
Naura tertidur setelah membersihkan diri. Bagaimana tidak dua kali dia dibuat ******* oleh Andreas di dalam kamar mandi. Tenaga lelaki itu seperti tidak ada habisnya saat menggempur dirinya dibawah guyuran shower. Dinginnya air tidak mampu meredam gairah keduanya. Hingga satu jam lebih mereka melakukan itu di dalam kamar mandi. Membuat tubuh Naura terasa remuk redam dengan rasa nikmat yang dia terima.
Berbeda dengan Naura yang sudah memasuki alam mimpi, Celine kini tengah duduk di atas ranjang miliknya sambil bersandar di sandaran ranjang. Ia menatap lurus kedepan seolah sedang merencanakan sesuatu. Senyum terukir di wajah Celine ketika sebuah ide terlintas di pikirannya. Ide yang akan mempercepat pernikahannya dengan Andreas. Wanita itu tidak ingin berlama-lama untuk menunggu.
Keesokan harinya
Naura bangun terlebih dahulu. Meskipun tubuhnya terasa sangat lelah. Bagaimana tidak jika pagi tadi menjelang subuh Andreas kembali menghujam dirinya. Meskipun itu hanya sekali namun Andreas cukup lama bermain. Naura tidak bisa menolak dia hanya memasrahkan tubuhnya untuk suaminya sentuh. Walaupun lelah Naura tetap menikmati setiap sentuhan yang laki-laki itu berikan. Suara lenguhan panjang kembali menggema saat keduanya mencapai pelepasan bersama.
Turun dari ranjang Naura segera membersihkan diri. Setelah itu dia pergi ke dapur untuk memasak. Dia harus mengisi kembali tenaganya. Setelah semalam di kuras habis bersama dengan Andreas untuk olah raga malam di atas ranjang.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar berhasil memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepala di bahunya. Walau awalnya terkejut Naura yakin itu adalah suaminya. Yang dapat ia rasakan dari aroma parfum yang masuk ke indera penciumannya.
“Kak.” Naura merasa geli saat Andreas menempelkan bibirnya pada leher jenjang milik gadis yang kini sudah menjadi wanitanya.
Menghirup dalam-dalam aroma sabun yang baru saja Naura pakai. Aroma yang sekarang akan menjadi candunya di masa depan. “Kau wangi sekali, membuat aku…”
“Kak..” Naura sedikit mendorong tubuh Andreas saat merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana boxer yang Andreas pakai.
Sungguh dia merasa sangat lelah. Bahkan wanita itu tidak habis pikir bagaimana bisa suaminya sekuat itu. Apakah dia minum obat atau jamu sebelum melakukannya sampai-sampai tenaganya tidak pernah habis atau berkurang jika itu menyangkut urusan ranjang.
Andreas tidak marah saat Naura mendorong tubuhnya. Lelaki itu justru tersenyum dan perlahan mendekat kembali. Membuat jantung Naura berdegup kencang. Terlebih saat melihat dada bidang suaminya yang sixpack seperti roti sobek. Membuat dirinya menelan saliva dengan susah payah.
Andreas menarik pinggang Naura hingga tidak menyisakan jarak diantara mereka. Keduanya saling menatap dalam. Dapat Naura rasakan terpaan nafas Andreas yang menyapu wajahnya. Membuat tubuhnya seketika menjadi meremang.
__ADS_1
Cup
Andreas mengecup singkat bibir ranum milik istrinya. Bibir yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya .Bibir yang kini sudah menjadi candu untuknya.
“Morning kiss sayang.”
“Aku akan membersihkan diri sebelum sarapan. Ingat mulai hari ini aku akan mengantar jemput dirimu.” ucapnya seperti sebuah perintah. Andreas pun pergi setelah mendapat anggukan dari Naura.
“Huft, aku pikir dia akan melakukannya lagi disini.”
