
Satu Minggu kemudian
“Sial, tamu bulananku datang. Itu artinya aku tidak hamil anak Andreas.” Celine merasa posisinya terancam. Dia takut Andreas akan benar-benar meninggalkan dirinya. Sebab Stevan tidak mungkin mau meninggalkan Luna. Wanita bodoh itu adalah sumber harta untuk Stevan. Sama dengan Andreas yang merupakan ATM untuk dirinya bisa hidup bergelimang harta.
“Aku harus memikirkan cara lain agar Andreas tidak bisa lepas dariku.” guman Celine. Saat ini dia hanya bisa menunggu tamu bulanannya itu pergi setelah itu dia akan memikirkan cara untuk membuat dirinya bisa hamil.
Setelah mandi Celine memoles wajahnya secantik mungkin. Dia ingin pergi menemui Andreas. Selama seminggu ini Celine sering berkunjung ke kantor Andreas. Namun lelaki itu selalu membuat alasan agar dirinya tidak bisa berlama-lama disana.
Sementara di Bali
Naura bersiap untuk kembali lagi ke Jakarta setelah urusannya dengan hotel selesai. Saat berada di lobi hotel Naura bertemu dengan Daniel. Ya lelaki itulah yang ingin menjalin kerjasama dengan hotel miliknya. Dan seminggu ini dia disibukkan dengan jadwal meeting yang padat. Membuat tubuhnya terasa lelah.
“Kau mau pulang ke Jakarta?” Naura mengangguk.
“Ayo aku antar.” Daniel langsung mengambil alih koper kecil milik Naura dan menyimpan di bagasi mobil miliknya. Naura terdiam dia hendak menolak namun malas berdebat. Selama di Bali Daniel selalu menemani dirinya kemana pun dia pergi. Padahal Naura sama sekali tidak mengerti bagaimana Daniel bisa tahu dimana keberadaan dirinya.
Sepanjang perjalanan Naura lebih memilih untuk memejamkan mata. Seolah dia sedang tidur namun sebenarnya tidak. Dia hanya ingin menghindari obrolan dengan Daniel. Entah kenapa dia merasa Daniel sedikit memaksa ingin selalu dekat dengannya. Padahal dia sudah beberapa kali menolak keberadaan Daniel dengan halus.
“Daniel.” Panggil Naura dia ingin menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal dihati dari beberapa hari yang lalu.
“Iya.” Jawab Daniel menoleh sesaat menatap Naura.
“Boleh aku bertanya?”
“Tentu, aku akan dengan senang hati menjawab.”
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa tahu dimana aku berada selama di Bali?” Daniel tersenyum mendengar pertanyaan Naura.
“Tentu saja tahu. Kau selalu mengunggahnya di media sosialmu.” Naura baru ingat sejak SMA sosial media mereka memang saling mengikuti. Namun Naura tidak pernah kepo dengan sosial media temannya. Dia hanya mengabadikan beberapa momen disana. Tidak disangka selama ini Daniel selalu melihat sosial medianya.
“Aku lupa jika kita saling berteman disana.”
“Aku juga tidak tahu kau sudah menikah, sebab tidak ada pun satu momen pernikahan kalian disana. Apa kalian sengaja merahasiakan pernikahan kalian?” tanya Daniel penasaran.
Naura memilih diam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Daniel. Wanita itu kembali memejamkan mata berharap segera sampai di bandara lebih cepat. Daniel tidak menuntut jawaban dari Naura dia akan mencari tahu sendiri nanti sesampainya di Jakarta.
Beberapa menit berlalu Naura merasa mobil yang dia tumpangi sudah berhenti. TIdak ada suara mesin mobil menyala. Ternyata Daniel sudah keluar untuk mengambilkan koper miliknya. Naura pun segera melepas seatbelt dan keluar dari mobil.
“Kau sudah bangun.” Naura mengangguk.
“Terima kasih.” Ucap Naura kemudian mengambil alih koper miliknya yang sebelumnya berada di tangan Daniel.
“Sampai bertemu kembali di Jakarta.” Daniel tersenyum sambil melambaikan tangan ke Naura yang mulai memasuki area bandara. Wanita itu tidak membalas ucapan, senyum ataupun lambaian tangan Daniel. Dia hanya menoleh ke belakang sebentar kemudian melanjutkan langkahnya.
