
Sepuluh hari kemudian
“Terus honey, goyanganmu sungguh nikmat. Sudah seminggu aku tidak merasakan ini.” Stevan menyeka keringat di kening Celine yang berada di atas tubuhnya. Kemudian tangannya beralih memainkan dua benda yang menggantung indah di depan mata. Membuat Celine merem melek merasakan pijatan dan ******* di kedua aset miliknya.
Celine terus bermain dengan Stevan di hotel selama tiga hari berturut-turut. Dia ingin segera hamil. Oleh karena itu saat selesai menstruasi dan sedang dalam masa subur Celine terus meminta Stevan untuk memberinya benih. Agar tumbuh berkembang di rahimnya. Dengan senang hati Stevan melakukan itu terlebih tiga hari yang lalu Luna kembali pergi ke luar negeri.
“Aku keluarkan lagi di dalam?” Celine mengangguk kemudian Stevan mengambil alih olah raga yang memberikan mereka kenikmatan dunia.
“Honey aku sudah mau keluar, ayo bareng supaya dia cepat tumbuh di rahimmu.” Celine mengangguk dia juga sudah mencapai puncaknya. Dengan mempercepat tempo permainan keduanya pun mencapai kepuasan bersama. Semburan lava putih yang banyak dan kental memenuhi lubang milik Celine. Nafas keduanya terengah-engah, Stevan menjatuhkan dirinya disamping Celine. Setelah sebelumnya memberikan ciuman di bibir wanita yang selalu memberinya kepuasan batin.
“Terima kasih.” Tangan Stevan masih masih meraba dan bermain di tubuh Celine yang masih polos.
“Nakal.”
“Lagi.”
“Istirahat dulu.”
“Tapi dia tidak mau istirahat.” Stevan memperlihatkan senjatanya yang masih berdiri tegak. Tanpa menunggu persetujuan dari Celine, Stevan kembali menyerang wanita itu hingga berjam-jam lamanya. Sampai tenaga keduanya habis terkuras untuk melakukan kegiatan yang membuat tubuh keduanya melayang seperti di surga.
Tubuh keduanya ambruk bersama saat mencapai puncak ******* untuk kesekian kali.
“Kau memang selalu menjadi yang terbaik honey.”
“Tentu , ini demi rencanaku.”
“Dan senang hati aku akan membantumu.” Bagaimana tidak senang jika bantuan yang diminta oleh Celine adalah menunggangi tubuh wanita itu.
“Kau yakin dengan rencanamu?”
“Tentu saja, hanya ini yang bisa aku gunakan untuk mengancam Andreas. Lelaki kuno itu sudah menaruh perhatian dengan istrinya. Aku yakin lama-lama dia akan jatuh cinta dengan istrinya. Terlebih dia lebih muda dariku.”
__ADS_1
“Dan tentunya lebih cantik.” ucap Stevan dalam hati. Mereka bertemu di mall saat sepasang suami istri itu pergi membeli perhiasan. Dari jauh saja sudah terlihat wajah wanita itu yang putih bersinar diantara penguntung toko yang lain. Bentuk tubuhnya yang ideal membuat Stevan juga ingin menikmatinya.
“Sudahlah aku ingin mandi, perutku sudah lapar karena kau kuras seluruh tenagaku.”
“Tapi kau menikmatinya kan?” Stevan mengedipkan sebelah matanya menggoda Celine. Wanita itu tidak menjawab. Dia menyibak selimut yang menutupi tubuh polos keduanya dan berjalan dengan santai menuju kamar mandi.
Stevan mengikuti langkah Celine dengan diam. Saat pintu kamar mandi hendak ditutup kaki Stevan menghalanginya. Celine terkejut sejak kapan lelaki itu ada dibelakangnya.
“Kau mau apa?” tanya Celine memutar bola matanya malas. Dia tahu apa yang ingin dilakukan oleh Stevan. Sebab bukan kali pertama dia mengikuti dirinya seperti ini.
Stevan tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
“Ayo aku bantu kau mandi.” Gemericik suara air tidak mampu mengalahkan suara nyanyian indah keduanya yang lagi-lagi melakukan penyatuan tubuh dengan tempat yang berbeda. Celine benar-benar kesal kali ini. Bagaimana tidak Stevan tidak cukup hanya sekali keluar. Bahkan Celine sudah merasa kedinginan sudah lebih dari sejam dia di dalam kamar mandi dengan adegan plus-plus yang dilakukan oleh Stevan.