***
Seperti yang Andreas katakan, selama sebulan ini dia selalu mengantar ataupun menjemput istrinya. Meskipun terkadang dirinya lembur maka dia akan meminta Zean untuk menjemput Naura dan mengantarnya ke perusahaan. Seperti malam ini pekerjaan yang menumpuk membuat lelaki itu harus lembur.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan perusahaan Naura. Disana sudah ada sepasang manusia yang menunggu. Siapa lagi kalau bukan Naura dan Daniel. Awalnya Daniel berniat mengantar Naura namun selalu di tolak oleh wanita itu. Akhirnya pria itu memutuskan untuk menemani Naura sampai wanita itu dijemput.
“Tidak apa, Dimana Andreas?” tanya Naura yang mencari sosok suaminya.
“Dia masih di kantor. Ada beberapa pekerjaan yang tidak dapat dia tinggalkan dan harus diselesaikan malam ini juga.”
Setelah mengatakan itu pandangan Zean beralih menatap sosok laki-laki yang berdiri di samping Naura. Pun sebaliknya Daniel menatap balik asisten pribadi suami Naura tersebut. Hanya tatapan penasaran bukan tatapan tajam seperti yang Andreas berikan.
“Oh, dia Daniel. Rekan kerjaku. Daniel dia Zean asisten pribadi Andreas.” Keduanya saling berjabat tangan. Kemudian Zean membawa pergi Naura setelah sebelumnya berpamitan dan berterima kasih dengan Daniel karena sudah menemani istri bosnya.
__ADS_1
Sementara di perusahaan Andreas
“Sedang apa kau disini?”
“Tentu saja untuk menemuimu sayang.” Celine memeluk leher Andreas dari belakang saat lelaki itu masih duduk di kursi kerjanya.
“Kapan kita akan menikah?” bisik Celine di telinga Andreas dengan suara sensualnya.
Andreas memejamkan mata menarik nafas dalam-dalam. Sudah sebulan ini dia selalu memberi harapan kepada Celine bahwa dia akan segera menikahinya. Dengan maksud mencari bukti apakah anak itu anak dia atau bukan. Dan untuk melakukan tes DNA rasanya belum bisa karena kandungan Celine masih kecil. Selama hampir sebulan ini Celine tidak berhubungan dengan Stevan. Lelaki itu pergi keluar kota untuk memulai bisnis baru selama beberapa bulan. Jadi penyelidikan yang Andreas lakukan tidak memberinya kabar baik.
“Aku akan mengaturnya.”
“Selalu itu yang kau ucapkan dari sebulan lalu. Aku butuh bukti Andreas bukan janji. Dan perutku semakin hari akan semakin membesar. Apa yang akan orang lain katakan nantinya?”
“Aku butuh waktu untuk memberitahu semua keluarga tentang kehamilanmu.”
“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk itu?” tantang Celine yang sudah mulai kehabisan kesabaran.
Andreas diam. Bibir lelaki itu membisu. Pikirannya bingung. Matanya menatap wanita hamil yang berdiri di hadapannya.
“Jika kau tidak bisa mengatakannya kepada istrimu atau keluargamu maka aku yang akan memberi tahu mereka semua.” ancam Celine.
“Kau jangan macam-macam Celine.” Andreas bangkit membuat kursinya bergeser kebelakang cukup keras.
__ADS_1
Celine tidak takut justru dia tersenyum penuh arti kemudian pergi meninggalkan Andreas begitu saja. Saat sampai di ambang pintu wanita itu berbalik dan kembali berucap “ Satu minggu aku memberimu waktu satu minggu untuk menyelesaikan ini Andreas. Sudah cukup aku menunggumu sebulan ini tanpa kepastian.”
Terdengar suara pintu tertutup cukup keras. Karena Celine sengaja membanting pintu saat menutupnya. Andreas mengusap wajahnya dengan kasar. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangan dengan pikiran yang kalut.