
“Naura.” Suara laki-laki yang sangat dia cintai memanggil dirinya yang hendak naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
Langkah kaki Naura berhenti. Menoleh ke sumber suara. Terlihat suaminya mendekati dirinya. Menuntun lengan Naura untuk mengikuti langkah kaki lelaki itu. Di sofa ruang tamu mereka duduk berdampingan. Andreas menggenggam tangan istrinya dengan erat. Sesaat lelaki itu menarik nafas panjang. Kemudian memandang lekat-lekat wajah istrinya yang juga sedang menunggu apa yang ingin Andreas lakukan.
“Sayang aku bisa jelaskan semuanya.” Sesaat Andreas menjeda ucapannya. Tidak ada reaksi apapun dari Naura Andreas kemudian melanjutkan ucapannya.
“Beri aku waktu untuk membuktikan jika anak yang dikandung oleh Celine bukanlah anak kakak. Percayalah padaku Naura.”
“Bagaimana kakak bisa yakin jika itu bukan anak kakak?” Andreas terdiam. Dia juga bingung sebab tidak ada bukti nyata yang menyatakan jika itu bukanlah anak dia dan Celine.
Naura tersenyum kemudian melepaskan genggaman tangan Andreas.
“Kakak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Celine bukan, jadi besar kemungkinan itu benar anak kakak. Jika dia hanya melakukan itu dengan kakak.” Naura berusaha tegar membayangkan suaminya menyentuh dan meniduri wanita lain.
“Tetapi aku dijebak Naura. Celine memberikan obat perangsang di minuman kakak. Dan mau tidak mau kakak harus melakukan itu dengan terpaksa. Bukan atas kemauan suka sama suka.”
“Meskipun terpaksa kalian sudah melakukan itu dan sudah ada hasilnya.”
“Tapi Naura…”
“Kak, tadi siang Naura sudah mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Naura tidak marah dengan kakak. Naura ikhlas kakak bersama wanita itu. Anak itu tidak bersalah kak. Dia berhak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya. Dan semoga kakak juga akan setuju dengan keputusan Naura.”
__ADS_1
“Tidak.” tegas Andreas.
“Kita tidak akan pernah bercerai. Dan aku akan membuktikan jika anak itu bukanlah anak kakak.” Entah mengapa jauh di lubuk hati Andreas merasa anak itu bukanlah darang dagingnya.
Setelah mengatakan itu Andreas pergi ke ruang kerjanya. Meninggalkan Naura yang masih duduk di sofa. Memandang lelaki itu hingga menghilang di balik pintu.
Air mata yang sedari tadi Naura tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Sejujurnya dia juga ingin mempertahankan pernikahan ini. Namun dia tidak boleh egois. Dia harus memikirkan kebahagiaan orang lain. Terutama kebahagiaan Andreas, suaminya.
Di dalam ruang kerjanya Andreas menerima sebuah pesan masuk. Sebuah foto yang menampakkan Celine dengan seorang pria. Dia menghubungi nomer pengirim. Dan langsung tersambung dengan si pengirim pesan.
“Iya bos.”
“Di hotel bos.”
“Kirim lokasinya sekarang padaku. Dan cari tahu di kamar mana mereka check in.”
“Baik bos.” Sambungan terputus.
Andreas mengambil kunci mobil. Kemudian keluar, saat sampai di ruang tamu dia tidak melihat istrinya. Andreas pergi ke kamar. Sesaat dirinya terpaku saat melihat istrinya hanya memakai handuk yang melilit di sebagian tubuhnya.
Naura tidak menyadari kedatangan Andreas. Karena tubuh Naura menghadap kearah yang membelakangi pintu kamar. Handuk ia tanggalkan karena ingin memakai piyama tidur. Sebuah tangan melingkar di perutnya membuat Naura terkejut.
__ADS_1
“Apa kau habis mandi?” tanya Andreas dengan suara parau. Hasratnya mulai naik terlebih tangannya sudah meraba-raba perut hingga perlahan naik ke atas. Berhenti di dua aset yang menggantung indah. ******* keluar dari bibir Naura saat tangan lelaki itu bermain disana.
Naura terbuai dengan sentuhan Andreas. Dia memasrahkan tubuhnya pada suaminya. Mungkin ini terakhir kali dia melayani Andreas. Biarlah lelaki itu menikmati tubuhnya dengan puas. Andreas bermain dengan begitu lembut. Dan Naura sangat menikmatinya. Dengan perasaan ikhlas dan pasrah dia melakukan itu. Pun dengan Andreas yang merasa senang karena meskipun mereka sedang ada masalah Naura tidak menolak untuk memberikan hak Andreas.
Suara nyanyian dua tubuh yang saling menyatu terdengar begitu merdu. Menambah semangat mereka untuk memadu kasih. Menyalurkan cinta untuk merengkuh kenikmatan dunia. Dua kali mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersama-sama. Keringat dan peluh sudah membasahi tubuh keduanya. Andreas mencium kening Naura cukup lama. Deru nafas masih saling memburu. Keduanya masih dalam keadaan polos dan saling memeluk di atas ranjang.
“Terima kasih sayang.” ucap Andreas.
“Emm.” jawab Naura dengan mata yang terpejam dengan kepala yang bersandar pada bidang dada suaminya.
“Maaf kak mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk terakhir kalinya.” Gumam Naura dalam hati.
“Astaga kakak harus pergi sekarang.” Andreas teringat jika dia harus pergi ke sebuah hotel sebelum terlambat.
“Kakak mau kemana?” tanya Naura menegakkan tubuh pada sandaran ranjang dengan tubuh polos yang berselimut sampai dada.
“Kakak akan buktikan jika itu bukan anak kakak. Karena kakak hanya ingin anak dari rahimmu bukan wanita lain.” Andreas pergi namun sebelum itu dia mengecup sekilas bibir istrinya.
“Rahimku.” Naura membelai lembut perutnya. Dan tanpa terasa air mata kembali mengalir di kedua sudut matanya. Membayangkan betapa dia akan sulit untuk bisa mengandung.
Turun dari ranjang Naura kembali membersihkan diri di dalam kamar mandi. Dia kemudian memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Dia sudah memutuskan untuk pergi besok. Yang terpenting dia sudah menandatangani surat pengajuan perceraiannya dengan Andreas. Dia berharap keputusan yang dia ambil tidak salah.
__ADS_1