
Andreas mengemudikan kembali mobil miliknya membelah jalanan yang sudah terlihat lengang dan sepi. Bercerita dengan Zean membuat suasana hati dan pikirannya sedikit lega. Lelaki itu benar dia harus mencari tahu dulu kebenarannya apakah bayi yang dikandung Celine benar-benar miliknya atau bukan.
Andreas menempuh perjalanan cukup singkat. Dia hendak pulang karena tujuannya hanya satu menemui Naura. Andreas segera memarkirkan mobilnya setiba di depan rumah. Dengan langkah cepat lelaki itu segera memasuki rumah. Andreas mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah yang terasa sangat sepi dan remang. Lampu rumah hanya dinyalakan sebagian agar tidak gelap gulita.
“Kemana dia?” gumam Andreas yang sedang mencari sosok wanita yang dia cari.
Lelaki itu segera menaiki tangga dengan langkah cepat. Bahkan dia melangkahi dua anak tangga sekaligus untuk sampai lebih cepat ke dalam kamar. Dengan perlahan Andreas membuka pintu. Dilihatnya Naura yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk di atas ranjang.
Andreas memandang lekat-lekat wajah Naura. Lalu mendaratkan kecupan singkat di dahi istrinya kemudian membenarkan selimut yang sempat melorot ke bawah untuk menutupi tubuh Naura. Sebelum akhirnya lelaki itu berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena tubuhnya sudah lengket dan bau keringat. Setelah berganti pakaian Andreas dengan perlahan mulai naik ke atas tempat tidur. Tidak berniat untuk membangunkan Naura yang sudah tertidur lelap. Diapun naik sambil merangkak agar tidak menimbulkan guncangan pada tempat tidur.
Andreas menyingkirkan rambut Naura yang menutupi sebagian wajahnya. Dipandangi wajah istrinya itu. Bibir yang berwarna merah jambu dan alis tebal serta bulu mata yang lentik menjadi daya tarik tersendiri bagi Andreas untuk berlama-lama memandang wajah istrinya nan ayu.
“Apa ini? Air mata? Apa dia baru saja menangis?” Andreas menghapus sisa air mata yang masih menempel di sudut kiri mata Naura dengan jari telunjuknya.
Pikiran Andreas berkelana mungkinkah Naura menangis karena dirinya yang pergi meninggalkan dia begitu saja setelah dia mendapatkan hak nya sebagai suami. Jika benar dia harus menjelaskan masalah ini besok dengan Naura. Agar tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka.
Cukup lama berkutat dengan pemikirannya akhirnya Andreas mulai tertidur karena malam sudah larut. Dan tubuhnya juga terasa lelah.
**
Mentari yang sudah naik dari peraduannya mulai memancarkan cahayanya untuk menyinari bumi. Tak terkecuali kamar Andreas. Silau cahaya yang masuk melalui jendela kamar yang sudah disingkap gordennya membuat tidur Andreas terusik. Laki-laki itu menyibak selimut. Saat hendak turun dia baru menyadari sisi ranjangnya sudah kosong dan terasa dingin. Itu artinya Naura sudah bangun sedari tadi.
Setelah membersihkan diri Andreas bersiap berangkat ke kantor. Lelaki itu turun ke bawah untuk sarapan dan mencari seseorang disana. Namun tidak dia temukan. Sebab kenyataanya Naura sudah berangkat kerja saat dirinya masih tertidur. Penjelasan itu dia dapat dari bibi yang tadi melihat kepergian Naura.
“Maaf tuan, boleh bibi bertanya?”
__ADS_1
“Kenapa bi?” jawab Andreas mulai menggigit sandwich ke dalam mulutnya.
“Apa tuan bertengkar dengan non Naura?” pertanyaan bibi membuat Andreas berhenti mengunyah. Diiringi dengan kening Andreas berkerut dalam hingga kedua alis tebal milik lelaki itu hampir menyatu.
“Apa kami terlihat seperti sedang bertengkar?” tanya Andreas balik.
“Bibi pikir tuan dan nona bertengkar karena waktu sarapan non Naura lebih banyak melamun dan sesekali menghapus air matanya.” Mendengar ucapan bibi Andreas begitu terkesiap. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya.
