Enam Bulan Menikah

Enam Bulan Menikah
Bab 37


__ADS_3

Hari berganti malam raja siang pun kembali ke peraduan. Langit biru yang cerah mulai berubah menjadi jingga hingga lama kelamaan berwarna gelap. Bintang pun mulai bermunculan. Bertaburan di langit menghiasi angkasa. Menemani sang rembulan yang bersinar sempurna.


Zean memasuki ruangan Andreas. Dilihatnya Andreas sedang membaca beberapa berkas yang masih menumpuk. Dia tidak menyadari kedatangan Zean. Hingga lelaki itu terkejut saat Zean membuka suara.


“Kau belum pulang?” Andreas berdecak kesal sambil menatap tajam ke arah Zean.


“Sorry.” Zean menahan tawa ketika melihat ekspresi Andreas yang terkejut karena terlalu fokus pada pekerjaan.


“Kau tidak lihat ini. Apa saja yang kau kerjakan hingga pekerjaanku sampai menumpuk seperti ini?” seru laki-laki itu sambil mengangkat salah satu berkas yang dia pegang.


“Kenapa kau menyalahkan ku? Semua berkas itu membutuhkan tanda tanganmu bukan tanda tanganku.”


“Apa ada hasil?” tanya Andreas.


“Anak buahku melihat seorang lelaki keluar dari apartemen Celine. Namun tidak jelas siapa lelaki itu sebab dia memakai jaket untuk menutupi tubuhnya. Serta topi dan masker untuk menutupi wajahnya.” Zean melaporkan hasil penyelidikannya hari ini. Sesuai dengan apa yang dilihat oleh orang suruhannya.


“Cari tahu siapa lelaki itu.” Perintahnya penuh dengan ketegasan.


Andreas memutuskan untuk pulang setelah selesai dengan pekerjaannya. Hari ini sungguh melelahkan. Sepanjang hari disibukkan dengan pekerjaan hingga dia tidak sempat untuk pergi menemui Naura kembali.


Malam sudah larut saat dirinya sampai di rumah. Dia pikir Naura sudah ada di rumah. Namun sayangnya mobil milik Naura tidak terlihat yang artinya istrinya sampai detik ini belum kembali.


Andreas memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Rasanya dia sudah lengket dan bau keringat. Satu jam berlalu hingga suara deru mesin mobil berhenti tepat di halaman rumah. Dia yakin itu pasti Naura. Dan dugaannya benar itu memanglah Naura. Namun ternyata wanita itu tidak sendirian. Dia terlihat diantar oleh Daniel.


“Terima kasih Daniel.”


“Kau tidak mempersilahkan aku untuk mampir?”


“Ini sudah larut malam sebaiknya kau pulang saja.” Daniel sedikit kecewa karena merasa diusir oleh Naura.

__ADS_1


“Baiklah tapi lain kali kau harus mengajakku minum teh di rumahmu.” Kemudian Daniel mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah Naura.


“Dari mana kau jam segini baru pulang?” ada kilatan kemarahan di kedua mata Andreas saat bertanya. Hatinya terasa terbakar saat mendapati istrinya diantar pulang oleh laki-laki lain.


“Tentu saja aku baru pulang dari perusahaan.” Ucap Naura sambil berlalu menuju kamar.


Naura melempar tasnya ke atas kasur. Mendudukkan diri di tepi ranjang. Memejamkan kedua matanya mengingat kejadian yang baru saja dia alami. Saat mobilnya tiba-tiba saja mogok di tengah jalanan yang sangat sepi. Beruntung ada Daniel yang sedang melintas sehingga dia selamat. Kalau tidak dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dilecehkan oleh dua orang pria berbadan besar dengan tatto di sekujur tubuh mereka. Membayangkan saja membuat tubuh Naura bergidik ngeri.


“Tidak tidak tidak.” Naura menggelengkan kepalanya berkali-kali saat mengingat kejadian tadi.


“Apanya yang tidak?” suara itu membuat Naura membuka mata dan melihat Andreas sudah berada di dalam kamar.


“Tidak ada.” jawab Naura sedikit malas. Dia masih kesal dengan Andreas kemarin saat lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya setelah bercinta. Seolah dirinya seperti seolah ****** yang habis dipake lalu ditinggalkan begitu saja.