‘Kau membuatku hampir pingsan.” Gerutu Celine setelah selesai membersihkan diri. Stevan hanya tertawa kecil menatap Celine.
“Apa kau sedang menggodaku?” Celine melihat arah pandang Stevan yang masih berendam di dalam bath up. Celine tidak sadar dia keluar dari bath up tanpa memakai apapun. Memperlihatkan tubuh polosnya dengan dua aset yang menggantung di depan. Dan sedikit bergoyang akibat gerakan Celine.
“Dia benar-benar maniak.” Celine memungut semua baju dan membuangnya ke dalam tempat sampah karena baju itu sudah tidak layak pakai.
***
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Langit pun berubah warna dari biru menjadi gelap. Dengan bintang-bintang yang bertaburan menghiasi malam ini. Tidak ketinggalan bulan sabit yang memperindah luasnya langit malam. Naura ingin segera sampai rumah namun kemacetan jalan yang dia lalui membuatnya sedikit jenuh. Andreas duduk santai mengemudi di samping Naura.
Semenjak ucapan mamanya yang ingin segera memiliki cucu Andreas dan Naura memutuskan untuk memperbaiki hubungan mereka dengan menjadi teman. Andreas ingin melakukan pendekatan dan pengenalan secara perlahan dengan Naura. Salah satunya dengan mengantar jemput Naura. Awalnya Naura menolak karena tidak ingin merepotkan Andreas.
“Naura.”
“Iya.” Naura menjawab Andreas tanpa memandang ke arah lelaki itu. Dia lebih memilih melihat kemacetan di luar yang menghiasi jalanan dengan lampu-lampu kendaraan yang memadati jalanan.
“Ayo kita liburan. Bukankah minggu ini kantor libur 3 hari.” Pemerintah memutuskan menambah cuti bersama untuk menyambut perayaan Idul Adha.
__ADS_1
“Kemana?”
“Kau ingin kemana?”
“Ehm.” Naura mengusap-usap dagunya. Mencari tempat yang asik untuk berlibur di dalam pikirannya.
“Bagaimana kalau taman hiburan?” ajak Andreas. Naura tertawa kecil mendengar ide yang baru saja diucapkan oleh lelaki dewasa di sampingnya.
“Kok ketawa?” Andreas menautkan kedua alisnya melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Naura.
“Apa masa kecil kakak kurang bahagia hingga harus ke taman hiburan?”
“Tidak juga, banyak kok orang-orang dewasa yang pergi kesana bukan hanya anak kecil saja.”
“Aku tidak mau, bosan.” Sebab sedari kecil setiap akhir minggu Naura selalu diajak kedua orang tuanya untuk pergi ke taman hiburan.
“Lalu, kau mau kemana?”
“Tiga hari ya…” Naura menjeda kalimatnya. Kemudian menatap wajah Andreas yang sedang fokus mengemudikan mobilnya di jalanan yang padat merayap.
“Bagaimana kalau ke pantai?”
“Pantai??”
“Iya , tiga hari cukup untuk berlibur ke pantai. Kita juga bisa menginap di hotel yang pemandangannya pantai. Pasti akan menyejukkan mata dan lebih menyenangkan.” Naura memejamkan mata membayangkan dirinya duduk di tepi pantai menikmati deburan ombak yang menari-nari di bibir pantai. Ditemani dengan es kelapa muda yang menyegarkan tenggorokan.
Namun apa yang di bayangkan Naura tidak sama dengan apa yang ada dalam pikiran Andreas. Lelaki itu tersenyum membayangkan mereka akan satu kamar dalam hotel. Ini akan lebih baik untuk hubunganya dengan Naura agar naik satu level.
Hallo temen-temen pembaca yg baik hati tolong tinggalkan like atau komen kalian ya. Dan kalo mau masukan ke daftar buku favorit kalian ya agar novel author dapat segera di kontrak oleh noveltoon/mangatoon.
Terima kasih sudah membaca karyaku yg masih jauh dari sempurna ini🤗🤗🙏🙏
__ADS_1