Andreas meletakkan kembali sandwich yang baru dia gigit ke atas piring. Lelaki itu bergegas keluar tidak menghabiskan sarapan terlebih dahulu. Melajukan mobil yang sudah dipenuhi dengan hiruk pikuk kota yang padat. Membuat jalanan menjadi macet. Dan waktu tempuh menjadi lebih lama. Membuat Andreas kesal hingga beberapa kali memukul kemudi untuk meluapkan rasa kesal.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras tenaga dan waktu akhirnya Andreas tiba di kantor Naura. Bahkan dia tidak mempedulikan ponselnya yang sedari tadi berdering. Suara sepatu pantofel yang mengetuk lantai dengan cukup kencang menyita sebagian pegawai disana.
“Andreas.” Panggil papa Naura saat melihat menantunya berjalan begitu terburu-buru.
“Sedang apa kau disini?” tanya papa setelah membawa menantunya itu masuk ke dalam ruangan miliknya.
“Andreas mencari Naura pa.” lelaki paruh baya itu mendekati Andreas dan duduk di samping menantunya. Papa Naura menangkap ada sesuatu setelah dia mengamati wajah Andreas di balik kacamata tebal bening yang dia kenakan untuk membalut matanya yang sudah mulai rabun.
“Tumben, apa kalian ada masalah?” Andreas terdiam.
“Ceritalah papa akan mendengarkan.”
“Tidak pa, Andreas hanya ingin menemui Naura karena…”
“Dia pergi sebelum kau bangun?” potong papa Naura. Lelaki tua itu mengukir senyum di kulit wajahnya yang mulai terlihat keriput.
__ADS_1
“Ehmm…” Andreas mengusap-usap lehernya bingung harus menanggapi ucapan mertuanya.
“Papa mengerti, tadi pagi papa menghubungi Naura untuk menggantikan papa menghadiri rapat sebab mama sedang sakit. Awalnya dia menolak karena kau belum bangun. Namun papa sangat memohon karena itulah dia pergi bekerja pagi-pagi sekali. Dan pasti kau mencarinya karena dia tidak berpamitan denganmu saat berangkat. Maafkan papa nak sudah merepotkan istrimu.”
“Papa bicara apa. Andreas sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Andreas juga tidak keberatan jika Naura bekerja.”
“Syukurlah.” Papa Naura merasa lega dengan penuturan Andreas. Dia paham betul sekarang putrinya sudah dimiliki oleh laki-laki lain yang lebih berhak atas putrinya. Beruntungnya Andreas tidak melarang Naura bekerja sehingga perusahaan masih dapat dipimpin oleh Naura.
“Mama sakit apa pa?”
“Oh itu, semalam ada karyawan papa yang resign dan dia mengirim foto hasil usg ke ponsel papa dengan alasan dia hamil dan diminta oleh suaminya untuk berhenti bekerja. Sebelum papa buka pesan itu mama lebih dulu membukanya tanpa membaca pesan berikutnya. Hingga dia pingsan dan syok saat melihat foto hasil usg itu. Mama pikir itu adalah anak papa dari perempuan lain.”
Deg
Jantung Andreas berdetak lebih kencang. Dia teringat akan Celine. Bagaimana reaksi Naura saat tahu jika Celine hamil dengan dirinya. Namun sebelum itu terjadi dia harus segera menyelidiki Celine seperti yang dikatakan Zean.
“Andreas.” Panggil papa Naura. Membuat laki-laki itu tersadar dari lamunannya.
“Maaf pa, Andreas harus pergi sekarang.”
**
Karena Naura masih meeting Andreas memutuskan untuk pergi ke perusahaannya terlebih dahulu. Setibanya disana dia memerintahkan Zean untuk menyelidiki kegiatan Celine secara diam-diam. Dan segera melapor jika ada yang mencurigakan. Andreas tidak ingin masalah ini sampai ke telinga Naura atau keluarga besar mereka.
Sementara di kamar hotel, dua manusia masih terlelap diatas tempat tidur. Dibawah selimut yang sama keduanya saling memeluk dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang. Percintaan panas yang mereka lakukan membuat tubuh keduanya merasa lelah dan tertidur hingga siang. Karena mereka melakukan itu sampai larut malam. Bahkan baru berhenti saat subuh menjelang.
__ADS_1