
“Sebentar saja Naura, aku lelah.” Naura pun pasrah hingga beberapa saat kemudian Andreas membalik tubuh istrinya. Pandangan matanya begitu mendamba terlebih berpusat pada bibir ranum milik Naura yang selalu dia curi setiap malam.
“Naura.” Suara Andreas terdengar parau. Rasanya dia sudah tidak tahan. Dan dengan perlahan tangan Andreas memegang dagu Naura menempelkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Naura terpejam dia tidak tahu harus berbuat apa. Jantungnya berdebar hatinya merasa senang. Namun otaknya selalu mengingatkan bahwa hubungan mereka hanya sebuah kontrak yang akan berakhir. Dia tidak boleh hanyut dalam suasana. Tapi sentuhan lembut bibir yang menyapu di bibirnya membuat tubuhnya tak kuasa untuk menolak.
Tidak mendapat perlawanan dari Naura membuat Andreas memperdalam ciuman mereka. Tanpa sadar Naura membalas tautan bibir tersebut. Keduanya saling menikmati pertukaran saliva yang saling memabukkan. Suara penyatuan bibir yang terdengar saling mencecap semakin menambah gairah di tubuh keduanya.Angin pantai pun tak dapat mendinginkan gairah yang sudah memanas.
“Naura.” Bisik lembut Andreas di daun telinga gadis itu.
Terpaan nafas Andreas membuat Naura meremang. Tubuhnya terpaku bibirnya kelu walau hanya ingin menjawab iya.
Kedua mata saling memandang dalam. Andreas membawa tubuh Naura ke dalam pelukannya. Gadis itu hanya diam menerima perlakuan Andreas. Sungguh Andreas tidak tahan untuk tidak mencium setiap tubuh Naura yang wanginya mulai membuat dirinya candu.
Dia menyibak rambut Naura yang panjang dan tergerai lurus. Rambut yang sempat menutupi lehernya. Perlahan Andreas mulai menciumi leher jenjang milik Naura hingga menimbulkan getaran yang luar biasa bagi Naura. Sebuah getaran aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Bahkan ini kali pertama seorang lelaki menyentuh bagian tubuhnya. Kecupan-kecupan lembut yang Andreas berikan membuat Naura tanpa sadar melenguh.
“Kak…”
Naura bahkan mengeratkan pelukan menikmati setiap sensasi yang diberikan oleh Andreas. Bahkan tanda merah sudah menghiasi leher putih Naura. Pelukan erat Naura membuat tangan Andreas mulai masuk ke dalam baju yang dipakai oleh Naura. Dia membuka pengait b*ra kemudian memainkan benda itu ditempatnya. Genggaman yang lembut ditangan membuat Andreas leluasa bermain walau tanpa harus membuka baju Naura.
Lagi-lagi tubuh Naura terasa terbakar oleh sesuatu yang begitu memanas. Dia tidak tau apa. Sungguh ini pertama kali dia rasakan. Rasa nikmat yang belum pernah dia dapatkan. Kelihaian tangan Andreas bermain di dalam baju Naura membuat gadis itu kembali melenguh memanggil nama suaminya.
“Kak Andreas…”
“Iya Naura, kau menikmatinya?” Naura mengangguk dengan mata terpejam. Andreas tersenyum puas walau sejujurnya dia ingin mengangkat baju Naura dan menikmati dua aset tersebut dengan mulutnya. Pasti akan sangat menyenangkan.
“Kak.” Naura menghentikan aksi tangan Andreas yang membuatnya tambah menginginkan sesuatu yang lebih.
“Kenapa?” Naura tidak menjawab dia menuntun Andreas untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian menarik gorden agar suasana di dalam kamar tidak terlihat dari luar. Andreas hanya diam mengikuti apa yang dilakukan oleh Naura.
Naura tiba-tiba membuka baju atasan memperlihatkan dua aset miliknya. Bahkan B*ra yang pengaitnya sudah terlepas ikut terbuang bersama dengan baju yang dia lepas tadi di atas lantai.
“Na-Naura.” Andreas sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan oleh gadis dihadapannya.
“Kak, aku ingin lebih.”
__ADS_1
“A-apa?”
“Aku ingin ini dihisap oleh mulut kakak.” tunjuk Naura pada salah satu aset yang menggantung disana.
Andreas menelan saliva berkali-kali melihat biji kacang yang masih berwarna merah muda yang menempel ditengah.
“Kau yakin?”
“Hanya having fun tidak sampai penyatuan tubuh.” ucapan Naura membuat Andreas memicingkan mata.
