Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 44


__ADS_3

Bandara Soekarno Hatta..


Naura menarik kopernya dengan gontai. Sering kali dia menoleh ke arah belakang. Bukan berharap seseorang untuk datang dan mencegahnya pergi. Namun sungguh hatinya merasa berat meninggalkan semuanya.


Namun lagi-lagi dia tidak bisa egois. Dia harus memikirkan kebahagiaan keluarga Andreas maupun Andreas sendiri. Dokter sudah memvonis jika dia akan sangat sulit untuk memiliki anak. Mungkin 3x lebih sulit dari wanita tidak normal lainnya. Dan itu yang membuat Naura harus meninggalkan Andreas.


Silau matahari yang menelusup di balik celah gorden mengusik tidur Andreas. Dengan mata masih terpejam dia meraba-raba sisi ranjang. Mencari sosok yang semalam dia peluk. Sisi ranjang terasa datar dan juga dingin. Itu artinya Naura sudah lama bangun.


Andreas bangkit dari tidurnya setelah itu dia mencari keberadaan istrinya di setiap sudut kamar. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.


“Naura.” panggil Andreas saat mendorong pintu kamar mandi. Hening, tidak ada tanda-tanda orang di dalam tempat yang sering lembab tersebut.


Andreas kemudian berlari keluar amar menuruni satu per satu anak tangga. Dia melihat bibi yang sedang bekerja. Menghampiri wanita paruh baya itu untuk menanyakan keberadaan istrinya.


“Bi, lihat istriku tidak?” Bibi menghentikan aktifitas menyapunya. Menoleh ke arah majikannya.

__ADS_1


“Tadi pas bibi datang non Naura pergi dengan sebuah koper Tuan. Dan dia juga menitipkan dua surat untuk Tuan.” Bibi kemudian mengambil surat yang tadi Naura sempat titipkan kepadanya. Dan menyerahkan kedua amplop putih tersebut kepada Andreas.


Dengan cepat Andreas membuka surat tersebut. Salah satu surat itu berisi surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Naura. Wajah Andreas merah menahan amarah. Dia terlihat kesal dengan keputusan yang diambil sepihak oleh Naura.


“Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu.” Kilat kemarahan membuat Andreas merobek kertas tersebut menjadi berkeping-keping. Dan membuangnya asal hingga berserakan di atas lantai yang baru saja bibi sapu.


Satu amplop lagi Andreas buka. Tinta hitam berjejer rapi disana. Andreas membaca kata demi kata yang Naura tulis beberapa jam yang lalu. Rasa marah yang menyelimuti hatinya perlahan memudar setelah membaca tulisan tersebut.


Kak Andreas,,,


Aku ingin kakak bahagia. Aku tidak keberatan kakak kembali dengan kak Celine. Aku sudah bahagia bisa hidup bersama dengan kakak walaupun hanya sebentar. Kakak adalah cinta pertamaku. Namun aku harus pergi kak, kekuranganku membuatku tidak pantas bersanding dengan kakak. Aku bahagia kakak bisa memiliki anak walaupun bukan dari rahimku. Mungkin selamanya aku juga belum tentu bisa merasakan rasanya hamil. Karena itu dengan ikhlas aku melepaskan kakak. Kejarlah kebahagiaan kakak.


Aku mencintaimu kak.


Naura

__ADS_1


Setelah membaca surat dari Naura lelaki itu bergegas mengambil kunci mobil dan melajukan kendaraannya menuju bandara. Andreas yakin Naura pergi dengan sebuah pesawat. Beruntung jalanan masih sepi hingga tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk sampai di sana.


Masuk ke dalam dengan berlari Andreas menyusuri seluruh isi bandara. Dia tidak tahu Naura mengambil penerbangan domestik atau internasional. Berulang kali Andreas menghubungi ponsel Naura namun selalu operator yang menjawab. Beberapa kali menabrak orang tidak menyurutkan semangat Andreas untuk mencari keberadaan istrinya.


“Naura kau dimana?” teriak Andreas di dalam hati. Sudah satu jam lebih dia mengitari tempat yang luas tersebut dengan beralaskan sandal jepit, celana kolor dan kaos polos yang melekat di tubuhnya.


Andreas tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Yang dia pedulikan adalah segera menemukan Naura. Namun rasanya pencarian Andreas sia-sia sebab 10 menit yang lalu wanita itu sudah mendarat di bandara Internasional Changi, Singapura.


Andreas sudah berada di dalam mobilnya. Sesaat dia memejamkan mata menyesali kenapa tidak semalam saja dia memberitahu kebenaran bahwa anak yang di kandung Celine bukanlah anaknya. Andreas juga tidak masalah dengan kekurangan Naura. Dia mencintai istrinya dan dia pasti akan mengupayakan yang terbaik untuk wanita yang dia cintai. Walaupun seumur hidup mereka tidak dikaruniai anak Andreas merasa tidak keberatan. Tapi kenapa Naura malah mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya lebih dulu dengan dirinya.


Saat membuka mata Andreas seperti melihat siluet tubuh seorang wanita yang mirip dengan Naura. Tanpa berpikir panjang Andreas membuka pintu mobil dan berlari kearah wanita itu. Tanpa dia sadari sebuah mobil hitam melaju kencang dari arah berlawanan. Andreas terus memperhatikan sosok yang perawakannya mirip dengan Naura. Dia tidak ingin kehilangan jejak. Dia terus berlari demi untuk mengejar wanita itu. Namun tiba-tiba ….


Ciiiiittttt


Brakkkkkk

__ADS_1


__ADS_2