dengan keras berharap kaki yang tidak merasakan apapun itu dapat kembali merasakan sakit saat dia memukulnya dengan sekuat tenaga.
“Andreas hentikan.” Mama Andreas merasa kasihan dengan putranya.
Mama Andreas berjalan meninggalkan putra dan suaminya. Wanita itu berniat pergi ke resepsionis untuk bertanya apakah ada pasien bernama Naura di rumah sakit ini.
“Mama mau kemana?” tanya papa Andreas.
“Mama akan bertanya apakah ada pasien bernama Naura disini? Jika benar maka tidak salah lagi yang dilihat Andreas pasti Naura.”
Benar juga kata mamanya, tidak ingin berlama-lama Andreas pun mendorong kursi rodanya sendiri. Membuat papanya terkejut dan kemudian mengejar Andreas agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
“Cepat sedikit pa!!” pinta Andreas.
“Iya, kau ini bawel sekali. Ini rumah sakit bukan jalanan sirkuit yang tidak banyak orang. Kamu mau papa menabrak orang disini karena ketidaksabaranmu.”
“Permisi.” Ucap mama Andreas.
“Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis dengan ramah dan sopan.
“Apakah disini ada pasien bernama Naura Larasati?”
“Anda siapanya?”
“Kami keluarganya, saya mamanya itu papanya dan yang di kursi roda itu suaminya.” Jelas mama Andreas sambil memperkenalkan para lelaki yang berada di belakang mereka.
“Tunggu sebentar Nyonya saya akan memeriksanya terlebih dahulu.”
Resepsionis itu mencari data nama yang disebutkan oleh mama Andreas di computer yang ada di hadapannya.
“Nona Naura Larasati memang pasien disini tetapi dia hanya rawat jalan saja Nyonya.”
“Kapan dia akan kembali lagi kesini ?” pertanyaan itu keluar dari mulut Andreas yang merasa bahagia sudah menemukan keberadaan istrinya.
“Menurut data saya tiga bulan lagi dia akan kembali kesini tuan.”
“Baiklah, terima kasih.”
Setelah itu ketiganya keluar dari rumah sakit menuju hotel yang sebelumnya sudah dipesan oleh sekretaris papa Andreas.
__ADS_1
“Tiga bulan lagi, aku harus berusaha keras agar kakiku ini dapat sembuh dalam waktu kurang dari tiga bulan.” Itulah tekat Andreas setelah mengetahui Naura akan kembali lagi ke rumah sakit tiga bulan mendatang.