Dua jam berlalu
Andreas masih betah saja di rumah padahal dia ada meeting siang ini dengan klien setelah jam makan siang.
“Jangan lupa datang ke tempat yang sudah aku share dan jangan terlambat. Ini klien penting.” Itulah pesan yang baru saja dikirim oleh asisten pribadinya.
“Iya, kau itu cerewet sekali.” Jawab Andreas lewat voice note. Dia terlalu malas untuk mengetik sebuah pesan.
__ADS_1
Naura tiba di rumah. Dia sudah tidak tahan untuk segera beristirahat. Naura terlihat lelah dia tidak menyadari keberadaan Andreas dan melewati suaminya begitu saja.
Andreas merasa Naura tidak sopan kepadanya. Seolah dirinya tidak kasat mata. Hingga dia lewati begitu saja tanpa menegur dirinya. Hal itu membuat Andreas marah. Dia menarik lengan istrinya dengan kasar. Hingga membuat Naura berbalik arah karena terlalu kuatnya tarikan tangan Andreas.
“Kau pikir aku hantu yang tidak kasat mata? Dimana letak sopan santunmu? Apa kedua orang tuamu tidak mengajarimu?” sungut Andreas yang sudah terlalu emosi dengan Naura. Entah emosi karena seminggu ini istrinya tidak memberi kabar atau emosi karena rindu. Yang jelas Andreas merasa kesal saat Naura tidak menegurnya.
“Lepas.” Naura menghempas tangan Andreas hingga terlepas dari lengannya. Dia yang sudah lelah kini menjadi emosi karena perkataan Andreas.
“Orang tuaku selalu mengajariku sopan santun dengan baik. Aku hanya melakukan apa yang sudah kita sepakati sebelumnya.” Andreas tidak menjawab perkataan Naura karena asistennya juga sudah mengingatkannya akhir-akhir ini.
Naura hendak melangkahkan kakinya kembali. Namun dicekal oleh Andreas. Lelaki itu mencengkeram kedua bahu Naura dengan kuat namun tidak sampai menyakiti istrinya. Andreas menatap lekat-lekat wajah Naura yang juga menatapnya. Mata Naura terlihat sendu dia sungguh lelah hingga rasa untuk melawan tidak ada. Dia pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Andreas. Andreas mendekatkan tubuhnya tangan kiri memegang pinggang Naura tangan kanan memegang tengkuk Naua untuk mencium bibir ranum yang seminggu ini dia rindukan.
Naura diam mematung. Dia tidak melawan dan tidak membalas dia hanya memejamkan mata merasakan bibir Andreas yang ******* bibirnya dengan kasar.
Bulir bening jatuh membasahi lengan Andreas. Menyadarkan apa yang baru saja dia lakukan. Dengan cepat Andreas melepaskan pagutan bibirnya. Dia menghapus air mata yang menetes di pipi Naura dengan ibu jarinya.
“Maaf.” Naura membuang pandangannya mendengar permintaan maaf Andreas. Dia pun berbalik badan menuju kamar meninggalkan Andreas. Wanita itu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dengan kaki yang masih menjuntai di lantai. Beberapa menit kemudian wanita itu terlelap tanpa melepas sepatunya.
Pukul 11.30
Andreas sebenarnya malas ke kantor namun karena ada pertemuan penting yang mengharuskan dirinya untuk datang. Diapun hendak bersiap. Andreas yang bekerja di ruang tamu sering kali menatap ke arah tangga. Dia tidak melihat tanda-tanda Naura yang keluar dari kamar sejak kejadian tadi pagi.
Ceklek
Andreas membuka pintu dengan sangat pelan. Dilihatnya Naura yang tertidur dengan kaki menjuntai dan sepatu yang masih membalut kaki Naura. Dia mendekat ke arah ranjang kemudian melepas satu per satu sepatu itu tanpa mengusik tidur Naura. Kemudian menaikkan kaki Naura secara perlahan ke atas tempat tidur. Dan menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut. Setelah itu dia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kantor.
__ADS_1