Naura bangkit ingin ke kamar mandi. Namun secepat kilat tangan Andreas menahan tubuh Naura. Membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Naura memberontak untuk dilepaskan. Namun Andreas tidak mengindahkan permintaan istrinya. Dia semakin kuat memeluk Naura tidak ingin istrinya terlepas saat terus bergerak.


“Kenapa kau bisa bersamanya?” pertanyaan Andreas membuat Naura menghentikan gerakannya. Pasti yang dimaksud adalah Daniel.


“Beruntung Daniel melintas disaat yang tepat. Kalau tidak dua preman itu pasti sudah….” Naura tidak dapat melanjutkan ucapannya. Saat teringat kedua pria itu ingin menjamah tubuhnya.


Andreas mengendurkan pelukannya. Membelai lembut punggung Naura yang mulai terisak. Kemarahan yang sempat menyelimuti hatinya kini berubah menjadi rasa bersalah. Tidak dapat melindungi dan menjaga istrinya.


Andreas menghapus setiap buliran air mata yang jatuh membasahi kedua pipi istrinya. Kemudian membawanya kembali ke dalam pelukan. Memberikan rasa nyaman disana. “Maafkan aku.” Cicitnya.


“Sudahlah lepaskan aku.”


“Tidak sebelum kau memaafkanku.”


“Kenapa kau meminta maaf?”

__ADS_1


Andreas menyandarkan kepalanya di bahu Naura. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang wangi meskipun sudah bercampur dengan keringat. “Kemarin Celine datang dan aku meninggalkanmu dengannya tanpa berpamitan denganmu terlebih dahulu. Saat aku pulang dan ingin menjelaskan kepadamu kau sudah tertidur dan aku tidak tega membangunkan dirimu yang sepertinya terlihat lelah. Keesokannya saat aku bangun kau sudah tidak ada dan aku pikir kau marah.”


“Dan maaf aku tidak ada disampingmu saat kau membutuhkan bantuan.”


Naura merasakan hembusan nafas Andreas yang menyentuh kulit lehernya. Membuat tubuh Naura meremang. Terlebih saat tangan Andreas mulai masuk ke dalam baju miliknya untuk membelai lembut pinggangnya.


“Kau mau kan memaafkan ku?” ucapnya parau seakan menahan sebuah rasa yang saat ini sedang meletup-letup.


“Aku memaafkan mu sekarang lepaskan aku.” Ya bagaimana bisa Naura marah dengan lelaki yang sangat dia cintai.


“Sungguh, kau tidak marah lagi padaku?”


“Aku tidak pernah marah padamu kak. Hanya sedikit kecewa saja.” Tatapan mata Andreas penuh penyesalan. Dia masih belum tenang dengan masalah kehamilan Celine. Jika benar itu miliknya dia akan menjelaskan perlahan kepada Naura.


Namun saat ini tatapan matanya begitu mendamba pada istrinya. Hingga tanpa bisa ditahan laki-laki itu menempelkan bibirnya diatas bibir ranum milik Naura. Cukup lama saling menyesap rasa manis bibir hingga terlepas untuk sama-sama menghirup oksigen di udara. Untuk memenuhi kembali pasokan oksigen di rongga paru-paru mereka.


“Mulai sekarang aku akan mengantar jemput dirimu.” Setelah mengatakan itu Andreas menyesap kembali rasa manis bibir Naura yang menjadi candu baginya.


Hingga perlahan membawa tubuh Naura untuk berbaring diatas ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Andreas mulai membuka kancing baju Naura satu per satu kemudian membuangnya ke lantai. Tangan Andreas berhasil membuka pengait b*ra yang sedari tadi membungkus kedua aset milik Naura.


Saat tangannya mulai bergerilya Naura menahan gerakan lelaki itu. Membuat Andreas memicingkan mata.


“Kenapa?” tanyanya dengan wajah sendu yang berselimut gai*rah.


“Aku belum mandi dan bau keringat kak. Bolehkah aku mandi terlebih dahulu?” pintanya.


Andreas bangkit dari tubuh istrinya. Terlihat senyum nakal di wajah Andreas. Kemudian dia menggendong Naura menuju kamar mandi. Awalnya Naura terkejut namun membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya.


“Ayo mandi bersama.”

__ADS_1


“HAH!!”


__ADS_2