Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 45


__ADS_3

“Nauraaaa.” Teriak Andreas begitu dia sadar. Nafasnya terengah-engah. Dalam mimpinya Naura pergi meninggalkan dirinya. Dia melihat sekeliling, lelaki itu ingat dia ada di bandara tadi tapi kenapa sekarang berada di sebuah ruangan yang hampir serba putih dengan selang infus yang menancap di sebelah tangan kanannya.


Kedua orang tua Andreas menghampiri putranya saat mendengar teriakan Andreas yang begitu kencang.


“Andreas, kau baik-baik saja nak?” tanya mama Andreas.


“Ma, Dimana Naura?” Kedua orang tua Andreas saling pandang. Sejujurnya dia belum tahu permasalahan apa yang sedang mereka hadapi. Terlebih nomer ponsel Naura juga tidak bisa dihubungi. Sejak Andreas dibawa ke rumah sakit kedua orang tua Andreas berusaha menghubungi Naura. Namun ponsel menantunya itu selalu tidak aktif.


“Andreas sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kalian?” papa Andreas sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Sejenak Andreas terdiam kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya, Celine dan Naura. Tidak ada yang Andreas tutup-tutupi dari kedua orang tuanya. Semua dia ceritakan dari awal saat Celine menjebak dirinya hingga kepergian Naura yang mengira bahwa itu adalah anak dari dirinya.


Kedua orang tua Andreas sudah merasa jika Celine bukanlah wanita baik-baik. Karena itulah mama Andreas tidak pernah merestui hubungan mereka.


“Kau yakin itu bukan anakmu?” tanya papa Andreas.


“Yakin pa.” jawab Andreas dengan penuh keyakinan dan percaya diri bahwa anak itu bukanlah anaknya. Andreas juga menceritakan saat dirinya memergoki Celine dan Stevan di dalam kamar sebuah hotel.


“Baiklah papa percaya padamu. Lalu apakah kedua mertuamu tahu tentang masalah ini?” Andreas terdiam dia juga tidak tahu apakah mertuanya sudah mengetahui masalah ini atau belum. Bisa jadi Naura sudah cerita dan bisa juga wanita itu belum bercerita dengan orang tuanya.


“Andreas tidak tahu pa.”


“Biar nanti papa yang bicara dengan orang tua Naura.”


Mendengar nama istrinya disebut Andreas kembali teringat jika dia tadi sedang mengejar Naura yang hendak pergi. Tanpa dia sadari yang dia kejar bukanlah istrinya melainkan orang lain yang dari arah belakang tubuhnya mirip dengan Naura.


“Naura, aku harus mencari Naura pa. Aku tidak ingin dia meninggalkanku.” Andreas menyibak selimut yang menutupi kedua kakinya. Dia hendak turun. Namun ada yang aneh. Kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Andreas mencobanya kembali namun tidak ada reaksi yang terjadi. Kakinya tetap tidak bisa dia gerakkan.


“Ma.” Andreas menatap lekat mamanya.

__ADS_1


“Iya sayang.” Inilah yang ditakutkan mama Andreas sejak tadi. Takut putranya syok dengan apa yang menimpa putranya.


“Ada apa dengan kaki Andreas,kenapa tidak bisa digerakkan?” Mama Andreas menunduk. Wajahnya terlihat sedih. Sungguh dia tidak kuasa memberitahu kebenarannya.


Melihat mamanya yang terdiam pandangan Andreas beralih ke papanya.


“Pa..” Lelaki paruh baya itu menghembuskan nafasnya dengan pelan. Mau tidak mau dia harus menceritakan apa yang sedang dialami oleh putranya.


“Kaki kamu lumpuh sementara. Dokter bilang itu bisa disembuhkan asal kamu rajin minum obat dan terapi. Hal itu terjadi akibat kecelakaan yang baru saja menimpamu tadi.”


“Tidak !!! Andreas tidak mau lumpuh. Dokter pasti salah. Ma panggil dokter lain ma. Dokter itu pasti salah. Andreas baik-baik saja. Andreas tidak mau lumpuh ma.” Mama Andreas memeluk putranya. Sungguh dia tidak tega melihat anak sulungnya duduk di kursi roda dalam waktu yang tidak tentu.


“Tenanglah sayang. Mama dan papa akan mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhanmu.” Ucap mama Andreas yang berusaha menenangkan hati putranya dengan mengelus lembut punggung Andreas. Berusaha memberikan ketenangan untuk putranya.


“Istirahatlah, papa akan menemui mertuamu untuk mencari tahu dimana keberadaan istrimu sekarang. Siapa tahu mereka mengetahui dimana putri mereka.” Papa Andreas berjalan ke arah pintu keluar. Saat pintu mulai terbuka tiba-tiba Andreas memanggil papanya.


“Kau yakin?” tanya papa Andreas sambil menepuk pelan pundak anak yang dia banggakan. Andreas pun mengangguk menjawab keraguan papanya.


**


Rumah sakit Internasional Singapura


Setelah beristirahat sebentar Naura memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit. Dia ingin berkonsultasi lebih awal. Lagipula dia tidak ingin berlama-lama di negeri orang.


Setelah tadi sempat mengantri kini namanya dipanggil. Naura pun berjalan dengan sedikit gugup. Naura masuk ke dalam ruangan yang hanya ada dokter dan asisten dokter yang membantu.


Setelah bercerita dan berkonsultasi atas apa yang menjadi gejala di dalam tubuhnya Dokter kemudian meminta Naura untuk berbaring. Melakukan pemeriksaaan dengan alat USG biasa dan USG tranvaginal.

__ADS_1


Dokter terus melihat hasil yang ditampilkan di layar. Memindah-mindah alat tranducer di atas perut Naura. Wanita itu sudah berkeringat dingin. Dia ingin tahu hasil pemeriksaan di sini dengan di Indonesia. Apakah sama atau berbeda.


“Anda mengalami Endometriosis.” Ucap dokter tersebut.


“Endometriosis??” ulang Naura.


“Ya, Endometriosis adalah kondisi ketika endometrium tumbuh di luar dinding Rahim. Dan pada kondisi anda ini endometrium tumbuh di indung telur atau ovarium. Sehingga anda akan menjadi sulit untuk hamil.”


“Lalu bagaimana pengobatannya dok?”


“Kita lakukan dulu terapi hormon.” Ucap dokter sambil menuliskan resep untuk Naura.


“Apa masih ada kemungkinan saya bisa hamil dok?” tanya Naura.


“Bisa, tapi kita lihat dulu perkembangannya nanti. Apa anda sudah menikah?”


“Sudah.”


“Lalu dimana suami anda?”


“Dia….”


Dokter tersenyum kemudian memberikan nasehat untuk Naura.


“Sebagai seorang pasangan kita harus saling terbuka. Jangan suka menyimpan masalah sendiri. Karena jika dipikul bersama maka semua masalah akan terasa ringan. Dan suami Anda juga berhak tau akan kondisi anda saat ini.” Naura hanya diam dia tidak tahu harus menanggapi apa mengenai pernyataan dokter tersebut.


Setelah menebus obat Naura kembali ke hotel. Dia menghidupkan ponselnya yang sejak pagi dia non aktifkan. Begitu menyala banyak sekali notifikasi yang masuk. Pun dengan panggilan yang tak terjawab lebih dari 100 kali.

__ADS_1


Tidak ada niat untuk menelepon balik atau membalas pesan tersebut Naura kembali menonaktifkan ponsel miliknya. Mengistirahatkan tubuhnya dengan berbagai masalah yang menumpuk di dalam pikiran.


__ADS_2