“Kau tahu itu?” Naura mengangguk.
“Tapi aku belum pernah melakukannya hanya mendengar saja dari teman-temanku.”
“Dan sekarang kau ingin melakukannya?” pertanyaan Andreas menyadarkan Naura betapa rendahnya dia saat ini. Meminta seorang lelaki untuk menyentuh bagian tubuhnya.
Naura melihat atasan yang tergeletak di lantai. Dia berniat untuk memakainya kembali. Namun Gerakan tangannya ditahan oleh tangan kekar yang langsung menarik tubuhnya hingga terbaring diatas tempat tidur. Tangannya pun langsung dikunci oleh Andreas di atas kepala.
“Aku mau memakai kembali bajuku.” lirihnya.
“Bukankah kita mau having fun untuk apa kau pakai lagi.”
“Aku pikir kakak tidak mau.”
“Dengan senang hati aku akan melakukannya.” Andreas mulai melancarkan aksinya. Menikmati dua aset yang begitu menggoda. Mulut dan lidah Andreas begitu pandai bermain-main disana. Membuat tubuh Naura menggelinjang. Sensasi apa ini yang begitu membuat tubuh dan pikirannya melayang-layang. Bahkan gadis itu beberapa kali memanggil nama suaminya.
“Kak Andreas..”
“Ya sayang jangan ditahan keluarkan lah.” Dan nyanyian dari bibir Naura membuat Andreas semakin bersemangat melakukan aksinya. Jarinya bahkan mulai masuk ke dalam celana milik Naura. Bermain disana hingga Naura mencapai kenikmatan yang belum pernah dia rasakan.
“Kak Andreas cukup aku mau pipis.” Mendengar itu Andreas mempercepat gerakan jarinya. Hingga napas panjang keluar dari mulut Naura.
“Kak Andreas aku lelah.” Lelaki itu tersenyum puas. Dia menarik jarinya yang terlihat lengket kemudian pergi ke dalam kamar mandi untuk bermain solo. Sungguh suara nyanyian Naura membuat kepalanya bertambah pusing.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu Andreas sudah selesai membersihkan diri. Dia tersenyum melihat Naura yang tertidur di atas ranjang. Kemudian menyelimuti tubuh Naura dengan sebuah selimut.
“Nanti malam kau harus membayar ini.” Andreas mengecup kening Naura sebelum akhirnya keluar kamar untuk mencari udara segar.
Matahari mulai condong ke barat. Cahayanya tidak sepanas tadi. Kilauan bias warna orange mulai menghiasi langit di sebelah barat. Naura yang tertidur mulai membuka mata. Suasana kamar terlihat sepi. Dia menyibak selimut.
“Astaga.” Terpaan dinginnya AC menyadarkan keadaan Naura. Tubuh bagian atasnya penuh dengan tanda merah yang ditinggalkan oleh Andreas disana. Dia merasa malu mengingat apa yang sudah dia lakukan beberapa jam yang lalu.
Setelah membersihkan diri Naura memutuskan untuk pergi ke restoran di sekitar penginapan. Dia sungguh merasa lapar. Tenaganya seperti terkuras habis. Baru saja membuka pintu Naura dikejutkan oleh Andreas yang sudah berdiri di depan pintu.
“Kau sudah bangun?” Naura mengangguk.
“Kakak darimana?”
“Ini.” Andreas memperlihatkan sebuah kantong plastik yang berisi makan malam mereka. Yang sebelumnya Andreas pesan saat dia ngopi di salah satu restoran dekat pantai.
“Kakak tadi pergi jalan-jalan?”
“Tidak hanya menghabiskan segelas kopi saja di cafe.”
“Kakak curang kenapa tidak mengajak diriku, padahal aku kan juga ingin nongkrong di tepi pantai.”
“Sudah jangan ngambek masih ada waktu untuk jalan-jalan besok.”
Naura masih berdiri di dekat pintu sambil bersedekap dada. Andreas sudah masuk melewati dirinya. Lelaki itu berbalik merasa lucu dengan tingkah Naura dia pun tersenyum. Kemudian menggenggam tangan istrinya untuk ikut masuk ke dalam.
“Kita makan dulu. Isilah tenagamu sebanyak mungkin.”
“Kakak ingin aku gendut? Malam-malam harus isi tenaga banyak. Untuk apa? yang ada malah akan menjadi lemak di perutku.” Keluh Naura.
“Tentu saja untuk having fun.”
"Apa???"
__ADS_1